Pengantar

Memasuki tahun kesepuluh, Komplotan Jakarta 32°C membuka kesempatan bagi kalian, para mahasiswa se-Jabodetabek untuk terlibat dalam kegiatan pameran karya visual mahasiswa terbesar di Jakarta. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kali ini kami mengganti metode aplikasi pengiriman karya terbuka dengan metode lokakarya. Jika biasanya peserta diminta untuk mempresentasikan karya-karya yang akan dipamerkan, kini kami mengundang kalian, para mahasiswa untuk mendaftar dan mengikuti salah satu lokakarya. Melalui metode ini kami ingin mengajak kalian untuk memahami konsep penciptaan karya, mulai dari proses riset, produksi, serta presentasi akhir.

Lokakarya Jakarta 32°C 2014 terbagi dalam 10 bidang yaitu, Seni Video, Arsitektur, Fotografi, Seni Digital, Object Art, Komik, Seni Performans, Seni Rupa Ruang Publik, Drawing, dan Art Merchandise. Pada kali keenam acara ini berlangsung, Komplotan Jakarta 32°C memilih Kota Tua sebagai situs yang akan ditanggapi oleh para peserta.

Dalam proyek ini, kalian akan diajak memanfaatkan area Kota Tua dan sekitarnya untuk melihat kembali bagaimana narasi-narasi yang muncul di kota ini. Hal ini menjadi menarik apabila dikaitkan dengan bagaimana kita sebagai warga memandang kembali sebuah situs yang sepertinya sudah sangat kita kenal, melakukan riset atas kehidupan ekonomi, sosial, politik,serta budayanya dan menemukan cerita-cerita baru. Situs yang kaya akan sumber daya sejarah ini juga diharapkan dapat mendorong daya imajinasi serta kreatifitas dari mahasiswa. Tanpa harus terjebak nostalgia, peserta didorong untuk menggunakan sumber sejarah itu sebagai bahan bakar dalam menciptakan karya-karya dengan medium baru. Seperti situs Pasar Asemka akan menjadi lokasi untuk kegiatan lokakarya pembuatan merchandise, ataupun pelataran Fatahillah yang akan menjadi lokasi bagi kegiatan lokakarya ruang dan publik.

Preface

Entering the tenth year, Komplotan Jakarta 32°C open an opportunity for the students around Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, and Bekasi, to involve in the biggest student art exhibition in Jakarta. Different than previous years, this time we decide to replace open submission program with workshop method. We invite, the students for register and followed one of the workshop. Through this method we want to invite you to understanding the concept artwork creation, ranging from research, production, and final presentation.

Jakarta 32°C 2014 Workshop program will be divided in 10 fields: video art, architecture, photography, digital art, found objects, comic, performance art, public art, drawing, and art merchandise.

For the sixth Time, Komplotan Jakarta 32°C choose Kota Tua (Jakarta’s Heritage Old Town) as the site that will be reponded by the participants. Within this project, the student will ask to use Kota Tua and the surrounding area to looking back the stories that were developed in the city. This getting more interesting if associated from the perspective from us as the residents, by doing research on economic problem, social political life and culture, and discover new stories. By using these rich background and resources, we hope could encouraged the participant to use the wildest creativity and imagination. Wtihout being trapped in nostalgic perspective, the students will be encouraged to use that historical resources as their main fuel to create a new artwork with new medium. Site like Asemka Market will be a great location to art merchandise workshop, or the Fatahillah court will be a great site for public art workshop.

Lokakarya

1. Seni Video

Bagaimana kita dapat menangkap cerita serta jejak-jejak sejarah kehidupan yang terdapat di sekitar Kota Tua dengan menggunakan video? Dalam lokakarya ini, kalian akan diajak untuk mengembangkan ide dalam bentuk video, yang memiliki basis waktu dan berbagai kemungkinan eksperimentasi teknis dari perangkat-perangkatnya. Memiliki pendekatan yang berbeda dengan filem, dalam seni video tidak harus diekspresikan dalam kaedah bercerita pada umumnya, misalnya plot, pemain, atau dialog. Seni video menjadi perlawanan terhadap bahasa-bahasa audio visual dan aturan baku yang ada di media arus utama. Dengan akses yang mudah dan cepat untuk diproduksi, distribusi, dan dinikmati secara mandiri di masyarakat saat ini, ia menjadi senjata yang efektif serta ajang “bermain” yang tak terbatas untuk kalian, mahasiswa dari latar belakang jurusan apapun. Kalian akan diajak untuk memilih dan membingkai elemen –elemen yang ada di sekitar situs bersejarah tersebut dengan bantuan mata mekanis.

