Mengalami Seni

 In Ulasan

Bermula dari program Bom Benang 2017 dengan mengerjakan proyek “Benang dan Sungai” yang dimotori oleh komunitas Quiqui Makassar, dibantu The Ribbing Studio dan Tanahindie dalam proses kegiatannya, saya ikut terlibat sebagai tim kerja fasilitator. Saya bekerja mendampingi warga bantaran Sungai Sinre’jala yang terdiri dari ibu-ibu, remaja, dan anak-anak untuk membuat kerajinan dari eceng gondok, melakukan penelitian terkait kandungan air sungai, hingga menggali narasi warga terkait Sungai Sinre’jala, Kecamatan Panakukang, Makassar.

Sebulan menuju perhelatan Makassar Biennale (MB) 2017, tim kerja proyek “Benang dan Sungai” intens melakukan rapat evaluasi di Kampung Buku yang juga merupakan Kantor Yayasan Makassar Biennale. Di waktu dan tempat yang sama, panitia MB 2017 melakukan rapat persiapan menuju pameran seni rupa skala internasional ini. Saya diminta Anwar ‘Jimpe’ Rachman, Direktur Makassar Biennale 2017, untuk ikut membantu kepanitian MB 2017 setelah pameran Bom Benang 2017. Tanpa pikir panjang saya langsung mengiyakannya untuk bergabung bersama tim kerja.

Dalam MB 2017, awalnya saya tergabung sebagai salah seorang anggota tim redaksi Makassar Nol Kilometer (media partner MB), ditugasi melakukan wawancara dengan seniman dan mencatat proses jalannya seminar sebagai bahan tulisan yang akan diterbitkan. Selain itu, menyambi sebagai salah seorang anggota kepanitiaan MB 2017 untuk mengurusi seminar, sekaligus menjadi admin Twitter untuk beberapa hari.

Awalnya, saya tak tahu-menahu soal biennale, terlebih MB yang hadir untuk kedua kalinya. Dengan melewati berbagai kegiatan diskusi/rapat persiapan menuju pameran, mencari tahu gambaran tentang biennale lewat googling, membaca katalog Jakarta Biennale 2015, dan catatan kuratorial MB menjadi referensi saya sebelum ‘mengalami’ biennale. Lambat laun saya punya gambaran tentang pelaksanaan biennale, sekaligus menyadari betapa luar biasanya konsep pameran yang diusung MB 2017 dengan mengangkat tema ‘Maritim’ sebagai momentum untuk berpikir lebih jauh. Melalui rangkaian acara MB 2017 kemudian membuka pemikiran saya terkait peran MB, bukan hanya sebagai ajang seni rupa semata, tapi sekaligus sebagai ruang komunikasi untuk mengutarakan gagasan-gagasan atau isu tertentu terkait kemaritiman dan permasalahan di sekitar kita.

Sebagai orang awam di dunia seni dan masih berstatus sebagai mahasiswa Jurusan Antropologi di Universitas Negeri Makassar, membuat diri saya harus belajar dari awal untuk memahami seni secara umum, terlebih untuk ajang pameran seni rupa kontemporer MB 2017. Dengan menenggelamkan diri di MB, bertemu dan berjejaring dengan orang-orang baru dari berbagai kalangan, merupakan suatu kesempatan yang menyenangkan dapat merasakan atmosfer perhelatan pameran seni rupa skala internasional ini. Kiranya pengalaman ini dapat melatih diri saya untuk membiasakan bertemu dengan banyak orang (jaringan-jaringan dari dalam maupun luar kota), belajar tentang pengorganisiran dan manajemen. Jujur saja, ini adalah pertama kali saya melihat pameran seni rupa sekaligus terlibat dalam kepanitiaannya.

Anggota kepanitiaan MB 2017 boleh dikatakan didominasi orang-orang baru. Hampir delapan puluh persen diisi oleh kalangan mahasiswa dengan disiplin ilmu dan latar belakang berbeda-beda. Hal ini kemudian dalam proses kegiatannya dari segi teknis cukup karut dan membuat panitia kebingungan, kewalahan, dan kelelahan. Demikian juga dengan kemungkinan-kemungkinan terjadinya sesuatu yang tak diduga atau diinginkan saat acara berlangsung.

