Nashar: Alam

 In Ulasan

“Melawan teori dengan meniadakan teori.”

Kalimat ini terdapat pada keterangan lukisan milik Nashar yang berjudul “Alam”. Lukisan ini dipamerkan pada pameran “Lukisan Tanpa Teori” di Galeri Cipta 3, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Semua lukisan yang dipamerkan adalah milik para pelukis maestro seperti Oesman Effendi, Rusli, Zaini dan Nashar dan dikoleksi oleh Dewan Kesenian Jakarta.

Lukisan “Alam” milik Nashar adalah salah satu yang cukup membuat saya terkejut karena merupakan bentuk perlawanan terhadap teori-teori seni rupa pada umumnya khususnya pada lukisan alam, seperti proporsi, volume, kesan jauh & dekat dan juga pembagian cakrawala (bumi dan langit). Nashar menggambar bentuk alam sesuai apa yang dia inginkan tanpa memikirkan bentuk asli yang dia lihat. Lukisan ini juga, menurut saya, menggambarkan tentang “seni yang sesungguhnya”. Nashar melukis karena panggilan jiwa dan juga benar-benar bebas tanpa harus memikirkan teori-teori yang cukup mengikat para seniman untuk berkarya.

Dibandingkan lukisan-lukisan milik Nashar yang lain, “Alam” adalah suatu perlawanan estetik terhadap seniman-seniman lama yang sangat mementingkan “teori” seperti S.Sudjojono, yang juga adalah guru Nashar sendiri, dan karya ini adalah salah satu yang mengajarkan para calon perupa bahwa seni adalah suatu yang benar-benar bebas tanpa pernah memikirkan orang lain – suka ataupun tidak –, dan melukis adalah panggilan jiwa.

Pernah saya membaca salah satu artikel di internet tentang Nashar. Ketika dia mengadakan pameran tunggal, dia tidak pernah memikirkan apakah karyanya akan terjual banyak atau tidak, dia hanya ingin orang-orang melihat karyanya dan itulah yang jarang saya temukan pada perupa era sekarang, yang sangat memikirkan segi komersial ataupun teori-teori seni rupa pada umumnya yang cukup mengikat.

Pada keterangan lukisan “Alam” tertulis juga:

Sementara dalam penggambaran alam oleh Nashar ini merupakan murni intuitif, non-representatif dan non-estetik bertolakbelakang dari tataran Romantisme dan apa yang dilakukan PERSAGI tadi, sehingga lukisan ini bisa menjadi titik yang lebih radikal daripada tawaran Sudjojono yang juga guru Nashar sendiri.”

Setelah saya membaca keterangan tersebut muncul suatu pertanyaan di dalam kepala saya, dan akan saya tanyakan ke semua orang, “Lantas seni yang sebenarnya seperti apa?” “Apakah seni terikat dengan teori yang rumit dan mementingkan selera orang lain, atau bebas untuk mengungkapkan sesuatu?”

Ulasan ini merupakan bagian dari editorial Mahasiswa dengan Teori.

Recommended Posts

Leave a Comment

Kontak Kami

Segera dibalas ya...

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

X