Bicara Orang, Bicara Ruang: Pameran Desain Grafis People Exhibition

 In Ulasan

People Exhibition (11/3/17) merupakan pameran desain grafis yang membicarakan ‘people’. Kata ‘people’ dapat diartikan sebagai ‘orang yang berjumlah banyak’, atau ‘sekumpulan orang yang tergabung dalam sebuah grup, etnis, dan negara’, namun kali ini mari kita kerucutkan kata ‘people’ menjadi ‘sekumpulan orang yang tergabung dalam sebuah grup, komunitas, dan kolektif’.  Denis Arham dan Rizki Pasadana, dua desainer grafis yang tinggal di Bogor, mencoba memaknai kata ‘people’,  atau ‘orang-orang’, menjadi karya desain grafis yang diaplikasikan ke berbagai media. ‘Orang-orang’ yang dibicarakan di sini adalah anak muda Bogor. Secara tematik banyak sekali ide atau gagasan yang bisa diolah menjadi karya, mulai dari karakteristik tongkrongan, sampai budaya nongkrong yang sangat dekat dengan iklim kolektif seni rupa dan musik di Bogor.

 

 

People Exhibition bertempat di sebuah kafe bernama Popolo Coffee. Kafe ini berada di Baranangsiang, Bogor. Kata ‘popolo’ itu sendiri merupakan bahasa Italia yang juga dapat diterjemahkan sebagai ‘people’, atau ‘orang-orang’. Menarik, karena akhirnya People Exhibition dan Popolo Coffee membicarakan hal yang sama, yaitu tentang orang-orang, dalam konteks ini, orang-orang tersebut berada dalam lingkup tongkrongan. Kafe ini cukup luas, hijau, dan terbagi menjadi 3 bagian. Bagian yang pertama kali kita jumpai adalah ruangan semi-terbuka yang bebas asap rokok. Bagian ini tidak ditutup dinding, melainkan pot-pot tanaman yang disusun rapi di tralis, baris-berbaris dari atas sampai bawah, dengan kaca transparan yang memperlihatkan pemandangan di luar kafe. Semua meja dan kursi berbahan kayu, sehingga baik meja dan kursi dan pot-pot tanaman memberikan kita suasana alam bak rumah di tengah-tengah hutan. Bagian kedua merupakan ruang tertutup dengan pendingin ruangan, kuning terang dengan dinding yang putih, tidak begitu besar, tapi di sinilah para barista meracik kopi pesanan. Bagian ketiga merupakan ruangan untuk para perokok, paling kecil dengan cahaya remang-remang. Sebagian besar karya dipajang di ruang dalam karena terang, berdinding putih, dan banyak sudut yang bisa dimanfaatkan. Beberapa karya yang sifatnya kolaboratif terletak di ruang semi-terbuka.

 

 

Media dan teknik karya yang digunakan cukup beragam, mulai dari poster cetak digital, sablon, desain pak kaset dan vinyl, sampai kaus. Sudut-sudut kafe yang direspons dikategorikan sesuai dengan medianya. Main Corner, yang terletak di ruang dalam, memamerkan karya-karya utama, yaitu poster cetak digital dan sablon. Masih di ruang yang sama, ada Cassette Corner, Vinyl Corner dan T-Shirt Corner  yang memamerkan desain pak kaset, vinyl, dan sablon kaus. Di ruang semi-terbuka, terdapat Plant Pots Corner, yang memamerkan  poster dengan ukuran lebih besar, dan Collab Corner, yang memamerkan karya poster dalam 3 bagian hasil kolaborasi Denis Arham dan Rizki Pasadana. Sudut ini juga menjadi lokasi visual mapping saat pembukaan berlangsung. Dikarenakan merespons sudut kafe, karya-karya dapat ‘ikut nongkrong’ dengan pengunjung. Media karya yang dipilih sifatnya aplikatif, baik poster sampai kaus merupakan media yang dapat ‘dipahami’ oleh pengunjung karena sifatnya keseharian, terlepas dari konten karyanya yang beragam.  

 

 

Secara tidak langsung, People Exhibition membawa semangat sebuah kolektif seni. Bogor tidak memiliki ruang atau galeri konvensional untuk menyelenggarakan pameran atau kegiatan-kegiatan seni lain, padahal, kolektif yang banyaknya diinisiasi oleh mahasiswa kian menjamur.  Nihilnya ruang seperti ini mendorong para kolektif untuk menggunakan, bahkan menciptakan, ruang-ruang alternatif di kotanya.  Salah satunya adalah kafe yang menawarkan ruang untuk berkegiatan, biasanya disebut co-working space atau art space. Ruang ini menawarkan pengunjung dan juga jejaring, lantas tak heran kalau para kolektif lebih memilih kafe co-working/artspace. People Exhibition juga memperkenalkan sistem berpameran layaknya di galeri, seperti pembukaan pameran, tata letak karya sampai pembagian katalog. Hal-hal umum seperti ini memiliki dampaknya tersendiri jika dilakukan di kafe.

People Exhibition merupakan cara segerombolan mahasiswa atau kolektif muda dalam memanfaatkan ruang alternatif. Nihilnya prasarana berkesenian tidak menghentikan mereka. Malah, ruang alternatif memiliki nilai plusnya sendiri, yaitu pengunjung kafe yang ingin nongkrong. Mereka, para popolo. Seni rupa juga butuh popolo, atau orang-orang, bukan?

Problema ruang saya yakin tidak terjadi di Bogor saja, tetapi juga di kota-kota satelit Jakarta. Apa kabar kolektif dari Depok, Bekasi, juga Tangerang?

 

Ibrahim Soetomo

Foto: Rico Prasetyo

Recent Posts

Leave a Comment

Kontak Kami

Segera dibalas ya...

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

X