Perupa Muda Memandang Isu Buruh

 In Ulasan

Ketika ditanya tentang buruh, apalah yang bisa saya jawab. Saya hanya bisa berpendapat bahwa buruh adalah orang-orang paling tepat waktu di muka bumi. Masuk pagi-pagi pukul tujuh, serta mengantri absen tepat pukul tujuh. Begitu juga di sore hari, misalnya waktu kerja selesai pukul lima, maka para buruh pun menyebar keluar dari gerbang pabrik-pabrik itu tepat pukul lima teng pula, persis seperti burung-burung ketika dilepas dari kandangnya. Waktu adalah hal yang selalu presisi bagi mereka, tapi, mungkin itu adalah definisi seorang ‘buruh’ yang berasal dari pemahaman orang banyak.

Lalu, bagaimana dengan pekerja yang mengabdi lebih dari waktu kerja biasanya? Pekerja yang duduk di depan meja kantor hingga malam larut? Mereka yang masih mendatangi rapat penting di luar kantor pada makan malam, sehingga jarang makan malam bersama keluarga? Tak ada jaminan kesejahteraan seperti yang tertulis di undang-undang tenaga kerja. Lantas, siapakah buruh itu?

Menjelang hari buruh, makin banyak pula orang membicarakan isu buruh yang diperingati setahun sekali. Dari aktivis yang paling aktif, sampai mahasiswa ibu kota yang mungkin sangat berjarak dengan isu perburuhan.  Trade Union Right Centre (TURC), sebuah lembaga pusat studi dan informasi perburuhan, berkolaborasi dengan sepuluh mahasiswa dari beberapa universitas Jakarta dalam pameran “Labour Cultural Exhibition” yang dikuratori oleh Jakarta 32°C (25/7) di Hall A4, Gudang Sarinah Ekosistem.

Karya-karya yang ditampilkan merupakan hasil kreasi sepuluh seniman undangan Jakarta 32°C usai mengikuti diskusi intens yang dipandu oleh TURC selama dua minggu. Kesepuluh seniman ini berasal dari berbagai kampus dan jurusan di Jakarta dan Depok yang memiliki keragaman medium dan teknik dalam kekaryaannya, dari video, desain, seni cetak, hingga instalasi.


Seberapa penting isu buruh bagi mahasiswa? Ketika ditanya hal tersebut, Riezky “Ponga”, salah satu seniman menjawab: sangat penting. Menurutnya, buruh seolah-olah dijadikan komoditas oleh partai-partai politik guna menjaring suara. Buruh dijanjikan kenaikan upah, kesejahteraan, serta penghapusan sistem
outsourcing. Namun, hal itu belum jadi kenyataan, seakan semua janji tersebut merupakan kebohongan demi suara para buruh. Bisa dibilang, buruh sablon adalah orang pertama di luar partai yang mengetahui tentang janji-janji para politikus partai, karena merekalah yang biasa membuat segala atribut kampanye yang digunakan oleh partai. Dalam karyanya, ‘Partai Buruh Sablon Indonesia (Yang Gak Sablon-Sablon Amat), Riezky merespons para buruh sablon di sekitar jalan Bungur dengan membuat serikat fiktif buruh sablon. Jika kita menyimak judulnya, terdapat kalimat ‘(Yang Gak Sablon-Sablon Amat)’, di sini Riezky menaruh ironi mengenai nasib buruh sablon yang semakin kalah dengan jasa cetak digital.

Bergeser ke kiri, terdapat karya poster dari Perwira Gandhira. Ia mengadaptasi poster-poster demonstrasi yang kerap kita lihat di jalanan, lalu memelintirnya dengan tipografi dan gaya desainnya sendiri. Poster berjudul ‘Manusia, Bersyukur, Bahagia mengajak kita untuk bersyukur dan berbahagia di tengah kesibukan bekerja. Selain poster tunggal, Gandhi juga membuat tulisan menggunakan lakban di dinding ruang pamer dengan tipografi yang sama seperti di poster. Tulisan tersebut juga merupakan ajakan untuk bersyukur dan berbahagia. Penting untuk disimak bahwa Gandhi tidak semata mengajak untuk mensyukuri apa yang kita dapat, melainkan memaknai apa yang kita dapat. Gandhi memang tidak mengangkat isu buruh secara spesifik, ajakan ini bisa untuk siapa saja.

