Kembali Menelaah Diri bersama Vicky Saputra

 In Wawancara

Dengan objek-objek gambar yang sureal, Vicky Saputra mengajak kita berpikir tentang hubungan antar manusia. Berpikir yang seperti apa? Komplotan Jakarta 32 °C berbincang dengan Vicky mengenai seri ilustrasi ‘Pikir’, kegiatan-kegiatannya kini, serta refleksi atas karya-karyanya sejauh ini. Simak obrolan Ibrahim Soetomo (I), Sigit Budi (S), dan Vicky Saputra (V).

Salah satu karya dari seri ‘Pikir’, Vicky Saputra (2016).

 

V: Halo, gue Vicky Saputra, kuliah di salah satu universitas di Jakarta Utara, jurusan DKV, desain grafis. Sekarang lagi magang juga. Magangnya desain juga.

I: Vick, coba dong ngobrol tentang karya lu kemarin.

V: Karya kemarin itu judulnya ‘Pikir’. Sebetulnya, gue gak kepikir sampe sana awalnya, kayak gue bikin karya aja, (gue ngangkat) uneg-uneg gue yang di mana itu menyentil cara berpikir orang maupun gue sendiri, yang gue konfirmasiin.

Terus, gue bikin (karya) satu… dua… dan saat karya yang kedua itu, anak-anak Jakarta 32 °C nyamperin ke univ gue, gue coba submit (karya) yang 2 itu, ternyata oke, go, terus gue kembanginlah dari sana.

Setelah itu gue zoom out, gue liat kecenderungan (karya)nya, ternyata ini tentang pola pikir orang, gue singkat ‘Pikir’ aja. Jadi macem-macem, dari serial karya itu masing-masing punya cerita sendiri. Gue nyimpulin dari keseluruhannya, benang merahnya.

I: Gagasan mengenai ‘Pikir’ ini lu implementasiin ke cat air. Lu sering berkutat di cat air, padahal lu sendiri (berkuliah di) desain grafis?

V: Dari awal memang cat air, pas bikin karya kayak gitu itu (pake) pensil-cat air-pensil-cat-air. Pernah nyoba di kanvas juga, tapi kacau.

I: Di kuliah lu sendiri ngapain aja?

V: Macem-macem sih, kayak DKV pada umumnya. Kami belajar akrilik, cat minyak, macem-macem.

I: Masih dipelajari tuh ya? Di kampus gue sendiri, (untuk DKV) udah tuh ilang yang manual.

V: Awal semester 1 semester 2 kayak gitu. Semester 3 baru mulai digital segala macemnya.

I: Karya ilusrasi ‘Pikir’ ini sendiri semacam proyek lu dari lama ya, sebelum ada TARKAM?

V: Iya, sebelum TARKAM, dan gue selalu persiapin ini untuk pameran sebenernya. Gue bikin karya itu emang standard buat pameran, kayak kertas segala macem, ukuran segala macem, jadi kalo ada (pameran) yang mendadak kayak gini,  gue bisa pamerin.

I: Secara tematis, selain tentang pola pikir manusia, ada gak gagasan lain yang ulik juga?

V: Kayak sub-gagasan. Misalnya, keluarga, (hubungan) kita sama keluarga. Misalnya, kita punya sifat A dan B, ternyata sifat A itu punya nyokap, si B punya bokap, dan entar kita turunin sifat itu juga kan ke anak-anak kita? Dan seterusnya. Itu sub-temanya ya keluarga.

Yang lain, ada (ilustrasi yang menggambarkan) bawang. Gue ceritain tentang hubungan antar manusia itu kayak bawang, kita mungkin kenal lapisan luarnya, tapi dalemnya kita belum tau. Tema-temanya kepecah-pecah lagi, tapi gue liat dari jauh lagi, ‘Pikir’.

I: Sekarang kan lu magang, masih main ilustrasi gak?

V: Ini mau lanjut (ketawa). Tapi, sebelum-sebelumnya untuk 32 Art Award kemarin sempet colab sama Irza yang karyanya Cangcorang.

