Musik Bukan untuk Kita Semua

 In Esai

Kita hidup dalam suatu ruang berbentuk fisik bernama bumi dan ruang berbentuk abstrak bernama ide. Kedua ruang ini membentuk pola pikir manusia, bagaimana ia memahami dan bertindak dalam menyikapi sesuatu. Dengan perkembangan teknologi yang terjadi, ruang fisik tersebut terasa semakin terkikis. Ruang fisik tak lagi menjadi penghalang terjadinya komunikasi antar individu maupun kelompok. Namun, tidak berarti bahwa dengan semakin terkikisnya ruang fisik, manusia semakin menjadi serupa satu dengan yang lainnya. Ruang abstrak bernama dunia maya kini semakin terlihat jelas, mendorong manusia untuk memiliki kelompok di dunia fisik dan dunia maya. Kelompok-kelompok tersebut juga memiliki pola pikir, tindakan, dan kebudayaan yang berbeda-beda, menjadikan manusia semakin kompleks dalam berpikir. Hal ini yang kemudian membuat kita semakin sadar bahwa tiap individu berbeda dengan individu lainnya, tiap kelompok berbeda dengan kelompok lainnya, dan tiap komunitas berbeda dengan komunitas lainnya. Lalu muncullah suatu pendapat, bahwa di tengah perbedaan ini manusia disatukan dalam suatu ruang yang tak berbatas bernama musik.

Pertama, kita harus memahami dulu apa arti musik itu sendiri. Menurut KBBI, musik adalah (1) ilmu atau seni menyusun nada atau suara dalam urutan, kombinasi, dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai kesatuan dan kesinambungan; (2) nada atau suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan, terutama yang menggunakan alat-alat yang dapat menghasilkan bunyi itu. Dari definisi singkat tersebut, kita bisa mengerti bahwa musik merupakan suatu bentuk ilmu dan seni yang fokus pada komposisi suara untuk menghasilkan suatu keharmonisan. Dalam buku The Anthropology of Music oleh Alan P. Merriam (1964), masyarakat Songye atau Songe di Kongo mengatakan bahwa sesuatu bisa dikatakan sebagai ‘musik’ bila ada campur tangan manusia di baliknya. Suara burung berkicau, suara angin yang berhembus melewati pepohonan, suara air yang mengalir, tidak bisa dikatakan sebagai musik walaupun kita bisa mendengar adanya keharmonisan dalam suara-suara tersebut. Musik pada dasarnya adalah hasil kreasi manusia dalam mengatur suara untuk menghasilkan keharmonisan. ‘Suara-suara alam’ tersebut bisa dikatakan sebagai musik bila sudah ada campur tangan manusia seperti lewat rekaman, atau diciptakan kembali lewat berbagai macam media.

Merriam juga mengatakan bahwa musik memiliki unsur use dan function-nya sendiri. Use adalah situasi di mana musik diimplementasikan dalam hidup, bagaimana musik diasosiasikan dan digunakan dalam suatu situasi tertentu. Musik bernuansa cinta digunakan oleh orang ketika sedang pacaran, sedangkan musik bertempo cepat digunakan dalam sebuah pertandingan olah raga. Sementara function adalah pengimplementasiannya dalam suatu kondisi. Nadel (1951) mendeskripsikan makna function dalam musik menjadi empat poin: (1) Function adalah cara mengoperasikan, menjadi aktif, dan memiliki peran; (2) Memberikan arti sehingga suatu hal tidak menjadi acak atau tidak memiliki kegunaan; (3) Memiliki nilai kompleksitas sehingga suatu benda akan memiliki peran yang berbeda dengan benda lainnya; (4) Memenuhi kebutuhan dalam suatu situasi. Bisa kita tarik kesimpulan bahwa unsur function dalam musik meliputi peranan musik yang dapat memberikan arti pada suatu benda atau kegiatan, memberikan kompleksitas, juga untuk memenuhi kebutuhan suatu benda atau kegiatan. Saya mengambil contoh suatu pertunjukan drama. Musik bukan hanya digunakan sebagai iringan saja, namun musik sebetulnya memiliki fungsi yang lebih besar dari itu. Musik dalam suatu pertunjukan drama dapat membangkitkan emosi yang lebih untuk mendukung dialog serta pergerakan aktornya, serta memberikan nilai yang lebih kompleks dalam tiap adegannya. Musik menjadi faktor pendukung yang menghidupkan suatu pertunjukan drama.

