KMDGI XII: Pengalaman akan Kesetaraan yang Berjarak

 In Ulasan

Tiga hari terasa (cukup) lama untuk berpameran pada perhelatan KMDGI ke-12 di Hotel UTC Semarang ini. Selain panasnya yang membuat luka batin tergores kembali, sampai suguhan jajanan es mangga kekinian dan thai tea alias teh susu yang saling berdempetan, maka, tiada yang hebat dan mempesona karena ada Vidi Aldiano sebagai pembicara di sana. Penasaran ini acara apa? Sila ditelusuri melalui tulisan ini.

Sebagai mahasiswa desain komunikasi visual di ibu kota yang cukup terlatih, ada rasa semangat untuk bertemu teman-teman dengan minat yang sama. Akankah saya dapat bertemu diri saya pada wujud yang berbeda dari ragam universitas maupun institusi lain? Mungkin orangnya tambun, atau bisa juga gondrong, bertato lingkaran di kakinya, hingga yang suka tertawa melengking, pikir saya begitu. Kiranya pemikiran saya cukup terbelot dengan sendirinya ketika merasakan atmosfer festival KMDGI tahun ini yang tatkala dari segi teknis cukup karut dan dari segi konsep cukup rawut. Cukup.

KMDGI ialah Kriyasana Mahasiswa Desain Grafis Indonesia yang merupakan sebuah forum (lebaran) mahasiswa desain grafis se-Indonesia yang diadakan 2 tahun sekali. Forum ini menggunakan sistem pemilihan tuan rumah per regional dan dilanjutkan dengan pengambilan keputusan lewat musyawarah antar kampus anggota.

Tujuan dibentuknya KMDGI pun sebetulnya menjadi wadah bagi mahasiswa DKV untuk bertemu, berbagi dan bergembira. Di edisi pertamanya, KMDGI  dirayakan pada tahun 1993 di Universitas Trisakti, Jakarta, dengan total 6 peserta; Universitas Sebelas Maret Surakarta, Universitas Trisakti, Universitas Udayana (kini Institut Seni Indonesia Denpasar), Institut Kesenian Jakarta, Institut Teknologi Bandung dan Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Kini KMDGI sudah mempunyai lebih dari 50 kampus anggota yang tiap tahunnya akan selalu bertambah. Pun untuk menjadi anggota KMDGI ternyata membutuhkan proses yang cukup muluk, karena kampus tersebut harus melewati proses sampai 6 tahun agar memperoleh keanggotaan tetap sehingga nantinya bisa menyuarakan pendapat pada forum serta berpameran pada festival KMDGI-nya.

Agaknya bulan November di Semarang ini hawa sedang panas-panasnya. Betul, teriknya matahari ini cukup membuat peserta KMDGI kelelahan, emosi, gerah dan bingung, terbukti dengan hadirnya  teriak-teriak panas yang berkumandang di perhelatan festival KMDGI, kiranya menambah kejenuhan peserta dan pengunjung pula.

Akan tetapi, DKV UNIKA Soegijapranata selaku tuan rumah di perhelatan KMDGI ke-12 ini dapat menyuguhkan konsep acara, seminar, serta workshop yang setara dengan festival atau forum internasional lainnya. Bagaimana tidak, mereka dapat menghadirkan tokoh-tokoh kunci di dunia desain grafis era ini, di Semarang pula. Apresiasi patut diberikan kepada mereka yang sudah bekerja keras! Hal itu pun dapat dilihat dengan jelas dari branding maupun visual yang dihadirkan di akun resmi Instagram-nya. Tak perlulah saya membual, cek saja akun @kmdgi jika ingin tahu lebih lanjut.

Capaian preferensi tuan rumah untuk acara KMDGI XII ini pun sebetulnya cukup jelas dan tertata. Awalnya saya dapat menebak atmosfer acara ini akan dibawa selayaknya gelaran mahasiswa desain grafis seperti Plaza Desain (Binus) maupun Ultigraph (UMN). Tapi entah mengapa formula yang sudah digodok menjadikan gelaran ini dirasa kurang pas dan kaku. Mungkin agaknya tuan rumah tak cukup memetakan atmosfer acara ini dengan delegasi maupun pengunjung yang datang.

Namun KMDGI XII ini malah dilirik sebagai acara tunggal kampus. Memang pada kesepakatannya kampus tuan rumah mempunyai kuasa dalam menggodok runut acara KMDGI, walaupun diperbolehkan berkolaborasi, akan tetapi UNIKA masih dirasa kurang cermat dalam segi teknis maupun konsep yang diusungnya ini.

