Nashar: Renungan Malam

 In Ulasan

Tertera 4 nama pelukis fenomenal Indonesia. Karya mereka disuguhkan dalam sebuah pameran yang memersatukan keabstrakan mereka, dan itu cukup untuk membuat mata saya berbinar ingin menyaksikan pameran yang diberi judul “Lukisan Tanpa Teori” di Galeri Cipta 3, Taman Ismail Marzuki, mulai dari 8 hingga 23 November 2017.

Ialah Nashar, Oesman Effendi – yang juga akrab disapa OE –, Rusli, dan Zaini. Masing-masing dari mereka memiliki latar belakang Sumatera Barat-nya sendiri. Nashar lahir di Pariaman seperti halnya Zaini, OE lahir di Padang, sedang Rusli, walaupun lahir di Medan, tetapi berdarah campuran Minang yang didapat dari sang ayah. Sama-sama memiliki asal-usul Sumatera Barat tetapi tentu berbeda kisah hidup antar satu dengan yang lain, mereka mengalami proses yang berbeda, hal ini pastinya turut membentuk karakter dan cara penghayatan yang berbeda pula pada masing-masing pribadi baik dalam cara menjalani hidup maupun cara berkarya.

Malam pembukaan adalah kesempatan pertama saya berhadapan langsung dengan karya-karya para maestro tersebut, Selasa (7/11). Saya menyiapkan diri saya untuk  tidak memikirkan apapun dan melawan tendensi yang sangat kuat – karena sangat alami, apalagi ketika melihat hal yang baru (dan ini sudah tentu terjadi dalam karya-karya abstrak) setidaknya bagi saya – yaitu untuk bertanya “Apa ini?” “Apa yang ingin disampaikan oleh pelukis lewat ini?” “Kenapa ia melukis ini?” yang kemudian akan menggiring saya untuk berasumsi macam-macam dan tanpa dasar yang sesuai. Tidak. Jangan buru-buru, ingat saya pada diri saya sendiri. Saya putuskan untuk membiarkan diri saya sepenuhnya udik, terpantul sana-sini mengamati dan mengalami setiap lukisan, berhadapan dengan warna, garis, tekstur dan wujud-wujud  asing tanpa usaha menerjemahkannya menjadi sebuah konsep yang masuk akal, lalu pulang dan membiarkan semuanya mengendap tanpa kesimpulan apapun; Membiarkannya, lalu kemudian berkunjung lagi di lain hari untuk mengamati kembali. Demikian rencana saya.

Namun, tidak berarti saya serta merta tanpa preferensi. Saya mengakui pada kunjungan pertama di malam pembukaan, saya secara pribadi terpikat oleh energi lukisan Nashar, baik itu “Pemandangan” (1971), “Babi” (1972), “Model Bertiga” (1975), “Alam” (1977), dan yang menarik perhatian saya, “Renungan Malam” (1978). Warna-warna yang digunakan sangat beragam, cerah dan pekat, dan ketika menghayati lukisan Nashar, saya mengingatkan diri saya untuk menimbang dengan tidak melupakan kredo Tiga Non-nya yang mencakup non pra-konsepsi, non estetik akademis dan non teknik akademis. Maka sapuan warna yang saling menimpa dan tidak merata, pendekatan dalam memunculkan bentuk yang adalah di luar dari aturan-aturan melukis konvensional yang diajarkan turun-temurun, dan kemunculan wujud-wujud ajaib nan menarik ini murni dari penghayatan Nashar dan usahanya menangkap rohnya sendiri, apa yang diinginkan jiwanya (bicara jiwa, ketika Nashar masih menjadi pengajar di LPKJ, beliau adalah pengajar yang percaya bahwa penting untuk melatih jiwa berkesenian para siswa, selain membekali mereka dengan pengetahuan teknik dan teori dalam berkarya), dan menangkap nyawa atau esensi dari hal yang dilukisnya.

Maka ketika saya berhadapan dengan karya Nashar, saya harus siap dengan kacamata Tiga Non tersebut, siap terbuka dan menghargai, bukan menghakimi apalagi dengan teori-teori akademis yang bahkan tidak diberlakukan oleh Nashar sendiri dalam karyanya. Nashar’s world, Nashar’s rules, dan pada kunjungan ketiga, saya terpaku menikmati dinamikanya lukisan tersebut, berikut analisa saya:

– Warna abu-abu disapukan pada seluruh bagian kanvas sebagai dasar

– Di tengah-tengah lukisan terdapat bidang yang dibangun dari warna hijau yang disapukan di atasnya namun tidak menutup habis warna dasar abu-abu tersebut, seolah membiarkannya mengintip-intip keluar, bidang hijau memiliki dua bagian, bidang bagian atas yang lebih lebar, bagian bawah yang memanjang lalu mulai menyempit (terbangun ilusi dalam pikiran saya bidang tersebut menekuk, seperti objek yang sedang duduk), lalu dibubuhkan titik-titik dari di sekitar objek menggunakan warna hijau yang sama, dan terdapat 6 garis panjang terhubung pada pada samping kiri-kanan; bersusun.

– Susunan garisnya (dari atas); kuning-hijau-kuning tercampur abu-abu.

– Susunan garis paling atas berwarna kuning. Garis kuning di sebelah kanan melambung ke atas membentuk kurva di bagian depannya kemudian mulai menurun di belakangnya. Garis kuning di sebelah kiri terangkat  di depannya kemudian mendatar.  