Kita tahu bahwa musik bukan sekadar suara yang diatur sedemikian rupa untuk menghasilkan keharmonisan, bukan pula untuk memberikan nilai dan emosi pada suatu benda atau kegiatan, namun juga untuk menyampaikan ide dari pembuat musik tersebut. Lirik dalam musik memiliki peran yang tidak kalah penting dari perpaduan suara-suara yang dihasilkan, karena lirik dapat menceritakan suatu yang lebih dalam dibanding emosi yang dihasilkan oleh suara-suara tersebut. Sehingga tidak jarang musik dikatakan sebagai media untuk berkomunikasi, antara pelaku musik dan pendengar musik, karena terdapat bahasa atau simbol yang disampaikan melalui musik.

Dalam penyampaiannya, simbol adalah media untuk menyampaikan ide-ide tersebut. Firth (1973) menjelaskan bahwa simbol pada dasarnya merupakan tanda yang kompleks akan makna. Makna yang kompleks ini membuat simbol itu sendiri sulit, bahkan mustahil untuk dimengerti secara keseluruhan. Karena itu, manusia biasanya hanya memahami atau ‘menggunakan’ sebagian kecil dari makna yang bisa dipahami melalui simbol tersebut. Simbol sendiri merupakan tanda yang berbentuk emosi, bukan suatu benda yang konkret. Dengan kata lain, simbol-simbol tersebut eksis dalam pikiran manusia.

 

A certain confusion about the properties of symbols seems to stem from structural linguistic theory, in which words are said to ‘refer’. This can all too easily create the illusion that words refer to ‘things’ rather than to concepts.

Kebingungan tertentu tentang sifat simbol-simbol tampaknya berakar dari teori linguistik struktural, di mana kata-kata dianggap dapat ‘merujuk pada sesuatu’. Hal ini dengan mudah dapat menciptakan ilusi bahwa kata-kata dapat merujuk pada ‘sesuatu’ ketimbang konsep-konsep.

Foster, 2003:396

 

Namun menurut Foster, terjadi kesulitan untuk memahami dan mengajarkan makna dari suatu simbol yang ada. Simbol dapat memberikan ilusi bahwa ia ‘merujuk pada suatu makna.’ Bahasa sendiri sebetulnya merupakan contoh dari simbol, dan seperti yang diterangkan sebelumnya, bahwa manusia tidak bisa memahami secara utuh makna dari suatu simbol. Bahasa pada dasarnya merupakan hasil dari pemikiran manusia, bagaimana manusia menamai dan mengartikan suatu benda yang ada di sekeliling mereka. Kesulitan dalam memahami bahasa sebagai simbol bisa saya contohkan ketika kita ingin menjelaskan arti ‘rumah’. Saat kecil, kita diajari bahwa rumah itu suatu yang memiliki atap, tembok, pintu, jendela, dan lainnya. Dalam KBBI, rumah diartikan sebagai bangunan untuk tempat tinggal. Kemudian, kini kita dihadapi dengan kenyataan bahwa rumah tidak lagi selalu memiliki atap, rumah bukan hanya berarti bangunan, namun bisa juga diartikan sebagai tempat untuk pulang. Belum lagi, marak digunakan kutipan “home is where your heart is”, atau “rumah adalah tempat di mana ‘hatimu’ berada”, kutipan populer pengguna Instagram jika sedang bervakansi ke tempat-tempat tertentu yang mereka anggap ‘membebaskan’. ‘Rumah’ ternyata bukan sekadar kata benda, namun juga bisa menjadi kata sifat. Hal inilah yang seperti dikatakan oleh Foster, bagaimana sulitnya manusia untuk memahami makna sesungguhnya dari simbol yang mereka buat sendiri.

Simbol berupa bahasa itu tidak lepas pula dari musik. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahasa digunakan dalam musik sebagai media untuk menyampaikan ide pembuat musik pada pendengarnya. Untuk bisa memahami apa yang disampaikan oleh pembuat musik tersebut, maka kita harus memahami terlebih dahulu teks dan konteks dalam musik, serta bahasa di dalamnya.

