Mengapa Sekolah itu Tidak Menarik?

 In Ulasan

Jakarta 32°C mengadakan diskusi mengenai pendidikan dalam Bicara Tugas Akhir (BTA) dengan pelbagai sudut pandang. Dalam diskusi tersebut kita menduga pendidikan merupakan persoalan sekolahan. Padahal sekolah bukanlah persoalan pendidikan saja. Masalah-masalah seperti siswa nakal yang bolos, minimnya antusiasme berorganisasi program krida, atau kurangnya tempat bermain, muncul dalam pemaparan bahasan skripsi dan tugas akhir para penyaji.

Anne Nurul Aini, lulusan desain grafis Institut Teknologi Nasional (ITENAS) membahas Branding Ekstrakurikuler Krida (dalam bentuk karya visual). Ekstrakulikuler krida adalah kegiatan keterampilan yakni Pramuka, Palang Merah Remaja (PMR), dan Paskibraka. Siswa perlu wadah ekstrakurikuler dalam aktualisasi diri, sayangnya, krida dalam bayangan orang-orang adalah organisasi yang culun, kaku, dan tidak menarik. Anne pun mencoba membuat branding ekstrakurikuler krida agar membuat kegiatan ini menarik untuk anak muda. ‘Keren’, dalam penelitian Anne adalah kata kunci agar siswa-siswa mau mengikuti ekstrakurikuler krida. Persoalan ‘eskul’ ini di sekolah adalah jika tidak keren’ organisasi ini akan sepi peminat. Ekskul krida yang tidak ‘keren’ ini oleh Anne diubah menjadi lebih muda, lucu, dan menarik. Kita juga bisa menduga lebih dari persoalan branding saja, banyak perihal lain seperti jadwal sekolah yang padat, bimbel, maupun tuntutan prestasi akademik. Sekolah mungkin memang bukan hal yang menarik lagi sebagai tempat belajar.

Pengalaman serupa datang dari Ega Pramudita, seorang lulusan Desain Komunikasi Visual dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Menurutnya, pramuka merupakan kegiatan yang gaungnya adalah sangar. Pengalaman ini ia dapatkan saat mengikuti kegiatan pramuka di Magelang. Ega pun membuat tugas akhir dengan tajuk “Perancangan Buku Ilustrasi Sejarah dan Panduan Pramuka di Indonesia”. berdasarkan pengalamannya mengikuti pramuka serta keprihatinannya pada buku SKU yang tidak menarik karena bentuknya fotokopian. Ega pun membuat buku melalui visual kreatif gaya ilustrasi doodle art.Tugas akhir yang dilakukan Ega serupa dengan yang dilakukan Anne. Penelitian ini berbeda di tengah banyaknya mahasiswa DKV yang gemar membuat aplikasi.

Sekolah pun tempat di mana mulainya hilang kata bermain dalam kamus anak. Menjamurnya sekolah alam adalah indikasi bahwa sekolah tak lagi menjadi tempat bermain. Medista Rani Pranata, mahasiswa lulusan Arsitektur Universitas Tarumanagara (Untar) ini membuat rancangan sekolah alam berbasis bahari. Rancangan ini dicanangkan oleh jurusannya yang memberikan tema ‘Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia’. Rani pun merancang Sekolah Alam Baruna Bahari. Ia menceritakan pengalamannya di sebuah sekolah Jakarta mengenai siswa yang mampu menjawab pertanyaan mengenai bakau. Ironinya, anak-anak tersebut tidak tahu bentuk dan seperti apa bakau itu, padahal sekolah itu dekat dengan pantai. Rani percaya keterlibatan anak dengan alam mempengaruhi proses perkembangan anak. Pelajaran di sekolah hanya melibatkan anak terpaku pada teks, buku, guru, dan kertas. Padahal anak perlu menghabiskan waktu di luar.

Huizuniga, penulis buku Homo Luden, pernah mengatakan bahwa hakikat manusia adalah makhluk bermain. Anak yang bermain adalah unsur kemerdekaan. Namun persoalan yang lebih ditekankan Rani adalah ketersediaan ruang yang luas dalam menciptakan sekolah berbasis alam bahari ini. Persoalan sekolah ini adalah persoalan kaum menengah terdidik dalam perkotaan. Kita perlu membacanya secara politik pendidikan. Semisal, keberpihakan terhadap kaum miskin kota menjadi persoalan yang tak terpikirkan. Ide sekolah ini jelas untuk menunjang anak kaum menengah atas. Saat saya ngobrol-ngobrol dengan Jimmy Ph. Paat, seorang pengamat pendidikan, di akhir sesi diskusi ia  berbicara pada saya mengenai gambaran sekolah yang di pinggiran kota Paris. Sekolah yang diperuntukkan oleh kaum kelas pekerja imigran Prancis itu menjadi sekolah yang menampung anak-anak untuk belajar dan bermain. Justru bentuk sekolahnya tidak elitis. Kota dengan persoalan ruangnya memang menjadi gubuk derita bagi beberapa anak-anak yang ingin bersekolah. Semegahnya desain sekolah yang dibuat Rani tetap disindir seperti bikin gubuk di tengah kota. Barangkali ide Rani menerapkan ide sekolah ini di tengah hiruk pikuk perkotaan yang memuja kemegahan.