 

Ahmad Irza adalah salah satu perupa di Festival Jakarta 32 C tahun 2016 dari kampus Politeknik Negeri Media Kreatif. Karyanya merupakan fotografi mix media yang mengangkat terkikisnya ruang bertahan hidup bagi cangcorang di Jakarta. Karya ini cukup fenomenal di antara teman-teman kampus se-Jabodetabek.

 

I: Colabnya gimana tuh? Jejaring nih!

V: Waktu itu masih di sini (2016), sempet ketemu di toliet, “Vick, gue pengen colab sama lu,” eh, kesampeannya taun depannya (2017), dan itu kami salurin buat 32 Art Award, ada tujuan yang ingin dicapai, dan ini pas dia mau Tugas Akhir kayaknya mau colab juga, cuman gak tau lanjutnya gimana, belum ketemu lagi.

I: Magang lu sendiri desain?

V: Desain. Ada (proyek) mural tapi belum tembus. Macem-macem.

I: Oh, per proyek?

V: Iya. Terus kalau ada ilustrasi pasti dioper ke gue. Gue emang apply di sana as illustrator, cuma kalo ada desain-desain jarang.

I: Kesibukan lain selain magang?

V: Ada pameran, dari taun lalu dicetus, tapi masih wacana, masih abu-abu, belum tau lanjutnya kayak gimana.

I: Untuk karya pameran terbaik nanti, lu ngembangin lagi dari karya lu kemarin, atau lu ninggalin itu dan bikin karya baru?

V: Kayaknya untuk karya yang ini lebih personal. Soalnya, selama gue berkarya di 2016 awal itu gak ada sisi guenya. Gue pernah ngobrol sama mentor gue, ujung-ujungnya dia ngritik gue, “Di karya lu ini, lu-nya dimana? Sisi lunya dimana?” Ternyata pas gue liat-liat lagi, gue terlalu mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat. Jadi gue pengen yang dekat aja, personal gue.

I: Dengan medium yang sama?

V: Dengan medium yang sama.

(Sigit Budi, yang sebenarnya hadir selama perbincangan ini berlangsung, akhirnya ikut menanggapi)

S: Gue gak ngerti sama kata-kata “Karya lu tuh harus diri lu sendiri.” Kalo diri lu sendiri, terus bikinnya pake artisan, gimana? Gimana menurut lu, Bro?

V: Yang dia maksud itu ternyata “Lu belum naro feel lu dalam karya lu, lu (bikin) secara teknis doang, lu bikin karya ini (kalau ditanya) artinya apa emang lu bisa jawab, cuman jiwa lu tuh dimana?” Kan ada lukisan-lukisan yang orang liat orang bisa nangis, yang sekali liat merinding gitu, maksud dia yang kayak gitu-gitu.

S: Gawat tuh. Tapi kemarin salah satu penilaian kenapa kami memilih ilustrasi lu jadi yang terbaik sebenarnya  karena gue pikir udah karakter si senimannya, jadi ketika ada orang mikir, “Lu-nya mana?” Ini ya elu. Karya ilustrasi lu tuh beda sama yang beberapa yang submit, (sama) yang kita terima. Kalo gue bilang (karya lu) aneh, aneh sebenernya, pemilihan objek (di ilustrasi) lu itu aneh.

Di antara karya lain yang ngejelimet-jelimet, tiba tiba anak-anak ada yang kepikiran, “Ini karya (ilustrasi)nya lucu nih,” dan kata lucu bisa luas ya sebenernya, bukan dalam artian yang sebenernya, at least bisa bikin temen-temen 32 yang waktu itu hampir 15 orang yang gue minta kerja bareng untuk cari tau, ya kurasi lah, mana yang kira-kira best of the best, tapi bukan berarti nanti karya pameran berikutnya harus ilustrasi, enggak, dibebasin.

 

Foto: Ika Yuliana

Recommended Posts

Leave a Comment

Kontak Kami

Segera dibalas ya...

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

X