Dalam musik, unsur teks dan konteks peranannya sangat penting. Tanpa memahami kedua unsur tersebut, maka kita tidak akan bisa memahami makna dari suatu musik, atau bisa dikatakan bahwa musik tersebut akan tidak memiliki arti sama sekali. Pada dasarnya, teks merupakan suatu yang bisa kita baca, dan konteks adalah ide atau kondisi di balik teks. Dalam musik, unsur teks tersebut bisa kita temukan pada lirik serta partiturnya. Dengan kata lain, teks adalah unsur yang bisa kita lihat dari suatu fenomena literasi. Konteks adalah suatu yang melatarbelakangi adanya teks dalam fenomena literasi. Konteks adalah unsur yang menjelaskan terjadinya suatu fenomena. Tanpa adanya konteks, maka suatu bisa dianggap tidak atau kurang memiliki nilai, dan tanpa memahami konteks, maka akan sulit juga memahami nilai yang ada. Bahasa sebagai alat untuk menyampaikan ide juga tentu tidak lepas dari adanya konteks yang melatar belakanginya, Dengan kata lain, tanpa kita memahami konteks yang ada di balik bahasa dan isu yang diangkat dalam lirik tersebut, maka akan sulit bagi kita untuk memahami ide yang ingin disampaikan oleh pembuatnya. Komunikasi yang terjadi dalam musik tersebut akhirnya menjadi satu arah.

Berdasarkan paparan mengenai simbol, bahasa, serta teks dan konteks dalam musik, saya tidak setuju bila musik dikatakan sebagai bahasa yang universal. Namun dalam musik sendiri ada hal lain yang bisa terima selain pesan; emosi juga bisa disampaikan lewat musik. Kita bisa memahami emosi dalam suatu lagu lewat intonasi, bagaimana kita mendapat pemahaman bahwa suatu lagu memiliki emosi yang ‘menyenangkan’ bila menggunakan kunci mayor, seperti A mayor atau C mayor, dan emosi yang ‘menyedihkan’ bila menggunakan kunci minor, seperti E minor atau B minor. Manusia memiliki kemampuan kognitif untuk menginterpretasikan suatu hal yang abstrak. Emosi sebagai sifat dapat dimengerti lewat kemampuan interpretasi tersebut. Emosi juga bersifat universal, setiap orang mampu merasakan emosi yang sama lewat hal-hal yang berbeda. Menurut saya, emosi inilah yang sebenarnya menjadi ‘bahasa universal’ dari musik atau sebuah lagu. Kita bisa memahami bagaimana musik punk dijadikan musik yang memiliki emosi perlawanan, reggae memiliki emosi santai dan damai, dan jazz memiliki emosi keteraturan dalam ketidakteraturan. Emosi yang kita interpretasikan inilah yang akhirnya membuat kita merasa sebuah lagu dapat menggambarkan suasana hati kita. Kita dapat merasakan emosi yang sama lewat suatu hal yang bahkan tidak bisa kita mengerti sepenuhnya mengenai ide di balik hal tersebut. Emosi berada dalam ruang kognitif tiap manusia; suatu hal yang sangat abstrak hingga sulit bahkan mustahil untuk dijelaskan secara detil artinya.

Dalam seni, mungkin kita tidak bisa memahami secara utuh ide di baliknya, karena simbol-simbol yang ada memang tidak bisa memberikan kita pemahaman yang utuh itu sendiri. Pemahaman akan ide suatu hal akan muncul dengan adanya pemahaman terhadap teks dan konteks di baliknya terlebih dahulu. Berbeda dengan emosi, manusia terlahir dengan emosi dan kemampuan untuk menginterpretasikan emosi dari suatu hal atau fenomena. Emosi sebagai suatu hal yang abstrak dapat dipahami menjadi suatu hal konkret lewat interpretasi tersebut. Emosi menjadi suatu unsur yang berlaku dan berbicara secara universal, tak berjarak, dan tak mengenal waktu. Musik adalah media untuk menyampaikan emosi tersebut, media yang bisa diterima oleh semua orang karena musik sendiri sangat lekat eksistensinya dengan segala kegiatan dalam kehidupan manusia. Musik dapat melewati sekat-sekat penghalang yang ada di kehidupan manusia dan mewakili ide dan emosi yang tak bisa disampaikan secara langsung oleh individu maupun suatu kelompok. Musik bukanlah bahasa yang universal, namun musik adalah media penyampaian emosi yang bersifat universal.

 

Daftar Pustaka

Firth, R. 1973. Symbols: Public and Private. Ithaca, NY: Cornell University Press   

Foster, Mary LeCron. 2003. “Symbolism: The Foundation of Culture”, dalam Tim Ingold. 2003. Companion Encyclopedia of Anthropology. London: Routledge

Meriam, Alan P. 1964. The Anthropology of Music. Illinois: Northwestern University Press

Nadel, S. F. 1951. The Foundation of Social Anthropology. Glencoe: Free Press

 

Foto: Komplotan Jakarta 32 ºC

Recent Posts

Leave a Comment

Kontak Kami

Segera dibalas ya...

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

X