Makassar di bulan November sedang mengalami musim hujan dan angin yang cukup kencang, mengakibatkan booth pameran digenangi air dan robohnya sebagian partisi/pembatas ruangan, sekaligus tempat beberapa karya dipajang. Ditambah lagi adanya miskomunikasi dengan pihak kampus sebagai tempat penyelenggaraan MB 2017 yang mengakibatkan gelaran ini berjalan di luar kendali, sehingga membuat panitia cukup kewalahan. Tapi, hal ini kemudian dapat diminimalisir secara sigap oleh panitia dengan berpindahnya lokasi MB dari Menara Pinisi UNM ke Fakultas Seni dan Desain (FSD) UNM. Anwar Jimpe Rachman, Direktur MB, dan Dr. Sukarman, mewakili Dekan FSD UNM, dalam sambutannya pada acara penutupan MB, mengapresiasi para tim kerja yang sudah bekerja keras hingga berakhirnya gelaran MB 2017.

Perhelatan MB 2017 berlangsung selama 21 hari, 8-28 November 2017 di Menara Pinisi Universitas Negeri Makassar (UNM) dan Fakultas Seni dan Desain UNM dengan melibatkan dua puluhan seniman dari berbagai daerah Indonesia dan internasional, praktisi/dosen, peneliti, sejarawan, pengusaha, hingga mahasiswa.

Perhelatan pertama MB pada tahun 2015, dalam situs resminya disebut seperti ini, “perhelatan pertama tahun 2015, Makassar Biennale mengusung tajuk ‘Trajectory!,’ yang berupaya meniti tonggak-tonggak sejarah seni rupa di Sulawesi Selatan. Ini bermula dari parietal art yang tergurat pada dinding-dinding gua Leang-Leang, Maros, sekira empat ribu tahun lampau, seni Girlan (pinggir jalan) yang menandai awal munculnya seni rupa modern di Sulawesi Selatan, hingga ragam bentuk artistik yang berkembang pada era 2000-an. Perhelatan ini sekaligus menjadi penanda baru bagi seni rupa di Sulawesi Selatan yang kurang bergeliat dalam lima belas tahun belakangan.”

Konsep yang diusung MB 2017 adalah ‘Maritim.’ Hal ini tak terlepas dari sejarah perkembangan kebudayaan di Sulawesi Selatan atau Sulawesi pada umumnya. Sebagai kota penghelat biennale seni rupa termuda di Indonesia, MB juga menjadi ruang percakapan pengetahuan dengan modus pameran seni.

Refleksi atas sejarah wilayah Sulawesi Selatan menjadi salah satu pertimbangan MB 2017 dalam menetapkan Maritim sebagai tema abadinya. MB hadir bukan hanya sebagai ajang seni rupa atau ajang pajang-memajang karya, tapi sekaligus sebagai peristiwa kebudayaan dan ruang pendidikan dalam arti seluas-luasnya.

Selain pameran karya dari para seniman, adapun pameran UKM dengan memberikan ruang dan peluang bertemu para pelaku UMKM untuk membangun jejaring dan belajar. Dalam rangkaian acaranya, MB 2017 memperkuatnya dengan menyelenggarakan program edukasi publik lewat seminar, wicara seniman, workshop kreatif, pentas seni, hingga peluncuran dan bedah buku. Seminar menjadi program yang cukup strategis, sebab, sebagai peristiwa intelektual, MB dapat menjadi ruang percakapan gagasan-gagasan tertentu dari berbagai kalangan. Ini kemudian dibuktikan dengan diadakannya seminar kemaritiman sebelum MB 2017 dibuka secara resmi.

Saya setuju dengan pendapat kurator MB 2017, Nirwan Ahmad Arsuka, dalam satu kesempatan wawancara, ia mengatakan bahwa ada aktivitas intelektual yang mendahului dan melengkapi kegiatan artistik, dalam hal ini karya para seniman yang tampil di Biennale Makassar ini. Kita memperlakukan biennale bukan hanya sebagai ajang pameran karya dari para seniman saja, tapi juga sebagai peristiwa intelektual yang menyangkut pengetahuan-pengetahuan tentang kemaritiman. Dengan mengajukan pemikiran-pemikiran baru, fakta-fakta baru mungkin disodorkan, kesimpulan-kesimpulan baru kemudian ditarik dari perbincangan berbagai kalangan.

