Mahasiswa dengan Teori

 In Informasi

Ide ini berangkat setelah saya membaca caption poster pameran Lukisan Tanpa Teori di Instagram. Cukup diawali dengan dua-tiga baris (jika dilihat via gawai), namun sadis. Begini tulisannya:

“Sebab lukisan pada dasarnya adalah polesan cat di atas kanvas, perlukah teori dalam melukis?”

Perlukah? Entah pertanyaan ini menuai berapa banyak respons, tapi tanggapan yang paling membuat saya penasaran adalah dari benak para mahasiswa seni rupa, karena mereka adalah anak muda yang sedang menjalani pendidikan seni, mencari-cari makna seni, dan anggaplah dalam fase ini mereka mempelajari “teori” seni. Saat pembukaan pameran (7/11), banyak mahasiswa yang datang. Melihat mereka memandangi lukisan para penyandang titel maestro ini, saya berandai, dialog apa yang hadir antara mereka dengan lukisan-lukisan yang sebagian besar merupakan abstraksi pemandangan?

Malam itu saya langsung menggagas “Mahasiswa dengan Teori”. Saya undang beberapa mahasiswa yang memiliki minat pada kajian seni rupa untuk menulis tentang satu lukisan favorit mereka, entah Nashar, Rusli, Zaini, maupun Oesman Effendi, dalam bentuk ulasan. Sederhana, saya mengajak mereka untuk menulis deskripsi, analisa dan interpretasi lukisan pilihannya, sebagaimana tiga tahapan inilah yang diajarkan ketika mereka membuat makalah apresiasi seni di kampusnya. Tiga tahapan ini menjadi bingkai tulisannya, namun tahapan mana yang porsinya lebih besar, itu kehendak para penulis.

Di balik dedahan-dedahan, ada kejujuran sekaligus kepolosan yang terasa, dan menurut saya ini menarik. Setelah melihat lukisan “Alam” milik Nashar, Muhammad Khrisna kembali mempertanyakan makna seni. Apa itu seni bagi Khrisna? Agaknya renungan-renungan Nashar merasuk ke jiwanya. Berbeda dengan Naufal Aflah yang menyimpulkan adanya dialog emosi setelah menyimak “Perahu-perahu”-nya Rusli. Asy-Syauqi pun memiliki jawaban yang serupa ketika menyimak “Tanah Lot” milik pelukis yang sama. Ia menganggap ada nilai emosi yang terlihat dari kesederhanaan goresan lukisnya. Sementara Selvi Angelita mengupas habis jiwa yang ada di balik sapuan-sapuan warna “Renungan Malam”-nya Nashar. Ia pun banyak merefleksikan pengalamannya saat menyimak lukisan Tiga Non tersebut. 

Zaini dan Oesman Effendi tidak terjamah di kumpulan tulisan ini. Walau saya mengharap semua pelukis dapat jatahnya, kumpulan ini tetap merefleksikan tujuan editorial yang dimaksud.

Mahasiswa dengan Teori tidak bermaksud untuk memunculkan teori seni secara harfiah, apalagi tulisan yang teramat ilmiah. Para penulis, berbekal “teori” seni rupanya, diajak untuk kembali memaknai proses kreatif seniman melalui  lukisan-lukisan “tanpa teori”. Jika dalam lukisan teori seni bisa diabaikan, lantas apa yang kemudian bisa dimaknai? Klik empat nama di atas, dan inilah para mahasiswa dengan teori. 

 

Recommended Posts

Leave a Comment

Kontak Kami

Segera dibalas ya...

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

X