Rusli: Perahu-perahu

 In Ulasan

Pameran “Lukisan Tanpa Teori” yang di dalamnya diisi oleh empat serangkai maestro lukis Indonesia, Nashar, Rusli, Oesman Effendi dan Zaini membuat pengunjung menyimak dalam pemaknaan yang luas. Kalimat “tanpa teori” memang benar adanya, lukisan-lukisan yang dipamerkan tampak abstrak dan tanpa makna, namun menghasilkan interpretasi yang beragam dari segelintir orang yang melihat. Dialog berbasiskan imaji membuat berbagai macam reaksi dan pendapat. Lalu apakah lukisan “tanpa teori” ini tetap menjadi penyebab masalah yang ambivalen, yaitu mengerti atau tidaknya pengunjung terhadap sebuah lukisan?

Dari 16 lukisan yang dipamerkan, yang mengusik di pikiran adalah lukisan “Perahu-perahu” tahun 1978 oleh Rusli. Goresan kuasnya yang liar membuat objek yang digambarkan sulit dipahami jika tidak melihat judulnya terlebih dahulu. Lukisan tersebut terkesan sepi karena menyisakan banyak ruang kosong di kanvas dan hanya terdapat sedikit goresan. Terdapat empat warna yang terbatas, yaitu merah, kuning, biru dan hijau, namun lebih didominasi oleh warna kuning. Beberapa warna saling bersentuhan satu sama lain dan membentuk kontur yang sepertinya tidak direncanakan.

Jika nilai estetis yang dituju, lukisan ini tidak mendapat tempat utama di situ. Bukan berarti pula lukisan ini tidak estetis, namun kepuasan sang pelukislah yang menjadi nilai penting. Rusli mengekspresikan perasaannya sendiri, tanpa melihat unsur-unsur lain.  Tentu saja, ia tidak mendapatkan objek-objeknya secara tiba-tiba, melainkan melalui proses yang panjang. Lebih banyak waktu untuk proses perenungan dan mengamati dibandingkan mengungkapkannya dalam proses eksekusi, apalagi dengan garis-garisnya yang terkesan abstrak, liar dan lincah. Sehingga akhirnya ia bebas mengolah objek menurut ekspresi estetis dirinya.

“Lukisan Tanpa Teori” sepertinya akan tetap berkutat pada masalah mengerti atau tidak mengertinya publik jika yang dituju adalah memahami, karena cukup sulit untuk memahami sebuah lukisan. Dibutuhkan wawasan seni sebagai nilai dasar untuk melakukan pemahaman. Berbeda hal ketika yang dituju adalah menikmati, yang cenderung lebih melibatkan unsur psikologis atau emosional. Seseorang akan mudah untuk menilai sebuah lukisan berdasarkan pengalaman visual maupun faktor lain dari dirinya. Terharu dan terpesona merupakan salah satu bentuk respons emosional seseorang terhadap lukisan, sehingga terdapat hubungan secara emosional terhadap lukisan yang dilihatnya.

Memahami dan menikmati lukisan memang sulit dipisahkan, pada intinya memahami cenderung lebih kepada argumentasi rasional tentang “Mengapa lukisan tersebut sedap dipandang?” Sedangkan menikmati adalah bagaimana kita dapat berhubungan secara emosional terhadap lukisan tersebut. Namun bukan berarti pemisahan memahami dan menikmati ini bersifat permanen, karena tidak menutup kemungkinan keduanya dapat bersinggungan atau beriringan sehingga dapat saling mempengaruhi satu sama lain antara memahami dan menikmati.

Ulasan ini merupakan bagian dari editorial Mahasiswa dengan Teori.

Recommended Posts

Leave a Comment

Kontak Kami

Segera dibalas ya...

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

X