FASILITATOR

Mahardika Yudha (Forum Lenteng, OK. Video – ruangrupa)

Dilahirkan di Jakarta pada tanggal 23 Januari 1981. Pernah kuliah di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta pada tahun 2001, namun tidak sampai selesai. Sekarang pria ini aktif di Forum Lenteng pada divisi Penelitian dan Pengembangan (litbang), dan menjadi Direktur OK Video di ruangrupa. Selain itu ia juga telah menjadi kurator dalam berbagai macam festival video, baik nasional maupun internasional.

Dibyokusumo Hadipamenang (Seniman, Pembuat Video)

Sutradara klip muda yang lahir di tahun 1983 ini bernama lengkap RM. M. Dibyokusumo Hadipamenang dan akrab disapa Dibyo. Karya-karya video musiknya antara lain “Hanya Untukmu” dari RAN, “Anais Lullaby”, “Wanderlust”, “Ribbons and Tie” dari Santamonica, “Tegangan Tinggi” dari Adrian Adioetomo, “Broken Heart Blues” dari The Brandals, dan video trailer preview album “the Headless Songstress” dari TIKA & the dissidents. Selain membuat video musik, Dibyo juga aktif berpameran dengan karya cetak saring dan video.

2. Arsitektur

Objek perancangan dan arsitektur adalah hasil sintesa dari berbagai macam elemen, dari yang tersurat seperti bahan, teknologi, dan keterampilan, sampai yang tak kasat mata seperti uang, kekuasaan, geografi dan politik. Indonesia, sebagai sebuah negara yang (dibilang) kaya, punya posisi yang amat rentan. Ancaman letusan gunung berapi, banjir tahunan (bahkan musiman), krisis ekonomi dan destabilitas politik yang berkelanjutan, terus membayangi. Bagaimana sebuah intervensi skala kecil (yang menjadi area disiplin desain dan arsitektur) dapat merespon secara berarti dalam masalah ini? Objek apa yang dapat hadir demi mengatasi, mempertanyakan, atau bahkan mencerminkan ancaman-ancaman yang ada? Lokakarya arsitektur dan desain Jakarta 32°C 2014 akan mengambil jalur dan ketertarikan tentang manajemen darurat ini. Pengumpulan, pengolahan, dan pembacaan data, yang lalu diterjemahkan ke sebuah aktivitas merancang yang bekerja sekarang demi masa depan, sebagai hasil kunjungan ulang sejarah strategi dan modus operasi yang selama ini tidak dianggap penting oleh disiplin desain arsitektur arus utama, akan diperkenalkan kepada para peserta.

FASILITATOR

Farid Rakun (Pengajar Arsitektur UI, Jurnal Karbon – ruangrupa) 

Farid Rakun lahir di Jakarta, 1982. Ia membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun untuk menuntaskan pendidikan formalnya di jurusan Arsitektur di Universitas Indonesia pada 2005 dan meraih gelar master dalam bidang yang sama dari Cranbrook Academy of Art pada 2013. Bekerja dengan beragam lembaga pendidikan dan kebudayaan, ia percaya pada kebetulan yang produktif, yang mungkin memang dampak dari praktik kerjanya yang kolaboratif.  

Gita Hastarika (Pengajar Arsitektur)

Gita Hastarika mulai bekerja sebagai jurnalis sejak enam tahun lalu, setelah sebelumnya menjadi peneliti sejarah kota dan arsitektur kolonial pasca kelulusannya dari jurusan arsitektur Universitas Indonesia. Sempat menjadi managing editor di dua majalah arsitektur dan penyunting buku serta buletin di beberapa tempat, kini ia mencurahkan pikirannya untuk 332lab, sebuah knowledge support untuk desain, kriya, dan arsitektur.

3. Fotografi

Semua orang dapat memotret saat ini. Proses penyebaran gambar foto juga demikian cepat dan nyaris tak terhitung banyaknya, dengan bantuan sosial media. Apa fenomena yang bisa kita baca dari hal itu? Bahwa semua orang kini bisa memotret? Semua orang adalah fotografer? Lokakarya ini akan menawarkan perspektif berbeda dan mendalam tentang bagaimana kita mengabadikan momen dalam satu bingkai kamera, baik secara teknis maupun gagasan. Pemahaman akan strategi komunikasi, yang tergantung dari ketajaman mata untuk membingkai apa yang akan ditangkap, diperlukan untuk menghasilkan foto yang baik. Persoalan komunikasi inilah nantinya yang membedakan nilai artistik dan informasi dari suatu karya foto dengan lainnya. Bersama Anton Ismael, kalian akan menggali narasi lain dari berbagai hal yang ada dari Kota Tua, melakukan dialog dengan sejarah dan pengetahuan yang dimiliki masing-masing, dan memahaminya melalui bidikan lensa kamera.

