Malam Penghargaan 32° Art Award 2017

 In Informasi

Komplotan Jakarta 32°C telah menyelenggarakan Malam Penghargaan 32° Art Award 2017, Rabu (20/9). Setelah terdaftar lebih dari 1700 karya dan proyek seni yang masuk, Komplotan bersama Dewan Juri telah memilih 11 finalis, 5 honorable mention, dan 3 pemenang.

Kriteria penilaian meliputi kompleksitas dan kebaruan dari segi gagasan artistik dan tematik, serta eksplorasi medium dan penguasaan teknik. Para finalis dan pemenang telah melalui proses seleksi yang ketat oleh para Dewan Juri yang terdiri dari Ade Darmawan (seniman dan programer seni), Agung Hujatnikajennong (kurator dan pendidik), Hikmat Darmawan (budayawan dan pengamat budaya populer), Aprina Murwanti (penggiat seni serat dan pendidik), dan Zinnia Sompie (penggiat desain grafis dan pendidik).

Honorable Mention merupakan kategori yang dibuat Komplotan di luar pilihan Dewan Juri, dikarenakan masih terdapat karya yang dilihat penting dan memenuhi kriteria pemilihan. Anugerah Honorable Mention diberikan kepada (sususan alfabetis):

  • Adi Sundoro, 25 tahun, “Come Closer to The Sea”, fotolitografi pada kertas dan stensil pada plastik mika, 2016 (Jakarta)
  • Arif Furqan, 28 tahun, “Indonesian Randoms”, fotografi dan cetak digital di buku akordion, 2017 (Yogyakarta)
  • Ario Fazrien, 25 tahun, “Shalawatan”, video, 2016 (Bekasi)
  • Galih Adika Paripurna, 23 tahun, “Robin Hood”, proyek seni, 2016 (Bandung)
  • Tentrem Local Space, 24 tahun, “Javanese Urban”, fotografi, 2016 (Surakarta)

 

Para Honorable Mention 32º Art Award 2017.

 

Juri Hikmat Darmawan dan Zinnia Sompie mengumumkan 11 finalis 32° Art Award 2017. Karya-karya ini dipilih karena suguhan segi konseptual dan kemampuan teknis (skill) yang paling menonjol, apalagi jika ditilik dari perkembangan seni visual di jalurnya masing-masing, baik dari jalur seni rupa yang akademis dan non-akademis, jalur eksperimental, jalur komersial, jalur populer hingga jalur geografis.

Para finalis ini bisa mengartikulasikan kekritisan, mengemas visual secara ulet, membawa narasi keseharian yang tidak klise, serta memiliki peluang untuk berkembang dan memperkaya skena seni rupa masa depan. 11 Finalis 32° Art Award 2017 adalah (sususan alfabetis):

  • Andre Yoga, 23 tahun, “Payung Instruksi”, seri ilustrasi, 2017(Denpasar).
  • Andrianto Suryagani Efendy, 24 tahun, “Scene 360 #1”, fotografi, 2017 (Batam).
  • Faisal Rahman Ursalim (Icaldis), 28 tahun, “Cipta Kreasi Family”, seni interaktif, 2016 (Jakarta).
  • Jantan Betina (Diodoran & Raslene), 26 tahun, “Only Believe Things That Are Easy to Understand”, instalasi balon dan video mapping, 2017 (Jakarta).
  • Kusno Drajat, 25 tahun, “Vending Machine”, seni eksperimental, 2015 (Jakarta).
  • Leo Sihombing, 23 tahun, “Chair”, seri ilustrasi, 2017 (Medan).
  • Maryo Pratama, 26 tahun, “Kelesuan”, instalasi media campuran, 2016 (Bekasi).
  • Moch Hasrul, 26 tahun, “The Power of Bibibtulit”, instalasi seni interaktif, 2017 (Tangerang Selatan).
  • Muhammad Imran Saputra, 24 tahun, “Terkesima”, gif, 2016 (Makassar).
  • Nurrachmat Widyasena, 27 tahun, “LAPAN Operasi Hiu Terbang”, media campuran dan benda temuan, 2016 (Bandung).
  • Robet & Olga, 23 tahun, “Wet Dream”, instalasi seni tekstil, 2016 (Solo).

 

Para Finalis 32º Art Award 2017 bersama juri Zinnai Sompie (ujung kiri) dan Hikmat Darmawan (ujung kanan).

 

3 pemenang 32° Art Award 2017 diumumkan oleh juri Ade Darmawan dan Aprina Murwanti. Karya para pemenang meraup semua voting dari kelima dewan juri. Mereka menunjukkan penjelajahan artistik terkuat dari masing-masing jenis karya, medium, dan generasi sekarang yang telah mengirimkan karyanya di 32° Art Award selama tiga bulan terakhir.