Karya-karya yang ditampilkan para seniman tak kalah menarik untuk dibicarakan, dengan merespons tema Maritim dan diwujudkan dalam bentuk karya dua dimensi maupun tiga dimensi. Sebagai contoh, karya dari Fadriah Syuaib, seniman asal Ternate, sebuah karya lukisan menggunakan dirinya sendiri sebagai objek yang diberi judul “Risk” dengan merespons persoalan sampah plastik atau sampah non organik. Dalam satu kesempatan wawancara, Fadriah mengatakan bahwa Maritim tidak hanya soal laut, banyak hal yang perlu dibicarakan terkait maritim, termasuk sampah. Banyak yang tidak sadar soal sampah organik dan non organik. Hal ini bisa jadi gambaran soal kehidupan yang akan datang.

Karya yang hampir serupa dari segi tema dengan merespons sampah plastik yang kian meningkat jumlahnya secara drastis datang dari Made Bayak, seniman asal Bali. Karya yang satu ini melontarkan kritik refleksi atas situasi kontemporer kehidupan laut kita dengan menghubungkan sejarah Indonesia sebagai jalur perdagangan rempah-rempah yang mempunyai pengaruh besar bagi peradaban dunia. Sebuah karya yang menampilkan peta Indonesia dengan lautnya yang berwarna biru diisi dengan kata ‘sampah’ dimana-mana. Made Bayak, memvisualisasikan karya rupa dari sekelompok murid Sekolah Dasar dari sampah plastik dan botol plastik yang tersebar di sekitar perahu. Ini kemudian menggambarkan bahwa Indonesia sebagai ‘jalur rempah’ kemudian berubah menjadi ‘jalur sampah.’

Tak kalah menarik pula, karya dari Faisal Syarif, seniman asal Makassar, sebuah karya mural berjudul “Reklaim” dengan mengangkat isu reklamasi. Berangkat dari kegelisahannya melihat perkembangan reklamasi yang masih hangat di Makassar maupun di kota-kota lainnya. Karya mural yang dihasilkan Faisal Syarif merupakan respons terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar dan lingkungannya. Melalui gagasan Faisal Syarif dalam menggarap isu reklamasi di Makassar menjadi bacaan visual yang dapat saya hubungkan dengan realita konflik atau penolakan-penolakan dari masyarakat nelayan maupun mahasiswa yang ikut memperjuangkan Tolak Reklamasi di beberapa kawasan pantai di Sulawesi Selatan, khususnya di Kota Makassar.

Selama bekerja dalam Makassar Biennale 2017 dengan menikmati segala prosesnya bersama tim kerja, saling bertukar pikiran dan pengalaman. Saya bersyukur dapat kesempatan terlibat dalam penyelenggaraan ini. Dengan melewati proses yang cukup panjang, sebagai orang baru yang terlibat dalam penyelenggaran biennale, saya menemukan pelajaran dan pengalaman berbeda dari beberapa kegiatan yang pernah saya ikuti sebelumnya. Pengalaman menikmati seni, menghubungkannya dengan realitas sosial di sekitar kita, koneksi dan relasi dengan seniman-seniman dari berbagai daerah di Indonesia maupun luar negeri, kesempatan melakukan wawancara singkat dengan menceritakan pengalaman praktiknya dalam berkesenian, hingga gagasan-gagasan terkait karya yang ditampilkannya. Pengalaman ini merupakan modal besar bagi diri saya sebagai acuan dalam bekerja berbagai hal. Terima kasih banyak, Makassar Biennale.

Tulisan ini merupakan bagian dari editorial Yang Muda Membaca Biennale.

Foto: Tim Dokumentasi Makassar Biennale 2017

Recent Posts

Leave a Comment

Kontak Kami

Segera dibalas ya...

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

X