Performans Audio Visual An Sich

 In Ulasan

Foto: Asyera Harahap

Jumat (27/10) lalu, Institut Kesenian Jakarta mengadakan sebuah performans audio visual dengan tajuk “An Sich.” Performans ini merupakan sebuah proyek kesenian mahasiswa Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta yang fokus pada seni media dan menghadirkan pengalaman visual secara langsung bagi audiens. Eksperimen dan eksplorasi seni media yang dihadirkan antara lain adalah audio, visual, ruang, interaksi dan aspek performatif. Dalam pertunjukannya, para partisipan membahas unsur-unsur seni rupa seperti garis, bentuk, ruang, warna, bidang dan tekstur.

Foto: jurnalfootage.net

Proyek ini muncul dari gatalnya hasrat sejumlah mahasiswa, yaitu Atras Alwafi, Eka Belaw, Kusno Drajat, dan Yosua Maigoda, setelah menikmati pameran “Following Exhibition” di Galeri Nasional Februari silam. “Following” sendiri adalah sebuah pameran seni media yang menjadikan pengunjung sebagai pemantik artistik dalam menyempurnakan karya dan metode yang dipresentasikan oleh para seniman. Dengan menjadikan pengunjung sebagai bagian dari pameran, “Following” berusaha mengisi celah yang ada di antara batas kuasa dan kontrol yang dimiliki seniman dengan pengunjung dan ruang. Pameran tersebut menciptakan ruang baik secara interaksi dan tempat yang berpeluang untuk ditanggapi.

Foto: Asyera Harahap

Berangkat dari metode yang serupa, “An Sich” menanggapi setiap sudut dan objek pada area lantai dasar gedung Fakultas Seni Rupa  untuk direspons dengan audio dan visual. Hal yang menarik adalah metode ini muncul secara organik saat jamming di kampus. Awalnya, “An Sich” hanya berniat merespons pilar-pilar dan area kaca pada lantai dasar. Namun, melihat potensi dari banyaknya objek di sekeliling area, seperti base dan papan yang terabaikan, maka objek-objek tersebut pun turut direspons dalam performans.

Foto: Asyera Harahap

Performans diawali dengan visual bertuliskan An Sich pada base oleh Yosua secara berulang-ulang. Pemilihan visualnya tampak beriringan dan tersistem. Setelah itu, visual mapping Belaw dan Atras muncul dan ditembak secara berseberangan. Visual bergantian dan beriringan selang beberapa menit, menampilkan satu per satu unsur seni rupa. Atras cenderung menampilkan visual ciri khasnya, yakni sidik jari sebagai aset utama pada karya mapping-nya. Lain halnya dengan Belaw, daerah eksplorasi visualnya berada di langit-langit lantai dasar. Masing-masing visual mengikuti dan merespons audio yang diaransemen oleh Kusno. Penampilannya cukup berbeda karena audio diaransemen olehnya menggunakan modular synthesizer rakitannya sendiri. Menariknya, Kusno sendiri adalah seorang mahasiswa seni grafis.

Foto: Asyera Harahap

“An Sich” merupakan sebuah istilah dalam bahasa Jerman yang berarti “ada dengan sendirinya.” Munculnya “An Sich” sebagai proyek performans audio visual dapat memancing kesadaran mahasiswa untuk mulai memperhitungkan hadirnya potensi ruang-ruang kosong untuk ditanggapi dan tidak hanya berpatok pada ruang dan fasilitas yang memang disediakan. “An Sich” sudah cukup baik dalam menanggapi setiap sudut yang dihadirkan, namun dalam performans ini ada satu ruang kosong yang belum terjamah, yakni ruang partisipasi antara seniman, pengunjung, dan karya yang ditawarkan, karena pada dasarnya proyek ini bersifat publik dan interaktif. Partisipan perlu lebih nakal dalam memaksimalkan kemunculan ruang kosong untuk ditanggapi.

 

Recent Posts

Leave a Comment

Kontak Kami

Segera dibalas ya...

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

X