Bergeser ke kiri menuju tengah-tengah ruang pamer, ada sebuah instalasi yang disulap menjadi meja makan sederhana. Meja kayu persegi panjang, taplak meja dari bahan plastik terpal, lengkap dengan tudung saji, gelas bening dan tutup gelasnya, piring dan sendok. Di satu sudut meja diletakkan sebuah televisi yang memutar rekaman seniman Indrastiningtias yang sedang menyantap makan malam bersama ibu dan kedua pembantu rumah tangganya. Karya ‘Makan Malam Bersama’ mengambil konsep yang menarik, yaitu mencoba menghilangkan sekat antara buruh, yaitu kedua pembantu rumah tangganya, dan majikan, yaitu ibunya. Makan malam ini dilakukan tanpa skenario untuk menunjukkan interaksi yang cair. Segi artistiknya pun seolah menghilangkan jarak antara penonton yang duduk di meja makan, sebagaimana kita pada umumnya menyantap makan sembari menonton televisi.

Bergeser sedikit ke kiri dari karya Indra, di ujung kanan ruang pamer, terpajang empat karya milik Denis Arham berjudul ‘Komponen Kehidupan’ yang membicarakan sistem pengupahan pada Peraturan Pemerintah (PP) nomor 78 tahun 2015 yang kerap dilupakan oleh para buruh di setiap demonya. Ada banyak sistem pengupahan selain uang yang menjadi hak para buruh, namun banyak dari mereka tidak menyadarinya. Denis menggunakan teknik cetak saring dengan ilustrasi bergambar uang, dan di dalam ilustrasi uang tersebut Denis memasukkan visual berupa tunjangan-tunjangan yang harusnya diperjuangkan. Di depan keempat karya cetak saring, Denis juga menaruh benda yang menyerupai uang gepokan dan koin-koin emas di atas base untuk memantapkan pernyataannya mengenai upah yang selalu dituntut buruh.


Ada serikat lain seperti karya Riezky ‘Ponga’ yang terletak jauh di sebelah kiri dari karya Denis, di ujung kiri ruang pamer. ‘
Palugada Unions’ karya Eka ‘Belaw’ mencoba menyetarakan hak dan kewajiban pekerja lepas. Walaupun terkesan fiktif, namun Eka mencoba membuatnya senyata mungkin. Atribut seperti brosur ditempelnya di dinding ruang pamer. Pekerja lepas memang harus diperhatikan, karena kata ‘lepas’ bukan berarti ‘bebas’. Mental militan, serta sebutan palugada, atau apa lu mau gue ada, membuat para pekerja lepas kerap lupa diri. Layaknya Denis, Eka juga merujuk pada Undang Undang Ketenagakerjaan yang menerangkan hak serta kewajiban pekerja lepas. Baik Riezky ‘Ponga’ dan Eka ‘Belaw’ mencoba menelaah sesuatu yang dekat dengan keseharian mahasiswa, yaitu kerja paruh waktu serta nyablon.

Di dinding lain terdapat beragam karya kolase dari Gani Dharmansyah Putra. Karya ini akan kita lihat jika kita bergerak ke kiri dari karya Eka ‘Belaw’. ‘All About the Right of Labour’ mencoba menuliskan hak-hak para buruh sesuai dengan Undang Undang nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan. Penggalan-penggalan informasi mengenai buruh, beserta interpretasi visual oleh Gani, diolah menjadi ragam karya kolase.

