Arus Baru

 In Ulasan

Sejak 12 tahun silam, Jawa Timur telah menyelenggarakan enam kali perhelatan biennale. Tahun ini adalah kali yang ketujuh. Biennale Jatim 7 dilaksanakan pada 9 – 22 Oktober lalu di Galeri Prabangkara, Taman Budaya Jawa Timur. Dikuratori oleh Asy Syam dan Ayos Purwoaji, gelaran ini menyajikan tajuk “World is A Hoax” yang mengangkat fenomena-fenomena sosial yang mengejewantah di tengah masyarakat era digital. Di tingkat praksis seni rupa terkini, yang merujuk pada metode penciptaan seni, Biennale Jatim 7 telah menampilkan cara baru yang diperlihatkan melalui sajian new media art, atau seni media baru. Lebih jauh, hadirnya kebaruan media ini membuat para seniman partisipan dapat bereksplorasi secara multi-estetis, multi-dimensi dan multi-kultural. Hal ini mendorong berkembangnya inovasi media yang melahirkan arus baru dalam praktik seni rupa kontemporer di Biennale Jatim.

Terciptanya tajuk “World is A Hoax” ternyata juga masih merupakan campur tangan dari kurator Biennale Jatim 6. Djuli Jati Pambudi mengusulkan gagasan tentang “Hoax” yang kemudian disempurnakan menjadi “World is A Hoax” oleh dua kurator kali ini. Akan tetapi, perhelatan ketujuh ini berubah drastis. Jika menilik Biennale Jatim 6, begitu banyak seniman yang terlibat, baik undangan maupun hasil open call dari berbagai kalangan. Selain itu, gelaran kemarin juga menampilkan berbagai ragam karya seni baik dua dan tiga dimensi. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan Biennale Jatim 7. Gelaran kali ini hanya melibatkan 27 seniman melalui undangan tertutup, seperti Agan Harahap, Aji Prasetyo, Anton Ismail, Anwari, Beny Wicaksono sampai Cahyo Wulan Prayogo. Agaknya perbedaan tersebut akan melahirkan keunggulan dan kelemahannya tersendiri.

Biennale, dalam konteks seni rupa Indonesia, memang sangat berbeda seperti yang digelar di luar negeri. “Di sini, di Indonesia, perhelatan biennale masih diusung dengan konsep bottom up, atau dari masyarakatnya, beda dengan biennale di luar negeri yang top down, dari pemerintahnya,” ungkap Ade Darmawan. Hal tersebut sangat berpengaruh terhadap penyelenggaraannya, karena di Jawa Timur, pihak yang sangat antusias terhadap biennale hanya masyarakat dalam lingkup seni saja, bukan seperti di luar negeri yang lebih dominan pemerintahnya. Hal ini berdampak pada proses biaya yang dianggarkan. Seperti yang saya ketahui, anggaran dana untuk biennale kali ini hanya setengah dari perhelatan sebelumnya. Lantas, Biennale Jatim 7 hanya melibatkan setidaknya 20 panitia, termasuk saya sendiri, sehingga dalam prosesnya agak rumit karena para panitia mendapatkan banyak job. Meskipun begitu, prosesnya tetap berjalan cukup baik.

Lokasi pameran pun kurang mewadahi karena sempit. Hal ini berdampak pada kurangnya keamanan karya. Saya menyaksikan sendiri bagaimana pada pembukaan pameran pengunjung membeludak. Karya-karya seringkali tersentuh padahal sudah jelas ada pengingatnya, namun apa daya jika masalah utamanya adalah ruang yang kurang mewadahi. Inilah yang membuat Biennale Jatim 7 kerap dibandingkan dengan biennale lain.

Dalam upaya untuk mendekatkan diri pada masyarakat luas, sosialisasi diadakan di kota-kota yang ada di Jawa Timur, yaitu Tuban, Gresik, Malang, Pasuruan dan Jember. Tim kurator mempresentasikan strategi kuratorial dan wacana yang dibangun. Sosialisasi ini melibatkan institusi kebudayaan, kelompok-kelompok seniman, ruang kreatif, dan masyarakat umum.