Mari kita kupas konsep yang diusungnya. Isu kesetaraan menjadi latar belakang konsep yang diangkat oleh UNIKA. Menarik karena memang Indonesia sedang hangat-hangatnya diterjang oleh isu ini. Akan tetapi menjadi bias ketika tajuk “Udah Sama?” malah menjadi tema acara ini dengan tendensi penyeragamannya. Kenapa harus “sama” untuk mencapai kesetaraan? Maka dari itu tema seperti ini layaknya tak bertuan dan agaknya harus dihindari agar tak membuat miskonsepsi.

Bukannya tidak siap dalam menjamu tamu, akan tetapi miskomunikasi di pihak internal tuan rumah sendiri cukup semrawut dan mengakibatkan acara berjalan di luar kendali panitia sendiri. Hal teknis lapangan pun sepertinya tidak dipersiapkan secara matang dari jauh-jauh hari, maka terjadilah hal-hal yang cukup membuat kewalahan. Tak perlu saya jelaskan secara perinci, tapi bisa saya sebutkan apa saja kendala teknisnya: jarak panggung seminar dengan booth karya yang sangat dekat, flow pameran yang berantakan, listrik padam seharian, liaison officer yang kurang komunikatif, perombakan jadwal yang tak menentu, sampai kasus yang terkesan sepele namun cukup fatal, yaitu penempatan denah untuk kampus UPN Veteran Surabaya yang malah ditempatkan di regional Jakarta. Tidak adanya lounge atau tempat untuk bertegur sapa yang leluasa pun mengakibatkan booth masing-masing kampus menjadi titik kumpul para mahasiswanya.

Menjadi poin kritis pula di KMDGI kali ini, yaitu adanya kemitraan yang cukup berintrik. Pada dasarnya KMDGI ialah titik temu mahasiswa, yang selain itu juga tempat bagi mahasiswa untuk berkarya secara idealis dan seliar-liarnya. Tidak dapat tergabung ke ranah komersil, karena pengkaryaannya tidak ditujukan ke arah tersebut. Intinya ialah pada acara ini kita sebagai mahasiswa DKV dapat membuktikan diri dengan karya yang imajinatif, kreatif dan komunikatif. Syarat untuk berjualan perihal nanti, kami ini, kan, sedang lebaran?

“KMDGI sendiri entah berdiri sebagai acara maupun sebagai organisasi pun masih menjadi permasalahan,” tutur Eka Belaw, ketua Senat Seni Rupa IKJ. Selama ini yang diketahui adalah KMDGI merupakan forum dengan keanggotaan yang terbatas, baik itu mekanisme kesekretariatan untuk pengadaan AD/ART maupun pengarsipan yang dimuat bagi anggota. Dikarenakan KMDGI ini selalu menjadi acara estafet bagi tuan rumah pendahulunya untuk tuan rumah mendatang, semua ditransfer dan dikelola oleh manajemen tuan rumah baru. Hal tersebut malah membuat buram tujuan KMDGI, seperti efektivitas penyuluhan, pemetaan desain bagi masyarakat dan pengetahuan mengenai KMDGI terdahulu sekali pun. Tak luput jika unsur transparansi pada tiap-tiap perhelatan juga tidak dapat terlacak dengan pasti.

Mau dikata apapun jua, apresiasi terhadap tuan rumah KMDGI XII Unika Soegijapranata tetap tidak akan pudar karena dengan segala jerih payahnya terciptalah lebaran kami. Di akhiran ini, saya sebagai mahasiswa desain grafis pun malah menaruh kemasygulan untuk perhelatan ke depan. Juntrungan KMDGI ini akan terarahkan ke mana dan akan berbuah apa? Sekedar hore-hore saja, kah? Karena saya menduga KMDGI sudah tidak menjadi pengampu kepentingan yang nyata dan tidak lagi membicarakan birokrasi, akan tetapi hanya sebagai gelaran yang selalu diakhiri dengan terimakasih, maaf dan sampai jumpa. Justru tidak dapat melahirkan statement baik berupa forecasting, aktivasi maupun implementasi  desain ke depan bagi pesertanya. Agaknya, perbedaan generasi merupakan satu dari sekian lain hal. Panggung KMDGI sudah sepatutnya bisa menjadi benchmark maupun tren desain grafis mahasiswa Indonesia terkini. Terimakasih, maaf dan sampai jumpa.

 

FotoMaulana Muhammad

Recommended Posts

Leave a Comment

Kontak Kami

Segera dibalas ya...

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

X