Cerita Di Balik Karya ‘53235’ Eki Afriza dan Nida Aulia

 In Wawancara

Mereka ibarat penggagas, karya ‘53235’ juga milik orang tua mereka. Kepada Komplotan Komplotan Jakarta 32 °C, Eki Afriza bercerita tentang proses pembuatan ‘53235’, dari ide sampai eksekusi, serta pengembangan gagasan untuk karya yang akan dibuatnya. Simak perbincangan Ibrahim Soetomo (I) dengan Eki (E).

 

Nida (kiri) dan Eki (kanan) saat pemasangan karya ‘53235’; persiapan menuju pameran di 2016.

 

I: Eki adalah salah satu peraih penghargaan karya terbaik Jakarta 32 C tahun 2016. Yang menarik adalah Eki gak sendiri, tapi duo –Eki dan Nida, bisa diceritain kenapa akhirnya bisa duo?

E: Awalnya gak ada kepikiran untuk colab sama Nida, karena latar belakang karya yang akan gue submit sama dia itu beda. Terus sampe saat di mana gue nemu titik jenuh, “Gila, gue mau ngasih apa?” Akhirnya gue mikirin apa yang terdeket dengan gue. Kebetulan gue sama dia sekelas, gue banyak ngobrol sama dia, kami nemu titik kesamaan tentang apa yang kami rasa. Judul karya gue sendiri kan ‘53235’, jadi setelah ngobrol panjang sama dia, akhirnya gue nemu suatu kesamaan, yaitu keresahan diri gue sendiri, gimana ngangkat cerita tentang perpindahan orang yang tinggal di kota sampai bisa mental ke kota lain, atau bahkan (orang itu) masih di kota itu, tapi (kota itu) jadi urban karena faktor lingkungan yang ada. Akhirnya gue sepakat sama dia untuk ngelakuin proyek ini.

Tapi walaupun kami satu karya, kami juga punya background yang beda-beda, mungkin Nida sendiri, dia ngangkat bagaimana dia hidup tapi pindah ke pinggir kota dengan faktor lingkungan yang ada sama dia, dan gue sendiri (hidup tapi pindah ke pinggir kota) dengan faktor yang ada sama gue. Kenapa gue pindah ke kota? Dulu itu gue tinggal di Menteng, Kebon Obat, dan gue kena gusuran, akhirnya itu yang ngebuat gue pindah ke Depok sekarang, akhirnya dari situ kami sepakat kira-kira dari cerita kami apa yang bisa diangkat? Nah, dari titik ini kami nemu lagi: gimana kami ngangkat perjalanan hidup kami dari kami kecil sampe besar, kami angkat jadi karya, tapi dengan menyangkutpautkan orang tua kami sendiri? Jadi kasarnya kami yang nyalurin, ini tuh sebenernya karya orang tua kami sendiri.

Karya gue sendiri instalasi. Ada ilustrasi, ada wheatpaste, ada video tunggal, sama teks –puisi-puisi. Jadi gimana kami ngemas ‘kami’ itu semua sebagai kesan perjalanan kami dulu hingga nantinya.  Masing-masing kami sepakat ngasih total karya –yang gue lupa berapa, terus itu kami bagi dua, hasil itu kami relasikan dengan karyanya, contohnya 5 buah fotografi, ada 1 video tunggal, ada 2 karya untuk bla, bla, bla. Makanya sampai saat itu kami mulai nyoba untuk… “Oke, kita mantep nih.” (Lalu) kami mulai riset, kira-kira berani gak ya kami riset ‘kami’ sendiri lewat orang tua? Gila, gue udah tua, gue mau nanya dulu gue kecil gimana, malu gimana gitu, gue bawa-bawa cewek ke rumah (pula), akhirnya kami cobain aja pelan pelan.

Dari masalah display juga kami berdua nyari toko gerai frame, “Distributor frame di Depok itu di mana yang paling murah ya ­–untuk mesen frame sebanyak ini?” Akhirnya kami nemu di daerah Depok.

Kami langsung ke rumah untuk minta data dari orang tua gue sendiri. Dalam karya gue sendiri ada ilustrasi, dan ilustrasi itu yang buat juga orang tua gue, dia ngedeskripsikan gue gimana, tapi menurut gambar dia, gue gak peduli gambar dia gimana, “Mamah gambar apa nih, kan, gak bisa gambar?” kata dia.

Stickman gakpapa.”

