Ketika Kepopuleran Magnetis Secara Akademis

 In Ulasan

Apa itu ‘populer’? Mengapa sesuatu bisa menjadi populer? Yang jelas, kata ‘populer’ mengandung makna diketahui dan dinikmati oleh banyak orang. Media massa sangat mempengaruhi kepopuleran. Di era media sosial terutama, kepopuleran bisa pecah dalam hitungan menit. Sesuatu yang mudah dikenal, juga mudah ditanggapi. Kerap kita temukan meme, atau video reaksi di kanal-kanal Youtube. Reaksi semacam itu sudah biasa. Reaksi yang harusnya kita biasakan adalah kajian. Kajian budaya populer. ‘Membaca Narasi Populer’, tema Bicara Tugas Akhir 2.2 lalu (4/3/17), menghadirkan 4 penyaji yang meneliti kepopuleran dengan beragam pendekatan.

Penyaji pertama adalah Dhania Putri Sarastika. Lulusan Sastra Inggris Universitas Gajah Mada (UGM) ini mengkaji hierarki budaya ekspresif melalui film Birdman (2014). Budaya ekspresif, atau kesenian, masih saja memiliki perbedaan kelas. Di dalam film ini, kasusnya adalah seni film dan seni teater. Film ini bercerita tentang Riggan Thompson (Michael Keaton), seorang mantan aktor film yang dulu terkenal karena memerankan karakter pahlawan super bernama Birdman. Demi mencari pencapaian artistik, ia pindah haluan ke dunia teater broadway. Nyatanya, dunia teater tidak mudah, terutama bagi Riggan Thompson yang merupakan mantan aktor film.

Melalui naskah film Birdman, Dhania Putri Sarastika membedah perbedaan kelas antara teater dan film. Teater itu berkelas tinggi, hanya orang tertentu saja yang dapat menikmati. Teater juga eksklusif, karena pertunjukannya hanya satu atau dua kali. Tiketnya mahal. Pemerannya pun harus aktor yang berkualitas. Ketimbang uang, teater broadway lebih mencari kepuasan artistik. Sedangkan perindustrian film adalah sebaliknya. Ia bisa dinikmati semua umur. Tiketnya murah, jadwal tayangnya pun bisa berminggu-minggu. Pemerannya tidak harus aktor yang serius; aktor pahlawan super menjadi buktinya. Karena film itu industri, tentu yang lebih dicari adalah uang.

Melihat perbedaan ini, kita bisa menemukan kontradiksi. Teater yang digarap secara ‘serius’ masih saja kurang diapresiasi baik secara moral maupun finansial ketimbang film yang bisa ‘tidak serius’. Padahal, teater juga bisa digarap secara ‘tidak serius’. Buktinya, Putu Wijaya pernah mementaskan teater tanpa naskah. Itu, kan, bisa dibilang ‘tidak serius’? Lantas, apa kiranya yang membuat seni masih saja hierarkis?

Masih bicara film, kali ini pendekatan ilmunya berbeda, karena memang penyajinya berbeda, yaitu arsitektur interior. Marita Fitriyanti, lulusan Arsitektur Interior Universitas Indonesia membahas representasi penjara di film-film. Ia merujuk pada film Shawshank Redemption (1994) dan Starred Up (2013), kedua film ini mengisahkan kehidupan orang-orang  di dalam penjara. Dalam penelitian ini, ia menggunakan istilah ‘uncanny’, yaitu perasaan aneh, gaib dan misterius; perasaan yang mungkin dirasakan di dalam penjara.

 

 

Marita Fitriyanti mengkaji representasi penjara yang digambarkan melalui arsitektur yang diperlihatkan. Baik Shawshank Redemption maupun Starred Up dapat memberikan gambaran kepada penonton yang mungkin tidak pernah mengalami kehidupan di penjara. Kedua film ini memperlihatkan bangunan yang tua, kolosal, tebing-tebing tinggi, sampai ruang-ruang gelap dan sempit yang direkam secara repetitif, sehingga kita sebagai penonton tidak hanya melihat, tapi mengalami. Di balik penjara yang terkesan ‘mati’ itu, ada kehidupan, yaitu kehidupan orang-orang yang tinggal di dalamnya. Marita Fitriyanti menunjukkan adanya ambiguitas. Terlepas dari gambaran penjara yang terkesan ‘mati’, mengancam dan mencekam, banyak adegan di film itu yang mempertontonkan kenyamanan para penghuni, ruang-ruang privasi, dan kehidupan sosial yang rukun bak kerumahtanggaan.

Dari penelitian ini kita kembali diingatkan kekuatan manipulatif sebuah film yang mampu mempengaruhi penonton secara psikologis. Cara film menyuguhkan realitas itu beragam, salah satunya melalui pendekatan arsitektur. Presentasi Marita Fitriyanti mengimbangi ilmu arsitektur interior dengan psikologi dan sinematografi.

