JIWA: Jakarta Biennale 2017

 In Ulasan

Malam itu sorenya hujan. Tak heran jika langit bersih dan menyisakan ruang bagi bulan. Tidak, bulannya tidak begitu terang dan jelas kalah oleh lampu-lampu gedung. Tapi terlihat kalau ia sedang memancarkan sesuatu. Di bawahnya, ada sesuatu gemerlapan, seakan memantulkan cahayanya. Jika kita lihat lebih jelas, yang gemerlapan itu adalah emas. Bunga-bunga emas. Deretan bunga emas. Deretan bunga emas di kolam eceng gondok. Tapi apa maksudnya, ada deretan bunga emas — yang jelas plastik itu — tumbuh berbarengan dengan eceng gondok? Oh, ini adalah metafora tentang yang kaya dan yang miskin. Sebuah ironi tentang kelompok kaya dengan kaum miskin. Ya, kolam sebesar 20 x 8 meter itu adalah Eceng Gondok Berbunga Emas, karya Siti Adiyati, yang menyambut kita di pembukaan “JIWA: Jakarta Biennale 2017”, Sabtu (4/11).

Setelah diselenggarakan pada 2015 dengan tajuk “Maju Kena, Mundur Kena: Bertindak Sekarang”, kali ini, Jakarta Biennale mengusung konsep “Jiwa” sebagai gagasan artistiknya. Jiwa? Ya, jiwa. Jiwalah yang menjadi pendorong terciptanya sebuah karya. Jiwalah aspek nir-rupa di balik terwujudnya rupa. Konsep ini digagas oleh Melati Suryodarmo sebagai artistic director-nya, bersama para kurator yaitu Annissa Gultom (Jakarta), Hendro Wiyanto (Jakarta), Philippe Pirotte (Frankfurt) dan Vit Havránek (Praha). Lantas, hadirlah 51 seniman lokal dan internasional yang karyanya berada di naungan konsep ini. Tahun ini JIWA menjadikan Gudang Sarinah Ekosistem (GSE) sebagai lokasi utamanya, bersama dengan Museum Sejarah Jakarta dan Museum Seni Rupa & Keramik sebagai lokasi pamer lainnya.

Setelah melihat Eceng Gondok Berbunga Emas yang terletak di alleyway Hall A dan B GSE, beloklah ke kiri, masuk ke Hall B. Untuk pertama kali, kita akan disuguhi karya fotografi hitam putih Robert Zhao Renhui yang menampilkan sebatang pohon tua dan besar yang telah tumbang. Foto panjang ini dibagi menjadi beberapa panel dan ukurannya hampir setinggi manusia, di setiap panelnya diberi lampu neon sehingga fotonya bercahaya. Setelah itu, beloklah ke kanan. Nikmati pameran. Nikmatilah instalasi Marintan Sirait dan I Made Djirna, serta lukisan-lukisan dan arsip-arsip Semsar Siahaan.

Menarik bagaimana seniman-seniman lokal yang terlibat mayoritas berada di periode seni rupa Indonesia tahun 70 dan 80-an. Siti Adiyati-lah yang menyambut kita, sebagaimana ia merupakan seniman perempuan yang terlibat di Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia. Adapun Hanafi, Dolorosa Sinaga dan penyair Afrizal Malna. Agaknya karya dan proses kreatif mereka sesuai dengan konsep yang diusung. Tidakkah jiwa yang mendorong Semsar Siahaan membakar patung Irian dalam Torso milik dosennya, Sunaryo?

Setelah pembukaan, tentunya kita harus meluangkan waktu lebih untuk kembali dan mendalami karya yang dipamerkan. Sebisa mungkin pilihlah hari kerja. Di siang hari ketika orang lain sedang sibuk bekerja. Tak lupa, luangkan waktu lain untuk mengunjungi karya yang dipamerkan museum-museum di Jakarta Barat sana, karena ada karya lain dari Dolorosa Sinaga, Otty Widasari dan seniman berbasis Arab, Dana Awardani.

JIWA hadir sampai 10 Desember nanti. Untuk lebih lengkapnya, kunjungi http://jakartabiennale.net/jadwal/.

Foto: Diah Kusuma & Rico Prasetyo

Recent Posts

Leave a Comment

Kontak Kami

Segera dibalas ya...

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

X