BTA 2.1: Menyelisik Problem Pemukiman Warga

 In Ulasan

Bincang Tugas Akhir (BTA) digelar kembali. Di semester dua ini, ada sekitar 40 judul skripsi atau tugas akhir yang diajukan ke tim BTA. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Tim BTA menyeleksi dan mengelompokkan skripsi dan tugas akhir yang masuk berdasarkan tema besar yang memungkinkan mereka untuk saling bersinggungan, meskipun judul-judul tersebut berasal dari mahasiswa multidisiplin ilmu dan jurusan. Tiap pertemuan BTA ada 5 penyaji, dan diskusi ini turut mengundang siapa saja yang tertarik untuk menyimak dan menanggapi. Pertemuan pertama, atau sebut saja BTA Semester 2.1, bertemakan ‘Warga dan Tempat Tinggalnya’. 5 penyaji semester 2.1 ini mengkaji, meneliti dan menawarkan pemecahan atas masalah-masalah kependudukan warga di berbagai pemukiman. Mereka adalah:

  1. Bellanti Nur Elizandri (UI/Arsitektur)
  2. Egi Mahira Irham (UI/Hukum)
  3. El Yanno Suminar (UNS/Arsitektur)
  4. Gyrass Reza Ksatria (UNS/Arsitektur)
  5. Siti Chaakimah (IPB/Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat)

Penyaji pertama adalah Gyrass Reza Ksatria. Lulusan Arsitektur UNS Surakarta ini membawa judul ‘Pemukiman Tumbuh di atas Lahan Bencana Lumpur Lapindo’. Gyrass berhasil membuat penonton penasaran dengan topik tugas akhirnya yang utopis. Ia melakukan penelitian di lahan bencana di daerah Sidoarjo, apakah mungkin untuk dibangun rumah tinggal? Maka dari itu, ia melakukan pemetaan pemukiman warga daerah Sidoarjo melalui pola bangunan, jenis bangunan dan penggalan jalanan sebelum dan sesudah terjadinya bencana. Meski judulnya sempat ditolak dua kali oleh sang dosen pembimbing, melalui penelitian ini ia malah mendapat temuan-temuan baru, seperti konsep co-housing, yaitu pembangunan tempat tinggal bersama di suatu lahan untuk hidup berdampingan. Saat ini, konsep co-housing sedang dalam tahap uji coba di kota Bandung oleh sebuah perusahaan arsitek.

 

 

Penyaji selanjutnya merupakan lulusan Arsitektur Universitas Indonesia, Bellanti Nur Elizandri. Ia menawarkan fakta dan cerita tentang penelitiannya mengenai ‘manusia gerobak’ di Kota Bekasi yang mencari sense of home, atau perasaan aman bertempat tinggal. Berdasarkan datanya yang menggunakan studi etnografi, tunawisma dibagi menjadi dua, yaitu tunawisma yang berjelajah lalu menetap (settle) dan tidak menetap atau berubah-ubah (unsettle), yang punya ruang tinggal dengan bangunan fisik, ataupun menempati tempat-tempat umum sebagai tempat tinggal. Bellanti juga memaparkan perbedaan kata home dan house yang berbeda dengan psikologi penghuninya.

Sementara Egi Mahira, sang lulusan Hukum, menganalisa putusan pengadilan negeri Jakarta Utara perihal pengambilalihan tanah secara paksa oleh pemerintah di Kampung Budi Darma untuk skripsinya. Penelitian ini merujuk ke studi Hukum Tanah, atau Land Law, salah satunya melalui Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang membicarakan hak Negara untuk menguasai bumi, air, dan seluruh isinya untuk kemakmuran rakyat. Bicara tentang penggusuran, Egi juga merujuk pada UU No. 5 1960. Undang-undang ini menjelaskan pengambilalihan lahan oleh Negara karena dianggap mendirikan lahan tanpa izin. Egi setuju bahwa kampung yang mempunyai 77 Kepala Keluarga ini selain mengalami kerugian materiil (finansial) juga kerugian secara immateriil (psikologis) atas kasus pengambilalihan tanah yang terjadi di kampung mereka. Kasus yang menurutnya telah melanggar sila kedua dasar negara ini dipastikan menyebabkan trauma terutama pada ibu dan anak-anak.

 

 

El Yanno, alumni Arsitektur Universitas Sebelas Maret Surakarta, mengemukakan idenya tentang kampung vertikal di Kalianyar dengan pendekatan perilaku warga di Jakarta. El meyakini bahwa arsitektur bukan hanya soal bangunan, tapi juga kemanusiaan yang mengandung banyak hal-hal ajaib di dalamnya. Maka dari itu El ingin mempertahankan esensi karakter kampung sebagai prioritas demi apa yang ia imajinasikan tentang sebuah kampung, walaupun bangunan yang ia rancang pendekatannya sangat modern. Gagasannya pun memungkinkan sebenarnya, ia menggabungkan kampung vertikal dengan horizontal. Sehingga, bangunan rancangannya berundak-undak dan tetap menyisakan ruang hijau, atau RTH.

Dan yang terakhir, Siti Chaakimah. Ia mengambil peminatan Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat di Institut Pertanian Bogor (IPB). Penelitiannya mengangkat perlawanan yang dilakukan oleh para petani di Kulon Progo beserta semua jaringannya. Dalam data yang didapatnya, ada sekitar 618 kasus konflik agraria di tahun 2004 – 2012, yang juga mengundang aksi protes, tak terkecuali di daerah yang menjadi lokasi studinya. Konflik agraria terjadi karena dua faktor, eksternal dan internal. Faktor eksternal terjadi karena adanya keterlibatan pihak pemegang modal, politik, dan tindakan represif. Ada pun faktor internal yang menyebabkan perlawanan terjadi, yaitu karena adanya kesadaran kolektif, ideologi dan perasaan takut. Bentuk perlawanan juga dibagi menjadi 3: tertutup, terbuka dan kolaboratif. Di akhir presentasinya, Chakim, nama panggilan akrabnya berkata “Bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja,”.

Tulisan: Ika Yuliana

Foto: Ika Yuliana

Ika Yuliana
Ika Yuliana (11 Juli 1992) lahir di Banda Aceh, dibesarkan di Medan, dan sedang merantau di Jakarta. Lulusan Jurnalistik Penyiaran yang suka menulis perjalanan. Kontributor lepas dan pekerja keras. Situs: pergidarirumah.com
Recommended Posts

Leave a Comment

Kontak Kami

Segera dibalas ya...

Not readable? Change text.

Start typing and press Enter to search