– Garis berwarna hijau yang tersusun di tengah. Berjarak cukup dekat dengan garis susunan atas. Garis sebelah kanan terangkat di bagian depan kemudian turun dengan jarak lebih dekat, membentuk kurva lebih tajam dengan jatuhan yang lebih curam kemudian disusul dengan sedikit lambungan lagi. Garis di sebelah kiri mendatar di awal lalu berangsur-angsur naik, lalu berlanjut datar.

– Garis yang berada paling bawah, adalah garis kuning yang tercampur dengan warna abu-abu dari tengah hingga ke ujungnya. Berjarak cukup jauh dari garis hijau yang berada di tengahnya. Garis di sebelah kanannya cenderung datar (datar, bukan lurus kaku). Sedangkan garis sebelah kirinya kali ini menurun.

– Warna coklat yang lebih pekat disapukan menimpa bagian di bagian bawah objek hijau dengan 6 garis tersebut, dan masih memunculkan warna dasar abu-abu pada sisi dalamnya.

– Lalu tarikan garis berwarna cokelat tua, yang mengelilingi objek hijau, garis tidak ditarik, berhenti, terputus, dan dimulai lagi sehingga tidak menimpa ke-6 garis sebelumnya, untuk memberikan kesan seolah garis coklat tua ini berada di belakang objek hijau dengan 6 garis tersebut. Garis coklat tua juga tarik pada bagian bawah bidang cokelat pekat tersebut, seolah menyelinap keluar, memberikan kesan bahwa bidang tersebut menimpa garis tersebut. Di atasnya dibuat garis melancip, kemudian diisi dengan warna cokelat, kemudian cokelat muda yang disapu tidak merata, dan tertangkap sedikit bercak warna jingga kemerahan,

– Terdapat aksen dengan warna jingga kekuningan yang terang, ditorehkan mengikuti lengkung garis cokelat tua yang ada di atas dan diterakan berupa garis pendek putus-putus di bagian tengah bersama dengan garis pendek putus-putus berwarna hijau, dan warna jingga kekuningan tersebut juga  dibubuhkan pada bagian kiri bawah, dengan dengan sentuhan warna cokelat  pada bagian luarnya.

– Warna hijau pudar disapukan menimpa dasar abu-abu tersebut dari bagian atas hingga ke tengah kanvas dengan warna kuning pudar yang ditorehkan putus-putus dan bertaburan, tidak teratur, namun hanya terdapat di bagian paling atas. Warna kuning pudar tersebut juga disapukan pada bagian bawah kanvas, di bagian tengahnya ditimpa lagi dengan warna hijau pudar tesebut seolah menguak bidang hijau pudar yang tertutup oleh bidang kuning pudar tersebut. Kedua warna yang ditimpakan ini juga tidak disapukan menutup rata bagian dasar abu-abu tersebut, dan hal tersebut dapat terlihat dari kesan bercak yang terdapat pada permukaan.

– Selanjutnya pada bagian timpaan warna abu-abu dengan nuansa cokelat kehijauan yang berada di tengah kanvas. Warna lapisan pertama lebih terang dan ditemukan juga pada bagian bawah kanan, seolah-olah keluar. Lalu lapisan kedua dengan tone yang lebih gelap, warna ini juga disapukan menulusuri bentuk luar dari bidang berwarna cokelat pekat, objek hijau beserta dengan 6 garisnya (pada garis susunan paling bawah dapat dilihat bahwa warna lapisan kedua ini tidak ditorehkan rapi tetapi menimpa, menyelebungi garis sehingga garis kuning tersebut tampak lebih gelap dari bagian tengah hingga ujugnya) seolah melingkupi namun menyisakan bagian warna dasar abu-abu untuk tetap terlihat, sekali lagi kedua lapisan ini tidak disapu secara merata, sehingga tetap memunculkan efek bercak pada permukaan seperti sebelumnya.

– Timpa menimpa warna sangat nyata pada lukisan ini (dan tampaknya ini yang menjadi ciri abstrak Nashar), juga kesan depan-belakang serta jauh dan dekat melalui permainan warna dan garis.

Selain karya-karya Nashar, OE, Rusli dan Zaini koleksi milik Dewan Kesenian Jakarta, saya juga tersihir oleh permainan musik cemerlang dari seorang musisi bernama Adra Karim yang sengaja diundang oleh penyelenggara. Mengutip penjelasan yang tertera pada karya OE.

“Oesman Effendi menunjukkan gagasannya tentang lukisan yang berdasar pada kepekaan akan “irama alam”. Dasar irama alam inilah yang menimbulkan kesan sinestesia atau ‘memusik’.”

Bagi saya musik yang disuguhkan sangat membantu pemirsa dalam menikmati, membangun imaji, dan berkoneksi dengan karya. Ia berhasil menghadirkan sinestesia tersebut dan menangkap spirit baik dalam arti nyawa, roh, esensi dari karya-karya tersebut sebagaimana keempat seniman menangkap spirit dan menyihir kita melalui lukisan-lukisannya, serta menangkap spirit dalam arti jiwa para seniman tersebut, hal ini sangat memperkaya sensasi dalam menikmati pameran ini. Untuk itu kepada Dewan Kesenian Jakarta, kedua kurator Leonhard Bartolomeus dan Gesyada Annisa Namora Siregar, serta musisi Adra Karim saya ucapkan terima kasih atas pengalaman ini. Kalau kata Nashar dan Zaini, “magis”.

Ulasan ini merupakan bagian dari editorial Mahasiswa dengan Teori.

Recommended Posts

Leave a Comment

Kontak Kami

Segera dibalas ya...

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

X