FASILITATOR

Anton Ismael (Fotografer, Kelas Pagi) 

Anton Ismael lahir di Jakarta, 17 September 1975. Dia mengenal fotografi ketika duduk di bangku SMA-nya dan kemudian meneruskan minatnya ke RMIT (Royal Melbourne Institute of Technology). Dia memulai karirnya sebagai fotografer profesional pada tahun 2000 dan kemudian memilih jalur fotografi komersial. Dia telah bekerja untuk banyak majalah fashion seperti Harper Bazaar, Amica, Dewi, dan majalah lainnya seperti Rolling Stone & Versus Magazine. Dia menikmati berkarya dengan media campuran, seperti menggunakan cat air untuk foto-fotonya, dan mengerjakan beberapa karya seni yang melibatkan proyeksi visual dan instalasi dalam pameran di Jakarta. Dia juga memiliki ketertarikan dengan gambar bergerak dan stop-motion. Berbagai video musik & iklan TV yang ia sutradarai saat ini bisa kita dapati di televisi-televisi lokal.

4. Seni Digital

Seberapa jauh kita mengenal yang ‘digital’ dalam keseharian? Spanduk? LED? Atau stiker-stiker angkot? Dalam banyak hal kita menjadi terlalu akrab dengan terminologi ‘digital’ itu sendiri, sehingga terkadang ada proses-proses yang terlewati ketika menggunakan medium digital. Lokakarya ini akan mengajak kalian menelaah lebih jauh makna “digital” sebagai sebuah proses penciptaan karya, sekaligus juga memahami gagasan-gagasan yang dapat dikembangkan lewat medium tersebut. Kota Tua dengan segala kesan kunonya tetap merupakan dari pusat pertumbuhan budaya urban. Tak jauh dari sana ada kawasan Mangga Dua, yang merupakan pusat barang elektronik dan digital. Bagaimana kita bisa melihat relasi yang menghubungkan keduanya? Semua itu akan kalian temukan dalam lokakarya yang akan dipandu oleh kelompok seniman yang kerap kali menggunakan medium digital sebagai bahasa artistik mereka.

FASILITATOR

Jakarta Wasted Artists (Kelompok Seniman) 

Terikat oleh latar belakang ekonomi, politik dan sejarah sosial yang sama, empat anggota JWA membentuk kelompok di awal tahun 2010. Seperti namanya, Jakarta Wasted Artist (JWA) adalah sekelompok perupa yang tinggal dan bekerja di paling ramai dan kota sibuk di Indonesia dan kota terpadat di Asia Tenggara: Jakarta. Dalam bekerja sambil bermain, JWA mengambil dan ekstrak masalah yang terbuang dalam konteks perkotaan sebagai isu penting untuk dirumuskan sebagai karya seni atau acara kesenian.

5. Object Art

Benarkah objek apapun: sampah, gayung, bungkus kacang, atau sapu, jika dibawa ke galeri bisa menjadi karya seni? Bagaimana benda-benda temuan tersebut bisa dikatakan “seni”? Ade Darmawan akan mengajak peserta untuk membongkar ide dari objek-objek keseharian dan menarik definisi yang bisa menjadikan objek tersebut sebagai medium berekspresi. Dengan mengambil lokasi spesifik di sekitaran Kota Tua, berburu benda unik di Pasar Asemka, atau mungkin mengaduk-ngaduk tong sampah di pelataran Fatahillah, misalnya, tentu akan menjungkirbalikan respon pada hasil dari lokakarya ini, yang selintas pandang tampak iseng atau “effortless”, namun sebenarnya memiliki proses yang panjang serta analisa kritis dan mendalam. Pengalaman ini tentu tidak hanya mengubah cara berpikir selama pertemuan-pertemuan di lokakarya saja, namun akan memperkaya bekal khazanah yang akan terus terbawa hingga kapanpun nanti.

