Pameran Jakarta 32°C 2016: Sebuah Catatan

 In Ulasan

Oktober tahun lalu, mahasiswa penggiat seni rupa dari kampus-kampus di Jakarta berkumpul dan berpameran bersama di Festival Karya Mahasiswa Jakarta 32°C 2016. Ajang dua tahunan ini menjadi kesempatan bagi mereka yang ingin bermain dengan seni rupa, mulai dari konsep, media dan teknik penggarapannya: sesuatu yang mungkin tidak didapatkan di perkuliahannya, atau bisa juga menjadi garapan alternatif materi kuliahnya. Sebelumnya (2014) karya yang dipamerkan merupakan hasil dari pendaftaran terbuka dan lokakarya-lokakarya. Kali ini berbeda, sistem pendaftaran terbuka memiliki porsi yang lebih kecil, karena Komplotan Jakarta 32°C memperkenalkan Program Tarkam, atau Tarung Kampus. Tarkam adalah ajang presentasi dan diskusi karya mahasiswa. Karya yang dipamerkan kemarin adalah hasil racikan program Tarkam tersebut.

Para mahasiswa itu datang dari kampus yang berbeda-beda, otomatis, perkuliahannya berbeda, tongkrongannya berbeda, dan kecenderungan berkaryanya pun berbeda. Hal yang serba beda ini mengasyikkan karena mampu memperluas pemetaan kami terhadap iklim seni rupa di Jakarta dalam lingkup mahasiswa dan anak muda. Banyak temuan menarik yang lahir secara sengaja maupun tidak sengaja selama proses pameran ini berlangsung.

Komplotan Jakarta 32°C berupaya memicu mahasiswa untuk bereksperimen terhadap karyanya, juga membantu mereka untuk menguak potensi karya yang mungkin tidak mereka sadari. Maka dari itu, setiap aspek karya mulai dari tema sampai display karya didiskusikan secara terbuka. Secara tematis, sebagian besar karya bicara tentang Jakarta (tentu saja). Sebagai mahasiswa yang berkuliah dan bergiat di kota ini, banyak yang mereka alami. Topik-topik metropolitan mulai dari mobilitas kota sampai lingkungan hidup masih hangat dibicarakan. Namun, mayoritas masih terjebak memandang Jakarta secara makro dan negatif. Sehingga, muncul sebuah pola: Jakarta yang dipandang meresahkan dan kaotis tersebut diangkat menjadi karya, dan karya tersebut seakan menjadi pelarian bagi mereka. Karya tersebut menjadi escapism yang ditawarkan ke audiens. Maka dari itu, melalui program Tarkam kami mencoba meminimalisir kecenderungan ini dengan membantu mereka melihat sudut pandang lain dan memberi rujukan-rujukan untuk  mereka riset.

Sedot Duit

Saya cenderung lebih menyukai karya yang mengangkat lingkup kemahasiswaan. Walau pun masih bersinggungan dengan isu-isu Jakarta, karya seperti ini lebih sukses berbicara. Sebut saja proyek Sedot Duit milik seorang jebolan kampus Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Ragil Dwi Putra (2015-sekarang) dan karya instalasi-video dokumenter Maaf, Saya Perempuan milik Sonya Annasha (2016), seorang mahasiswi Jurnalistik Politeknik Negeri Jakarta (PNJ). Kedua contoh ini secara tematis memang bersinggungan dengan hiruk pikuk mahasiswa yang bergiat di Jakarta, tapi mereka mengambil sudut pandang yang dekat dan pribadi. Hal ini membuat mereka mengenal karya mereka sendiri lantas mempermudah penggarapan karyanya. Tentu didukung oleh riset yang sesuai.