Sementara itu, mengingat usianya yang sudah memasuki usia produktif kerja, Nastiti Dewanti atau Titis juga merasa isu tentang buruh itu penting sebagai ajakan berpikir tentang apakah “seni” berjarak dengan kegiatan pekerja buruh. ‘P.S. I’m Still Working’, karya yang berada di sebelah kiri karya Gani Dharmansyah, berupa selembar kertas besar berukuran lebih dari satu meter terpampang di dinding. Di kertas tersebut tertulis sebuah surat atau curhatan bertuliskan tangan seorang buruh perempuan soal keluh kesahnya di pekerjaan kepada Dr. Love, di mana siapapun bisa berkonsultasi tentang apapun. Di depannya terpajang pula tiga meja dengan majalah-majalah berjudul “Lembur” alias “Lembar Buruh”, media mandiri para buruh perempuan yang menyadarkan kita bahwa buruh sangat jarang didengar.

Jika kita berjalan melawan arah jarum jam, maka setelah menikmati karya Nastiti Dewanti, kita akan disuguhkan karya Ario Fazrien, ‘Kisah dari Sepasang Sandal’. Ario mengangkat tentang isu buruh rumahan yang mengerjakan produk alas kaki salah satu merek ternama. Buruh rumahan adalah pekerja yang biasanya mengerjakan segala pekerjaannya di rumah. Ario mencoba mengaitkan buruh rumahan dengan isu gender dengan pendekatan dokumenter yang menampilkan footage hasil tangkapannya ketika ia mengunjungi mereka di daerah Kapuk, Jakarta Utara. Video ini dipresentasikan sederhana, dan pengunjung diajak untuk menanggalkan alas kaki untuk ngampar menikmati video yang ditampilkan dengan televisi tabung.

Ada suara-suara yang mencuri perhatian ketika mengelilingi ruang pamer. Karya itu bisa kita nikmati kalau kita belok kiri dari karya Ario Fazrien. Jelas saja mencuri perhatian, karena suara itu datang dari 4 buah pengeras suara yang menyuarakan curhatan orang-orang yang diwawancarai mengenai isu buruh. Karya ini milik Erlan Santosa, ‘Yang Luput Dalam Orasi’. Sadar bahwa buruh adalah kita, atau dalam artian, mereka yang dipekerjakan dan diberi upah, Erlan mencoba menarik kesamaan serta perbedaan pandangan macam-macam buruh dari pabrik, kantoran, pekerja kreatif, sampai mahasiswa. 4 buah pengeras suara itu ditaruh di 4 buah base, dan suaranya mengelilingi ruang pamer.

Di awal paragraf saya menyebutkan pandangan saya mengenai buruh yang selalu datang pagi dan pulang sore secara tepat waktu. Kalau kita membahas jam pagi buruh, umumnya pukul 7, mungkin terbersit di pikiran kita, “Mereka sudah sarapan belum, ya?” Bagus Setyo Nugroho mencoba membahas kondisi gizi buruh yang mungkin tidak dilengkapi sarapan karena mereka harus bekerja di pagi hari. Karya ‘Buru(h)-Buru(h) Banget, Sarapan Dulu!’ mewawancarai buruh di pagi hari di pabrik-pabrik yang Bagus kunjungi. Wawancara ini menunjukkan kondisi buruh di pagi hari. Setelahnya, Bagus memberikan sarapan untuk para buruh yang dikemas menyertakan tempelan roda nutrisi di pagi hari sebagai informasi bagi para buruh mengenai pentingnya sarapan.

Labour Cultural Exhibition cukup memberi kita ragam interpretasi mengenai buruh. Setidak-tidaknya, kita paham bahwa buruh bukan hanya mereka para pekerja yang turun ke jalanan setiap tanggal 1 Mei, tetapi lebih dari itu, dan bisa saja itu dirimu. Bekerja adalah mencari nafkah untuk keluarga, maka haruslah berbahagia. Juga seperti lirik dari Sisir Tanah, “Harus Berani!” Berani menuntut keadilan, berani menuntut kebahagiaan.

Ika Yuliana
Ika Yuliana (11 Juli 1992) lahir di Banda Aceh, dibesarkan di Medan, dan sedang merantau di Jakarta. Lulusan Jurnalistik Penyiaran yang suka menulis perjalanan. Kontributor lepas dan pekerja keras. Situs: pergidarirumah.com
Recommended Posts

Leave a Comment

Kontak Kami

Segera dibalas ya...

Not readable? Change text.

Start typing and press Enter to search