Desain dan Kegelisahan

 In Ulasan

Desain, pada bentuknya yang paling sederhana, hanyalah upaya untuk menjawab pertanyaan,namun pada keangkuhan tertingginya, pertanyaan itu tak dihiraukannya. Bicara Tugas Akhir 2.5 dengan tema besar ‘Arsitektur dan Desain Produk’ (15/4/17) membahas ragam upaya penciptaan hal baru dari yang lama, walau pada dasarnya memang tidak mungkin ada hal baru, tetapi hanya upaya sederhana menjembatani tatanan lama yang tidak ideal untuk masa depan.

Seperti karya Rama Putra Tantra, Aumkara, alat bunyi akustik kordofon lut eksperimental yang terinspirasi dari musik Jawa Barat dan Asia Timur ini, jika tidak bisa dikatakan alat musik, ingin memberikan jawaban atas terseoknya upaya pelestarian budaya atau alat musik tradisional. Percaya bahwa bunyi dan musik merupakan cerminan kebudayaan manusia, Aumkara menawarkan gagasan penciptaan alat etnoakustik Indonesia untuk tidak hanya ‘lestari’, tetapi juga ‘progresif’ mengikuti perkembangan zaman.

Berdampingan dengan Aumkara, ada 4 karya desain arsitektur yang juga memiliki kritik tentang kondisi lama, serta menawarkan gagasan ruang yang ideal untuk kebutuhannya di masa depan. Karya Intan Findanavy Ridzqo, Herbenshade, mencoba mengembangkan tempat wisata jamu di Semarang dengan mengusung kegiatan agrowisata yang mengacu pada tempat wisata kontemporer seperti Farmhouse, Bandung. Diambil dari kata ‘herbal’, dan ‘shade’ (teduh), Herbenshade menata lokasi wisata dengan pendekatan permaculture, yaitu proses membudidayakan tanaman yang dapat menguntungkan kualitas tanah serta meningkatkan pendapatan dan produksi yang berkelanjutan.

Berikutnya merupakan karya Dini P. Hamira. Karya tugas akhirnya bertajuk  ‘Revitalisasi Stasiun Pasar Senen dengan Pendekatan Arsitektur Tropis Kontemporer’. Kritik utama revitalisasi ini ada pada optimalisasi sirkulasi dan efisiensi zonasi ruang pada stasiun Pasar Senen yang menghadapi tantangan umur. Arsitektur kontemporer dirancang untuk memenuhi kebutuhan segala segmen, serta meningkatkan kapasitas stasiun tanpa meninggalkan estetika bangunan yang bersejarah serta kenyamanan pengunjung.

70% masjid di Indonesia tidak memiliki kualitas akustik ruang yang baik. Suhijrah Willa Widodo mencoba menyiasati fenomena ini. Karya tugas akhirnya bertajuk ‘Komplek Masjid Besar di Tunjungan Surabaya dengan Pendekatan Konsep Kualitas Akustik Ruang dan Meningkatkan City Soundscape’. Masjid di daerah Tunjungan, Surabaya, dikelilingi oleh jalan raya yang sibuk, maka dari itu, didesain oleh Suhijrah dengan hati-hati untuk memenuhi kualitas akustik yang dibutuhkan serta menyiasati kebisingan jalan raya dengan cara mengoptimalkan serta merekayasa energi suara. Pendekatan desain ini sudah seharusnya dilakukan, namun kenyataannya sulit menemukan masjid-masjid dengan kualitas akustik yang baik.

Masih urusan memecahkan dan menyiasati masalah ruang, karya selanjutnya merupakan Tugas Akhir dari Ayu Tirta Purwita Sari, ‘Perancangan Stadion Pusat Akuatik dengan Pendekatan Arsitektur Berteknologi Tinggi di Kawasan Kompleks Olahraga Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta’ merujuk pada Asian Games XVII 2018, di mana Indonesia akan menjadi tuan rumahnya. Nyatanya, stadion akuatik kawasan olahraga Gelora Bung Karno tidak memenuhi standar yang mencakup suhu ruang sirkulasi dan pencahayaan. Ayu Tirta lalu merancang stadion akuatik yang tertutup, atau indoor, sehingga dapat mengendalikan standar-standar tersebut. Desain dengan pendekatan hi-tech ini memberi kita gambaran tentang teknologi yang diterapkan pada bangunan-bangunan untuk mewadahi manusia nantinya.

Jika kelima penyaji berbicara mengenai rancangan, berbeda dengan penyaji terakhir, Citra Auliyaputri yang justru mengkaji ruang dan arsitektur melalui skripsinya, ‘Spacial Engagement dalam Mencapai Sense of Place’. Skripsi ini membahas desain ruang yang memiliki keterkaitan dengan individu yang menempatinya. Percepatan mobilitas manusia, apalagi di Jakarta, menumpulkan indera (sense) kita dalam memaknai ruang. Pokok utama pada kajian ini dilakukan di tempat di mana manusia bisa sejenak beristirahat dari geraknya, yaitu kafe, yang sangat berkaitan dengan sensibilitas pengunjungnya.

Begitu kira-kira bentuk sederhananya, karena memang tugas akhir atau skripsi selalu mewujud sederhana, ia hanya bentuk kegelisahan, keingintahuan, dan pelbagai kritik yang mengepul ingin dituntaskan. Semua (mahasiswa) yang sudah melalui itu pasti setuju, tapi kenapa setelahnya sangat sulit menemukan wujud-wujud desain yang sederhana? Kondisinya-kah yang tidak lagi sederhana? Manusianya-kah yang tidak lagi sederhana? Atau mungkin, mungkin ya, kesederhanaan memang sudah membosankan?

Gyrass Ksatria
Lulusan Universitas Sebelas Maret. Karya Tugas Akhirnya berjudul 'Pemukiman Tumbuh di atas Lahan Bencana Lumpur Lapindo'.
Recommended Posts

Leave a Comment

Kontak Kami

Segera dibalas ya...

Not readable? Change text.

Start typing and press Enter to search