Media karya yang ditampilkan di pameran ini beragam. Mulai dari instalasi sampai seni keramik. Sehingga, porsi pemilihan media di pameran ini cukup berimbang antara akademis dan non-akademis. Lalu, apakah latar belakang pendidikan mereka mempengaruhi kecenderungan berkarya? Sebenarnya, bisa dibilang ya dan tidak. Kecenderungan berkarya memang sangat terlihat di Tarkam. Sebagai contoh, banyak mahasiswa dari IKJ dan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang bermain dengan instalasi. Ada pun mahasiswa dari Politeknik Media Kreatif Jakarta (Polimedia), Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) dan Interstudi yang memiliki kemiripan dalam membuat karya berbasis video dan fotografi. Namun, ketika berpameran, semua mahasiswa yang ikut serta dapat dikatakan berimbang, mungkin karena sudah melalui proses kuratorial. Memang, sebagian besar mahasiswa datang dari pendidikan seni rupa dan desain, namun akhirnya ada yang berhasil ‘mendua’. Seperti Felicia Suhianto, mahasiswa desain grafis Universitas Tarumanagara (Untar) ini akhirnya dapat membuat karya instalasi bertajuk BAHA[G]YA (2016), begitu pun Saddam Husein, seorang mahasiswa desain grafis dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ), ia melakukan seni rupa performans yang apik dan lantang berjudul Impingement in Suffering (2016). Keberanian mahasiswa untuk ‘selingkuh’ minat dalam berkarya adalah yang kami tunggu-tunggu, dengan modal ini, mereka dapat menjadi perupa yang selalu memiliki elemen kejut.

Di antara 43 karya yang dipamerkan, ada 10 yang menjadi unggulan. Lantas meraih penghargaan. Mereka adalah: Alif Khan (Looks Can Be Deceiving), Eki dan Nida (53235), Garin Nugraha (Jakabstrak), Kusno Drajat (Synesthesizer), Nanda Arya (Sasar Internasional), Ragil dan Iqbal (Sedot Duit), Paradiso (Redesign TTS), trio Rhino, Omot dan Bocor (Brengsek City), Sonya Annasha (Maaf, Saya Perempuan), dan Vicky Saputra (Pikir). Kesepuluh pemenang ini dipilih karena mereka mampu mengolah tema dan media menjadi karya yang dianggap baik. Mereka juga diupayakan untuk kembali berpameran.

Pameran3ulasan

Secara keseluruhan, karya para mahasiswa bisa dikembangkan secara maksimal. Ada karya yang dulunya sangat menjanjikan namun hasil jadinya mengecewakan, dan ada juga yang dulunya biasa-biasa saja, malah menjadi karya yang klimaks. Pameran ini, menurut saya, juga mendobrak pandangan umum tentang kampus-kampus seni yang diidolakan. Tak bisa dipungkiri, di perhelatan ini ada kampus-kampus seni langganan yang sudah menciptakan stereotipe berkarya bagi publik dan juga telah mencetak banyak perupa/kolektif. Namun, kejutan segar yang diberikan oleh mahasiswa lain dari kampus lain terus bermunculan. Hal ini terkait dengan pemetaan iklim seni rupa berbasis mahasiswa/anak muda. Kebutuhan untuk memetakan kampus-kampus di Jakarta selain yang sudah biasa berpartisipasi di ajang bergengsi ini semakin diperlukan untuk menumbuhkan penggiat-penggiat seni rupa yang baru dan segar.

Ibrahim Soetomo

Jika kamu membaca ini, ketahuilah bahwa tulisan ini milik Ibrahim Soetomo, seorang mahasiswa Seni Murni Institut Kesenian Jakarta. Menjuluki dirinya ‘seniman tekstuil’, ia gemar mengarungi keajaiban dunia penulisan: Fluxus event score, sajak dan penulisan seni rupa. Jika kamu membaca ini, pastikan kamu menyimak akun instagramnya, @ibambaik.

Foto: Abdussalam Dinillah

Recommended Posts

Leave a Comment

Kontak Kami

Segera dibalas ya...

Not readable? Change text.

Start typing and press Enter to search