Ingatan kita mengenai sekolah juga berujung pada siswa-siswa nakal.  M. Reza Hilmawan, lulusan Antropologi Universitas Padjajaran ini membahas mengenai “Siswa Nakal di SMA”. Persoalan siswa nakal di sekolah bukanlah persoalan moral belaka. Bagi Reza, ada struktur sosial politik yang membangun persepsi kita mengenai siswa nakal. Kita tentu ingat dengan ruang BP atau BK adalah ruang konstruksi makna. Cap  siswa nakal identik dengan ruang itu. Siswa-siswa yang pernah masuk ke ruang itu dianggap sebagai siswa nakal yang melanggar peraturan sehingga perlu didik di ruang khusus seperti BP atau BK. Siswa pun dianggap anak terkutuk, durhaka, kurang ajar atau gila. Sekolah menjadi tempat di mana siswa nakal menjadi sasaran kemarahan. Sekolah menjadi etalase yang jauh dari filosofi pendidikan yang sering disebut sebagai rumah untuk memanusiakan manusia. Dari skripsi maupun tugas akhir yang diangkat di atas jelas merupakan persoalan pendidikan masih identik dengan sekolahan. Sekolah masih dipercaya menjadi juru bicara soal pendidikan.  

Barangkali apa yang dipaparkan Kurnia Yunita Rahayu mahasiswa lulusan Sejarah Universitas Negeri Jakarta (UNJ)  adalah pembahasan yang filosofis nan terkesan berat. Kurnia menjadi penyaji yang memiliki konten yang lebih banyak berbicara soal ide pendidikan sekaligus praksis pendidikan. Filsafat alam pemikiran dari Y.B. Mangunwijaya ditelaah dalam kerangka kajian sejarah pemikiran. Mangunwijaya penulis buku Fisika Bangunan ini bagi Kurnia adalah pengamat pendidikan. Berawal dari tulisan Mangunwijaya di Kompas tahun 1974 yang menulis tentang pendidikan. Mangunwijaya menekankan pada pembangunan tak melulu persoalan pembangunan ekonomi tapi juga pembangunan manusianya.

Bagi Kurnia, Mangunwijaya menekankan pada revolusi kebudayaan yang di dalamnya ada revolusi pendidikan. Kurnia menamainya sebagi konsep “Sekolah Raya Indonesia”. Pengabdian Mangunwijaya ke masyarakat miskin dapat ditelusuri jejaknya di Kedung Ombo dan Kali Code. Keberpihakan dalam pendidikan kaum miskin adalah jejak pengabdian Mangunwijaya dalam membentuk manusia Indonsia. Kurnia menilai keberpihakan dari Mangunwijaya pada kaum miskin yang bermula dari pengamat lalu menjadi pengabdi pendidikan.  

Dalam khazanah pemikiran Mangunwijaya, pendidikan mesti dapat menciptakan: pertama, manusia eksploratif, yakni pendidikan menumbuhkan sikap bertanya pada anak yang dalam kerangkanya dalam berfikir filosofis. Kedua, manusia kreatif yang mempunyai daya cipta dalam iklim kebebasan. Ketiga, manusia integral, yakni manusia mencari alternatif dalam persoalan segi kehidupan apapun. Lalu apakah ketiganya dapat ditemui di sekolah sebagai juru bicara pendidikan?

Hakikat sekolah dalam artian sesungguhnya hanya memperhatikan persoalan jam mengajar, malasnya siswa berorganisasi, peraturan siswa tak boleh merokok, rambut gondrong yang identik dengan kenakalan, serta bayaran tepat waktu saat menjelang ujian. Sedangkan pendidikan lebih dari persoalan itu. Kacamata dalam memandang sekolahan sebagai agenda politik kebudayaan membentuk manusia menurut penguasa. Di sini pendidikan adalah sebuah ide dan politik. Sekolahan adalah bentuk kacamata persoalan politik pendidikan hari ini yang melulu membacanya dengan ekonomi (uang). Kita menduga persoalan pendidikan dari kacamata sekolahan akan membuat sekolah tak lebih tempat yang tidak menarik. Penyelesaian pendidikan pun menjadi teknis dan kaku. Oh, sekolahan!

oleh Rianto

Foto: Izzudin ‘Jun’ Rabbani

Recommended Posts

Leave a Comment

Kontak Kami

Segera dibalas ya...

Not readable? Change text.

Start typing and press Enter to search