Antara Keramaian dan Kekacauan

 In Ulasan

Semua gelaran pada dasarnya memiliki tujuan. Ia bergerak menuju target yang sudah ditentukan, atau justru bergerak ke arah yang tak terduga. Ia juga menimbulkan reaksi kepada suatu pihak yang nantinya akan menciptakan suatu siklus, atau bisa juga tidak akan ada siklus sama sekali. Pameran seni rupa pada khususnya adalah salah satu dari bentukan tersebut. Ia memiliki tujuan dan akan bergerak secara sendirinya menuju suatu pusat, dengan reaksi dari apa yang bersinggungan di sekitarnya.

Pada 2 November hingga 10 Desember lalu, di Jogja National Museum tepatnya, diselenggarakan pameran besar dua tahunan, yaitu Biennale Jogja. Sedikit tentangnya, gelaran ini merupakan salah satu biennale di Indonesia yang pertama kali diselenggarakan pada 1988 dengan nama Biennale Seni Lukis Yogyakarta (BSLY), kemudian mengalami perubahan pada tahun 2003 di mana sistem yang terbentuk mengarah pada yang kita kenal kini.

Pada 2011, Yayasan Biennale Yogyakarta mencanangkan sebuah proyek panjang dengan tema ekuator sebagai garis besarnya. Indonesia, terkhususnya Yogyakarta, bekerjasama dengan negara atau kawasan di wilayah garis ekuator yang bertujuan untuk mendobrak konvensi biennale pada umumnya, membuka perspektif baru dalam kancah seni rupa global, serta membangun jejaring antar wilayah ekuator. Proyek ini rencananya akan berlangsung hingga 2021 dan akan ditutup dengan Konferensi Equator pada 2022.

Biennale Jogja Equator #3 telah mempertemukan Indonesia dengan Nigeria, Afrika. Pada edisi keempat ini, Indonesia dipertemukan dengan Brasil, negara dengan keadaan masyarakat yang hampir sama dengan Indonesia. Dengan tema “Stage of Hopelessness,” seniman dari dua negara ditantang untuk menyampaikan harapan (hope) di tengah ketidakteraturan dan kekacauan (hopelessness) yang tengah terjadi di berbagai negara, terutama di Indonesia dan Brasil. Di sinilah upaya menyampaikan harapan lewat karya kepada publik diuji. Namun, tantangan terbesarnya bukanlah cara seniman menyampaikan harapannya melalui karya, melainkan masyarakatnya yang menjadi sasaran sang seniman, karena dalam pandangan penikmatnya, seni dapat berubah dan bergeser baik secara fungsi dan makna. Perubahan yang entah bisa bergeser sedikit, atau justru melenceng jauh dari benang merah pamerannya.

Menjadi orang biasa

Dalam upaya membaca pameran ini, hal pertama saya lakukan adalah menggeser diri menjadi remaja biasa yang tumbuh dalam era keterbukaan di mana kehadiran saya dalam pameran ini merupakan bentuk simbiosis yang menguntungkan pamerannya, karena saya merupakan satu dari jumlah total 40.000+ pengunjung pameran tahun ini. Saya akan terkagum pada karya-karyanya, mengeluarkan handphone untuk mengambil beberapa foto, lalu mengunggahnya di media sosial untuk menaikkan pamor saya, lalu cukup.

Hal ini secara nyata terjadi. Saya akan menjadi bagian dari orang yang melupakan beberapa aturan pameran, mengabaikan caption, tidak mencaritahu baik senimannya, judulnya, atau bahkan konsepnya. Padahal, konsep yang tertera menjembatani antara karya dan saya. Namun hal ini hilang.

Bila hal itu terjadi pada saya, maka saya pasti akan meninggalkan caption tersebut dan langsung menuju karya Farid Stevy Asta yang berbentuk tulisan-tulisan, curhatan-curhatan atau bualan-bualan yang memenuhi lorong lantai dasar Jogja National Museum, mengambil beberapa foto, dan membaca beberapa tulisan setiap teks yang ada. Teks-teks ini merupakan kumpulan tulisan dari warganet dengan jumlah yang mencapai 1.223 menurut postingan Farid di Instagram pada 29 Oktober 2017 lalu.

Atau bila pada lorong lantai dasar penuh, saya akan bergeser ke ruang sebelah kiri di mana instalasi Aditya Novali, “When I Google Ahok”, membius beberapa mata pengunjung. Tak kalah ramai, karya Timoteus Anggawan Kusno juga membuat beberapa pengunjung mengantre demi mengabadikan karya tersebut. Keramaian ini pun tidak hanya terjadi di lantai dasar, karena karya interaktif Indieguerillas x Ari WVLV yang terletak di lantai dua, juga riuh rantah hingga susah bernafas.

