Rusli: Tanah Lot

 In Ulasan

Berbeda dengan desainer grafis, seniman bisa menuang elemen yang lebih leluasa ke dalam karyanya. Tanpa harus memikirkan bagaimana publik menelaah karyanya nanti, atau pun bagaimana dampak lukisannya terhadap khalayak. Bebas, satu kata yang melintas ketika mendengar seniman berkarya. Namun di balik kata “bebas” tadi, ternyata tersembunyi berbagai teori ataupun teknik yang mendalangi tangan seniman saat berkarya. Entah teori itu diciptakan sendiri oleh perupa tersebut, atau pun tertanam diam-diam oleh pengajarnya.

Pertanyaannya adalah, apakah teori-teori itu membatasi kebebasan perupa? Jawabannya mungkin tentatif, karena menurut saya itu kembali ke perupa masing-masing, apakah perupa itu menganggap sebuah teori sebagai belenggu, atau tidak? Karena pada dasarnya, bebas adalah sesuatu yang dirasakan. Bila teori diibaratkan sebagai pakaian, ada orang yang memilih menggunakan baju yang pas dan ada juga orang yang lebih nyaman bila bertelanjang.

Pameran “Lukisan Tanpa Teori” yang diadakan di Galeri Cipta 3, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, menghadirkan 4 pelukis yang bagaikan menolak memakai baju. Merekalah Nashar, Oesman Effendi, Rusli dan Zaini yang bertelanjang teori dalam menghasilkan karya-karya mereka. Total 16 lukisan dipajang di pameran yang dikuratori oleh Gesyada Annisa dan Leonhard Bartolomeus ini.

Di tengah decak kagum bercampur rasa heran saat melihat-lihat karya yang dipamerkan, pandangan saya terpaku ketika berhadapan dengan lukisan Rusli yang berjudul “Tanah Lot”. Pelukis kelahiran Medan ini berhasil melengkungkan bibir saya hingga tersenyum saat di galeri malam itu, karena di antara sekian lukisan yang dipamerkan, hanya lukisan beliaulah yang saya mengerti. Goresan kuasnya yang sederhana dengan warna yang representatifnya membuat saya sumringah karena apa yang saya tangkap sama dengan judul yang terpampang.

Lukisan tahun 1977 itu memang merupakan lukisan abstraksi dari panorama Tanah Lot, Bali. Tidak seperti teknik lukis realis, lukisan ini tidak menggunakan gelap terang, tanpa volume, tidak adanya depth of field, tidak menggunakan intensitas warna, maupun teori lainnya. Semua digores murni menggunakan rasa. Warna biru yang merepresentasikan warna laut mendominasi dengan goresan kuas besar yang cekung mendebur. Kuningnya janur melengkung tunduk dan hitam kasarnya bebatuan dilukis dengan minimalis namun tetap memberi rupa yang cukup agar audiens tetap bisa menerka bentuk yang dimaksud.

Saya sering berkhayal dan menempatkan diri saya sebagai publik yang tidak begitu paham dengan seni. Membayangkan diri saya jalan-jalan bersama sanak famili menuju galeri untuk rekreasi. Melihat sebuah mahakarya pelukis abstrak ternama, namun tidak mengerti apa yang diluapkan oleh pelukis dan akhirnya saya tidak bisa ikut menikmati karya tersebut sebagaimana pengamat seni yang berdiri di sebelah saya. Namun beda dengan melihat lukisan seperti karya-karya Pak Rusli, saya pasti tersenyum dan bisa menjelaskan ke anak-anak saya, “Dek, liat tuh, warnanya membentuk perahu, dan yang itu membentuk ombak.”

Pada intinya, saya pribadi kagum dengan lukisan Rusli karena minimalismenya yang kuat. Kesederhanaann goresan kuasnya tetap memberi impresi yang jelas dan tidak membuat publik keheranan akan lukisan yang dibuat. Karena tidak semua orang memahami ilmu estetika, tetapi semua orang dapat menikmati sesuatu yang mereka lihat.

Ulasan ini merupakan bagian dari editorial Mahasiswa dengan Teori.

Recommended Posts

Leave a Comment

Kontak Kami

Segera dibalas ya...

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

X