Iqra: Bacalah

 In Ulasan

Jakarta — Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta mengadakan pembukaan sebuah pameran bertajuk “Iqra: Bacalah” di Galeri Cipta 3, Taman Ismail Marzuki, Jumat (19/1). Pameran ini berlangsung pada 19 – 27 Januari 2018 dan merupakan pameran gabungan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Fakultas Seni Rupa dengan perupa yang berasal dari berbagai jurusan di fakultas tersebut. Pameran menggunakan tema yang cukup menarik yang juga disampaikan oleh judulnya, “Iqra.” Kata “Iqra” sendiri adalah bahasa Arab yang berarti “Bacalah.”

Pameran ini menjadi sebuah ungkapan dari para perupa dalam penciptaannya di mana mereka mempertanyakan penyampaian pesan melalui karya dalam visualisasi karyanya. Mereka membaca, memahami, menganalisis dan kemudian mewujudkan ”tanda-tanda” personal menjadi karya untuk dibaca kembali “tanda-tandanya.” Setiap karya yang dipamerkan dilengkapi dengan sebuah caption berisi sajak singkat yang menjadi sebuah pembuka dalam perkenalan karya tersebut kepada publik.

Karya dari Alfadho Asy Syauqi berjudul “Pecel Hehetarian.” Karya ini mengangkat tema vegetarian, dan dari visualisasi karya ini mungkin orang akan mempertanyakan apa yang dimaksud oleh perupa. Dalam caption-nya tertera “Jika Anda melihat warung pecel dengan spanduk seperti ini, masihkah bayangan akan pecel lele, bebek atau ayam yang sangat menggugah itu masih ada? Yuk ikutan. Hehe.” Sajak dalam caption itu kemudian membuat karya lebih masuk akal. Dalam visualisasinya, ikon dari rumah makan pecel seperti ayam, bebek dan lele dikombinasikan menjadi satu wujud astral yang terlihat cukup aneh. Alfadho kemudian menjelaskan bahwa ini adalah karya yang bertujuan mengajak publik untuk menjadi vegetarian layaknya beliau. Menurut Alfadho, kampanye vegetarian sekarang terlalu ekstrim, kadang berujung hate speech dan menebarkan konten eksplisit. Lantas beliau memiliki caranya sendiri untuk mengampanyekan gagasannya.

Ada juga karya dari Denis Heryanto Arham yang berjudul “Pynyngyt.” Ia memvisualisasikan ramalan dari Prabu Jayabaya dengan rangkaian tayangan berupa slide foto pada televisi dan cermin. Pada pembukaan, Denis juga melangsungkan performance melalui live streaming di Instagram. Dalam karyanya Denis menggambarkan tentang ramalan akan datangnya Satrio Piningit, sang ratu adil dan penyelamat yang hanya digambarkan melalui sikapnya saja dalam ramalan itu. Denis memvisualisasikan setiap poin sikap tersebut dalam setiap foto yang ditampilkan. Dalam caption-nya Denis mengatakan “Kita hanya bisa menerka, kita hanya bisa mereka,” di mana performance kemudian menjadi sebuah point of view dari handphone itu untuk menjadi wujud Satrio Piningit.

Pameran ini juga menampilkan berbagai rangkaian karya dengan beragam medium seperti video mapping, instalasi, cetak digital, video installation, installation in various media, dan kayu. “Iqra” merupakan pameran kontemporer mahasiswa yang menyajikan berbagai karya dengan berbagai pesan menarik di setiap karyanya, yang kemudian menggugah rasa dan kadang tawa.

Foto: Louisiana Wattimena

Recent Posts

Leave a Comment

Kontak Kami

Segera dibalas ya...

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

X