Stickman apaan?” (Eki ketawa)

“Tau gambar orang kaki tiga gak?” –Kan kalo stickman (figur) orangnya (berbentuk) garis lurus dan kakinya berbentuk ‘V’. Akhirnya dia buat, gue minta dia untuk ngegambarin 5 ilustrasi tentang gue, waktu gue kecil gimana, apa yang dia kangen tentang gue, apa yang dia rindu tentang gue. Tentang doa-doa juga lewat teks, dia nulis teks untuk doa nanti gue bakal gimana.

Dan untuk videonya gue berdua Nida. Jadi dia ke rumah gue untuk video-in, gue ke rumah Nida untuk video-in, kami bikin teks apa aja bakal kami kasih, kayak “Apa yang dirinduin dari anak ini?” bla, bla, bla. Kurang lebih kayak gitu eksekusinya.

I: Lu sama Nida emang mengelaborasinya secara konsep, rembuk bareng.  Tapi karya ini lebih ke elu atau emang bareng?

E: Awalnya gue mau ngasih ilustrasi, tapi gue rasa enggak dulu, gue enggak mantep sama diri gue, gue skip ilustrasi. Akhirnya gue ngobrol ama dia, dan dia emang mau ngangkat itu tapi dia bingung sama pengeksekusiannya, terus gue mencoba ngegali bareng, brainstoriming, sampe titik ini dapet.

I: Lu sama Nida ngambil jurusan apa di kampus?

E: Desain grafis.

I: Beda juga sebenernya ya karya sama latar belakang lu. Di lingkungan kampus lu sendiri gimana? Ada gak sih pameran? Ada gak sih diskusi?

E: Di kampus gue pameran bisa dibilang minim kalo untuk hal seperti itu, tapi emang di kampus kami ada pameran setiap tahun sekali. Emang acara taunan (yang) mamerin tugas, tugas akhir, bahkan sampe lu bisa submit juga bisa, bahkan sampe ngundang-ngundang kampus lain, tapi dasarnya kami Politeknik yang berbasis lebih kedesain, bukan ke seni, jadi otak kami bagaimana berpikir untuk berkarya yang bisa diliat bagus secara visual, bukan konsepnya.

I: Lu sendiri pengguna transportasi umum?

E: Enggak.

I: Di karya ini secara gak langsung ngomongin tentang mobilitas orang urban, apa sih tema-tema lain yang lu angkat di karya ini –atau karya lu yang lain?

E: Mungkin kalau gagasan kemarin bener-bener privacy, bagaimana keluarga gue dan gue doang, tapi itu secara gak langsung ngegambarkan (kalau) ini tuh yang dirasain sama orang yang hidup di kota tapi bisa mental ke kota lain.

I: Secara tematis lu lagi ngulik apa nih yang baru?

E: Untuk hal yang baru, karena gue dari awal colab sama Nida, gue gak mungkin mental, “Nid, gue mau ini, gue mau ini,” kami bakal stick around di daerah itu, mungkin dari sudut pandang yang lain cuman dengan konsep yang sama. Kemarin kan gue ngangkat diri sendiri, bisa aja nanti –karena gak ada Nida gue gak tau apa yang dipikirin dia juga kan, tapi kalo gue pikirin, kami bisa ngangkat saksi lain, kayak orang lain tapi yang nasibnya gak seberuntung kami, atau mungkin kami bisa ngangkat dua orang: yang satunya bisa lebih sukses, atau yang satunya bisa di bawah kami, jadi kami bisa tau perbedaannya.

I: Setelah pameran kemarin apakah masih berkarya atau brainstorming karya bareng?

E: Kalau brainstorming biasa emang grup yang udah ada ini. Kalau individual, gue ada minat lain dan Nida ada minat lain. Kalau untuk 32 sendiri kami masih punya ide yang sama.

I: Itu yang akan berlaku di pameran nanti?

E: Kemungkinan besar iya.

I: Selain kuliah ada kesibukan lain, tugas akhir misalnya?

E: Enggak, gue masih semester lima, masih jauh. Kesibukannya ya  jadi kuli-kuli sembarian aja. Mungkin lagi ngembangin –karena sendiri gue suka ilustrasi, gue suka hobi mural juga, jadi gue lagi mencoba ngembangin ilmu dan bidang gue di mural dan ilustrasi. Gue suka ngangkat mural jadi kerjaan gue.

I: Ada cuplikan mau bikin apa?

E: Kepikiran kami naro karya baru, gak menutup kemungkinan naro karya lama juga. Kami bakal ngusahain karya baru, kalau karya baru konsepnya sama tapi lebih dalem.

I: Secara teknis?

E: Kami tetep make mix media, tapi gak tau akan make wheatpaste atau enggak, ilustrasi atau enggak, atau mungkin media lain.

 

Foto: Ika Yuliana

Recommended Posts

Leave a Comment

Kontak Kami

Segera dibalas ya...

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

X