Ada sedikit masalah menyangkut ‘yang tua’ dan ‘yang muda.’ Kali ini, seniman generasi 1990-an yang tumbuh dinamis mendominasi dan menggeser seniman generasi sebelumnya. Selama perhelatan berlangsung, saya jarang melihat seniman generasi tua datang menyimak, mungkin hanya beberapa seperti Mas Dibyo dan Moelyono. Bahkan, ketika saya menghadiri sebuah pameran pelukis Surabaya di Galeri Orasis, seniman-seniman yang hadir juga membincangkan masalah ini. Kemungkinan hal ini terjadi karena kurangnya komunikasi antar pihak. Pihak kurator memang memilih untuk menghadirkan seniman-seniman muda dengan tujuan untuk mewadahi pelaku muda yang dianggap mampu berkontribusi pada perkembangan seni rupa. Akan tetapi, seniman generasi tua sangat tidak sepemikiran. Biennale menjadi gelaran besar yang ditunggu-tunggu, lantas kenapa hanya menghadirkan golongan tertentu saja?

Saya sendiri cukup setuju dengan pendapat para seniman golongan tua. Memang benar jika tujuan utama dari biennale adalah untuk melihat perkembangan seni rupa di Jawa Timur, lantas, mengapa harus yang muda saja yang berkarya? Padahal lingkup seni rupa Jawa Timur sangat luas dan tidak hanya terpaku pada beberapa daerah saja. Malah cenderung seniman luar Jawa Timur yang dihadirkan. Mungkin untuk selanjutnya diperlukan sosialisasi lebih antara kurator dan seniman yang bersangkutan.

Meskipun hadir dengan sedikit masalah internal, perhelatan tetap berjalan baik. Karya-karya yang dipamerkan menggambarkan bagaimana pikiran manusia telah dipenuhi citra imaji yang bersifat imitatif, serta merefleksikan bagaimana hoax hadir secara visual dan tekstual di tengah kita. Para seniman hadir untuk menciptakan hoax-nya sendiri. Terdapat kurang lebih 2000 orang yang berkunjung, dan kebanyakan dari mereka termakan oleh hoax yang dihadirkan melalui karya-karyanya. Tanpa disadari, mereka menjadi individu yang sensitif dan mudah larut dalam gelombang tipu daya.

Seperti halnya karya Fajar Riyanto. Ia menciptakan berita hoax bahwa sastrawan Wiji Thukul masih ada dan tinggal di Surabaya yang dihadirkan melalui dokumentasi foto dan video. Uniknya, karya tersebut dapat membuat para apresiator bertanya-tanya pada panitia. Di sisi lain, mereka bahkan menaruh uang sumbangan di kardus salah satu karya seniman karena mereka mengira itu sungguhan.

Dengan melihat respons publik yang termakan hoax, para seniman jelas berhasil. Seni merupakan sebuah pesan yang dibuat oleh seniman untuk disampaikan kepada publik. Jika publik merespons dengan baik, berarti pesan yang disampaikan lewat karya seninya berhasil.

Pengangkatan tema hoax juga sangat menarik, ditambah dengan penyajiannya yang tidak terpacu pada karya lukis dan patung saja. Direktur Kesenian Kemendikbud, Restu Gunawan, menyatakan terkesan dengan kualitas karya seniman-senimannya. Dengan hadirnya seni media baru, seniman telah menggali potensi dan mengembangkan kesenian dengan wujud kebaruan. Kebaruan ini akan lebih baik jika diimbangi dengan nuansa pameran yang juga baru. Jakarta Biennale menurut saya menarik, karena para apresiator dikejutkan oleh berbagai macam seni performans.

Selain pameran, terdapat banyak acara yang lain yang menunjang Biennale Jatim 7, seperti lokakarya, performans dan diskusi. Meskipun demikian, lokakarya dan diskusi hanya menuai antusiasme yang terbilang sedikit, padahal acaranya berlangsung sangat seru, seperti diskusi dengan Hafiz Rancajale yang membahas seni media baru.

Jika Biennale Jatim ditujukan untuk membaca perkembangan dan pencapaian seni terkini di Jawa Timur, maka pola gelarannya harus diubah dan wacananya harus terus diperbarui, terutama konteks lokal. Penggalian aspek-aspek lokal pada tiap biennale sangat penting karena nantinya berpotensi membentuk dan menguatkan karakter suatu gelaran biennale.

Tulisan ini merupakan bagian dari editorial Yang Muda Membaca Biennale.

Foto: Nabila Warda Nafitri

Recent Posts

Leave a Comment

Kontak Kami

Segera dibalas ya...

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

X