Baik dari ukuran hingga gaya lukisnya, karya pemenang ketiga  memberikan daya pemikat emosional yang kuat melalui praktik seni rupa yang konvensional. Gagasannya relevan dengan isu sosial, serta dieksekusi dengan matang dan cermat, baik dari komposisi dan ketekunan teknis. Ia mengkritisi relasi jual-beli yang menghantui masyarakat dari perusahaan-perusahaan raksasa, dan mediumnya pun tidak menyeleweng dari idealisme ini – pilihan yang sederhana: tinta bak (tinta cina) di atas kertas. Setiap figur dan objek yang dilukiskan pada tiap seri kompak dengan judul dan keresahan yang ingin diartikulasikan senimannya, tidak ada bentuk yang “gratis” dalam seri lukisan berskala besar ini.

Dukungan yang diberikan kepada pemenang ketiga ini merupakan wujud keberpihakan pada praktik seni yang bersifat dasar, klasik maupun konvensional, juga merupakan pengingat bahwa dari praktik seni rupa seperti inilah semua generasi pernah belajar. Pemenang ketiga dengan hadiah 25 juta adalah:

Muhammad Sabil, 23 tahun, “Sesuatu Diantara Masyarakat – Dihantui Kebutuhan”, seri lukisan tinta, 2017 (Bandung)

 

“Sesuatu Diantara Masyarakat – Dihantui Kebutuhan”, seri lukisan tinta, 180 x 280 cm, Muhammad Sabil, 2017.

 

Pemenang kedua merupakan seniman yang usianya masih belia, karyanya menunjukkan keberanian dan kejujuran untuk mewujudkan gagasan di luar arus utama. Eksperimentasi dengan menggabungkan seni performans dan seni lukis, imajinasi yang ditampilkan melalui unsur rupa oleh senimannya dieksekusi dengan sangat percaya diri: melukis motif-motif abstrak yang intuitif dengan terus-menerus pada bentangan kain dan kayu, serta menjadikan dirinya sebagai kanvas dan kuas juga.

Dukungan kepada juara dua ini diharapkan dapat membuka kemungkinan atas munculnya kebaruan, kejujuran dan keberanian dalam praktik seni eksperimental di masa depan. Dewan juri terkesan ketika mengetahui sang seniman adalah seorang otodidak. Pemenang kedua dengan hadiah 50 juta adalah:

Gilang Anom, 20 tahun, “Sunscript”, seni lukis dan performans, 2015 (Bandung)

 

“Sunscript”, seni lukis dan performans, Gilang Anom, 2015.

 

Pertanyaan juri ketika memutuskan sang juara adalah karya mana yang paling membutuhkan dukungan? Yang mana yang bisa mementingkan “kemaslahatan umat”? Proyek seni pemenang pertama menjawab pertanyaan tersebut. Bisa dikatakan, ini adalah proyek yang mulia, karena memiliki dampak sosial, budaya, dan kesejarahan yang besar. Dengan menjaring sesama seniman muda, proyek ini telah dan akan mengaungkan manfaat ilmu seni rupa dalam masyarakat. Hal penting yang juga mengesankan juri adalah adanya perancangan dan eksekusi proyek yang holistik, membuktikan bahwa proyek seni rupa dapat menjawab masalah dan tantangan zaman.

Ada praktik interdisiplin yang nyata dan berkualitas dari sastra, desain, seni rupa, sejarah, dan pengarsipan. Ia sukses dalam menghadirkan kembali keterbacaan yang hilang melalui seni rupa, dengan menggaet, mengambil inspirasi dan mempersembahkan karya-karyanya kepada sebuah institusi bersejarah yang kini mulai terbengkalai, yakni Pusat Dokumentasi Sastra H.B Jassin di Taman Ismail Marzuki.

Dukungan yang diberikan diharapkan dapat menghadirkan keberlanjutan manfaat dan memperpanjang kesempatan untuk mengait rantai disiplin ilmu, seniman muda, serta narasi sejarah  lainnya. Pemenang pertama dengan hadiah 100 juta adalah:

Garyanes Yulius, 23 tahun, “Sastra Lintas Rupa”, proyek seni, 2016 (Jakarta).

 

“Sastra Lintas Rupa”, proyek seni, Garyanes Yulius, 2016.

 

Para peraih penghargaan 32º Art Award 2017. Dari kiri: Garyanes Julius, Muhammad Sabil, Galih Anom.

 

Sesuai dengan semangat yang diusung Komplotan Jakarta 32 °C sejak didirikan pada 2004, Komplotan Jakarta 32 °C selalu berupaya melakukan scouting, mencari seniman-seniman muda baru yang mungkin tidak terjamah di arus-arus seni rupa lainnya, dan nurturing, mengemong dan memberikan tempat kepada seniman-seniman muda ini untuk terus bergiat dan menghadirkan karya-karyanya. 32° Art Award 2017 diharapkan dapat memicu semangat berkesenian pelaku-pelaku seni muda ke depannya. “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki anak muda,” begitulah kata Tan Malaka.

Recommended Posts

Leave a Comment

Kontak Kami

Segera dibalas ya...

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

X