Penyaji ketiga berbicara musik pop Korea. Artika Isnanda, lulusan ilmu komunikasi  Universitas Indonesia, meneliti simbol, lambang, atau tanda yang merujuk pada keperempuanan dan seksualitas secara subjektif di video musik grup pop Korea. Sebelum tahun 2014, video musik pop Korea masih berbicara tentang koreografi dan kostum-kostum yang dikenakan oleh para personilnya. Kini, yang dipamerkan di video musik adalah adegan yang menyimbolkan keperempuanan dan seksualitas.

Video musik yang diteliti adalah: ‘Bae Bae’ oleh grup Big Bang, ‘Warmhole’ oleh grup Brown Eyed Girls, dan ‘Vibrato’ oleh Stellar. Banyak sekali objek, pemilihan warna, adegan, bahkan lirik dari ketiga video musik tersebut yang berbicara seksualitas. Satu hal, baik ‘Bae Bae’, ‘Warmhole’ dan ‘Vibrato’ menunjukkan sifat perempuan yang pasif dan kalah oleh dominasi laki-laki. Video musik ‘Bae Bae’ memperlihatkan peragawati, bunga mawar, air, sampai lingerie sebagai simbol keperempuanan. Frasa ‘Warmhole’, atau ‘wormhole’, dikaitkan dengan kemaluan perempuan. Wormhole, atau lubang cacing, secara ilmiah adalah ‘lubang’ yang bertindak sebagai jalan pintas dari satu titik ke titik lainnya di ruang angkasa. Melalui penjelasan ilmiah ini, rasanya lubang cacing dan kemaluan perempuan bisa dikaitkan. Sedangkan video musik ‘Vibrato’ secara eksplisit menunjukkan pose-pose seks perempuan.

Penyaji terakhir meneliti pengisahan Nabi Ibrahim berdasarkan teori semiotika Algirdas Julien Greimas, seorang pakar ilmu semiotika dari Prancis. Ja’far Shiddiq, lulusan ilmu Al-Quran dan Tafsir Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (UIN), merasa kisah-kisah kenabian selama ini dimaknai secara linear, yang kita pelajari dari kisah-kisahnya adalah keberanian dan ketaatan Nabi Ibrahim pada Tuhan. Padahal, maknanya bisa jauh lebih dalam.

Ja’far Shiddiq menggunakan teori aktansial; teori yang dikemukakan oleh Algirdas Julien Greimas dalam membedah sebuah cerita menjadi satuan naratif terkecil, yang disebut sebagai ‘aktan’. Teori aktansial mempelajari hubungan antara pelaku dan sudut pandangnya dalam sebuah cerita. Teori ini membagi aktan menjadi 6, yaitu: subjek dan objek, pengirim dan penerima, dan penolong dan penentang. Dalam kisah Nabi Ibrahim, kita mengenal  istrinya Siti Hajjar, anaknya Nabi Ismail, bahkan Setan. Tokoh-tokoh dalam cerita ini disesuaikan dengan 6 aktan tersebut sesuai dengan sudut pandang tokoh tersebut.

Ja’far Shiddiq membagi kisah Nabi Ibrahim menjadi 3 bagian, yaitu saat ia lahir, saat ia dibakar, dan saat ia mengorbankan anaknya, Nabi Ismail. Hasil dari penelitian ini kita tidak hanya menemukan makna ketaatan, atau keberanian, tapi sesuatu yang lebih seperti kebebasan bertindak, perubahan keputusan Tuhan, sampai ganjaran atas ujian-ujian Tuhan.

 

***

 

Keempat penyaji ini membawa topik yang menarik. Namun, sesi diskusi tidak berjalan sesuai yang diharapkan. Pada akhirnya presentasi setiap penyaji berdiri sendiri tanpa ada benang merah dengan presentasi lainnya. Kajian budaya populer itu bagai jaring laba-laba yang luas! Ia terkait dengan banyak aspek. Ia bicara sebab-akibat. ‘Kuliah’ kajian budaya populer rasanya tidak bisa satu sesi. Berbeda dengan lima penyaji  di BTA 2.1, ‘Warga dan Tempat Tinggalnya’, yang memiliki benang merah walaupun topiknya berbeda-beda. Namun, diskusi kali ini menunjukkan bahwa kepopuleran bisa ditinjau dengan ragam pendekatan. Keempat penyaji ini sumbangannya sudah besar. Penelitian akademis nan analitis tentang kepopuleran akan lebih seru kalau kita, anak muda, membiasakannya. Tidakkah akhir-akhir ini kita terlalu pasif, cenderung menerima saja?

 

Ibrahim Soetomo

Foto: Izzudin ‘Jun’ Rabbani

Ibrahim Soetomo
Jika kamu membaca ini, ketahuilah bahwa tulisan ini milik Ibrahim Soetomo, seorang mahasiswa Seni Murni Institut Kesenian Jakarta. Menjuluki dirinya sendiri ‘seniman tekstuil’, ia gemar mengarungi keajaiban dunia penulisan: Fluxus event score, sajak dan baru-baru ini penulisan seni rupa. Jika kamu membaca ini, pastikan kamu menyimak akun instagramnya, @ibambaik.
Recommended Posts

Leave a Comment

Kontak Kami

Segera dibalas ya...

Not readable? Change text.

Start typing and press Enter to search