Keramaian ini datang dari rasa haus pengunjung untuk terus menerus selfie. Hal ini pula yang menyebabkan karya agak sulit untuk diawasi, bukan berarti tidak ada kewaspadaan. Karya seni piksel Narpati Awangga, yang tak kalah ramai oleh pengunjung yang berfoto di depannya, cukup harus diwaspadai karena bentuknya yang serba kecil.

Jika saya menjadi orang biasa yang datang untuk melihat kecantikan visual, saya akan menganggap kalau karya-karya yang disuguhkan tak cukup berat dan tidak mengharuskan saya untuk membaca konsepnya, namun saya kembali bertanya, “Bagaimana dengan karya-karya yang cenderung konseptual?” Mengambil contoh dari karya Faisal Habibi, yang meletakkan sisa-sisa potongan besi menjadi sebuah bentuk baru, atau karya Rodrigo Braga, yang melalui tampilan video, menampilkan mitos Pulung Gantung di Gunung Kidul, serta perbedaan pandangan akan kematian antara orang Barat dan Timur. Karya-karya seperti ini lebih menimbulkan tanya.

Lalu berpikir

Jika hendak memahami harapan atau respons seniman terhadap kekacauan dan ketidakteraturan dunia, saya harus berupaya lebih ketimbang datang untuk sekadar menikmati visual. Lantas, saya menggeser peran saya sebagai penulis. Selain menempatkan diri sebagai orang yang hidup di tengah-tengah masyarakat yang beragam, saya juga harus menempatkan diri sebagai mahasiswa di bidang seni, karena inilah latar belakang saya.

Kekacauan, ketidakpastian dan ketidakteraturan yang terjadi di dunia, hal yang kemudian diinterpretasi oleh seniman-seniman yang mewakili Indonesia dan Brasil, merupakan bahasan yang menarik. Seperti karya Daniel Lie yang berjudul “Between a Bless and a Curse.” Ia berupaya mengaitkan sejarah pribadi dengan jejak budaya yang menghubungkan Indonesia dan Brasil, sebagaimana kedua negara ini telah membesarkannya. Ia melakukan fermentasi dalam rentetan kendi hingga dalam beberapa hari pasca pembukaan pameran bau tidak sedap bisa tercium. Bau yang terpancar seakan merepresentasikan kekacauan yang ada.

Berbeda dengan karya Cinthia Marcelle dan Tiago Mata Machado. Melalui karya video 3 seri yang dibuatnya pada 2011, 2013 dan 2016, duo seniman ini hendak menunjukkan anarki sebagai upaya untuk menggulingkan kuasa. Dalam video tersebut, sangat nampak dari apa yang coba disampaikan, bagaimana sebuah keberantakan dan ketidakteraturan berimbas dan berdampak dalam suatu siklus.

Biennale adalah tolak ukur dua tahunan terhadap perkembangan seni rupa serta wacana yang telah atau tengah terjadi saat ini. Pergeseran fungsi pameran menjadi patokan yang lain. Posisi seniman bukan hanya menjadi penyampai atau pencipta, namun ada peran penyelenggara yang juga berupaya menyampaikan makna yang tersirat secara gamblang. Sehingga perlakuan terhadap karya bukan sebatas visual, melainkan hasil dari pemikiran yang panjang dan mengendap, dan bila disesuaikan dengan tema, keberantakan dan kekacauan itu nampak, bahkan terbawa dalam ruang pamer itu sendiri, walaupun pada praktiknya beberapa karya tidak secara gamblang menunjukkan hal tersebut.

Menarik untuk melihat bagaimana segala kelas masyarakat bercampur aduk dalam ruang pamer, mengantre, dan menunggu giliran untuk mengambil foto. Upaya pemahaman dinomorduakan setelah gambar tersebut diunggah di media sosial manapun, entah sesuai dengan maksud dari seniman tersebut, entah melenceng jauh dan menghasilkan penafsiran baru. Dan kenyataan tersebut disadari oleh Indieguerillas pada postingannya beberapa minggu lalu:

“Tantangan selanjutnya adalah bagaimana ketertarikan ini dapat diarahkan menuju upaya pemahaman karya, sehingga tema bukan sekadar menjadi garis bagi karya, namun pertanyaan besar, dan penikmat mampu menjawab itu dengan karya yang mereka nikmati, mengerti, memahami dan memperlakukannya bukan sebatas objek gambar saja.”

Tulisan ini merupakan bagian dari editorial Yang Muda Membaca Biennale.

Foto: Ibrahim Soetomo

Recent Posts

Leave a Comment

Kontak Kami

Segera dibalas ya...

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

X