FASILITATOR

Ade Darmawan (Seniman, Direktur ruangrupa) 

Ade Darmawan mempelajari Seni Grafis di Institut Seni Indonesia (Institut Seni Indonesia -ISI). Pameran pertamanya adalah di Cemeti Contemporary Art Gallery (sekarang Cemeti Art House) di Yogyakarta pada tahun 1997 Setahun kemudian, ia memulai residensi selama dua tahun di Rijksakademie van Beeldende Kunsten, Belanda. Setelah pulang ke Indonesia, Ade dan lima temannya mendirikan ruangrupa. Pada saat ini, Ade yang tinggal dan bekerja di Jakarta sebagai seorang seniman, direktur ruangrupa, dan sebagai anggota supervisi Seni Koalisi Indonesia (Koalisi Seni Indonesia). Dia telah berpartisipasi dalam banyak proyek-proyek seni dan pameran di berbagai kota di Indonesia dan di luar negeri, seperti Durban, Bangkok, Mumbai, Mexico City, Antwerpen, Istanbul, dan Sydney. Pameran tunggal terbaru berjudul Pengembangan Sumber Daya Manusia berada di Ark Galerie, Jakarta (2012).

6. Komik

Setiap hari, ada ratusan orang yang meramaikan Kota Tua. Banyak orang, tentu banyak cerita—dari yang romantis sampai tragis. Apa saja kejadian yang mengusik perhatianmu? Siapa karakter paling berkesan buatmu? Kejadian apa yang kira-kira kamu bayangkan bisa saja terjadi di sana? Dalam workshop ini, kamu ditantang memperhatikan kejadian sehari-hari yang menurutmu paling menarik di Kota Tua, untuk kamu olah ke dalam bentuk komik. Kamu tidak bisa menggambar? Bukan masalah. Yang paling penting adalah kamu cukup jeli dan peka, juga gila untuk bereksperimen dengan medium komik—medium yang sebenarnya sangat luas untuk dikulik.

FASILITATOR

Reza “komikazer” Mustar (Seniman Komik)

Azer terlahir sebagai Muhammad Reza di Jakarta, 1983. Ia lulusan Jurusan Desain Komunikasi Visual di Institut Kesenian Jakarta. Ia pernah membuat panel-panel kartun yang merespons kekikukan para penumpang menaiki Transjakarta dan memajangnya di enam halte Transjakarta Koridor I pada 2004, saat moda transportasi itu belum setahun beroperasi di Jakarta. Ia bekerja sebagai desainer grafis dan ilustrator, sambil tetap membuat kartun dan komik di Jakarta.

Ardi Yunanto (Penulis, dan pengamat seni rupa)

ARDI YUNANTO lahir di Jakarta, 21 November 1980. Setelah lulus dari jurusan Arsitektur di Institut Teknologi Nasional Malang, ia kembali ke Jakarta pada 2003, kota di mana ia dibesarkan. Sejak 2004 bergabung dengan ruangrupa dan sejak 2007 menjadi redaktur untuk Karbonjournal.org ini. Selain menulis dengan sangat tidak produktif, ia bekerja lepas sebagai penyunting, peneliti, desainer grafis, penyelenggara pameran, sambil terus meluangkan waktu menulis fiksi.

7. Seni Performans

Ada banyak hal menarik yang dapat ditemukan di sekitaran Kota Tua. Ramainya celoteh wisatawan museum, riuhnya pedagang tradisional, serta berbagai macam aroma yang mampu dihirup dapat digunakan sebagai sumber daya kreatif. Workshop performans ini akan menekankan pada eksplorasi material baik yang bisa ditemukan di sekitar lokasi Kota Tua maupun yang melekat pada tubuh kita. Eksplorasi ini ditujukan untuk membangun sensitivitas serta melihat kemungkinan menggabungkan material sebagai perpanjangan tubuh dalam penggalian bentuk ekspresi melalui pendekatan metode seni rupa pertunjukan. Selain itu, partisipan akan diajak membicarakan struktur dari sebuah material dan bahkan situs yang melatarbelakangi material temuan itu.

FASILITATOR

Reza “Asung” Afisina (Seniman, ArtLab – ruangrupa)

Reza Afisina, yang lebih akrab dikenal sebagai Asung, lahir di Bandung. Dia pindah ke Jakarta untuk belajar Sinematografi, jurusan Suara dan Dokumenter di Institut Kesenian Jakarta tetapi tidak lulus. Ia telah menampilkan karya di perhelatan nasional dan internasional seperti OK Video Festival di Jakarta (2003, 2010, and 2011); Taboo and Transgression in Contemporary Indonesian Art, Herbert F. Johnson Museum of Art, Cornell University, Ithaca, New York (2005); Simple Actions and Aberrant Behaviors, PICA, Portland (2007), Jakarta Biennial (2009); Move on Asia: The End of Video Art, Para/Site Art Space, Hong Kong (2010 dan 2012); Moving Image from Indonesia, ZKM Center for Art and Media, Karlsruhe (2011); and City Net Asia, Seoul Museum of Art (2011). Karya performansnya “What” telah dikoleksi oleh Guggenheim Museum di New York, USA.

Padjak (Kelompok Seni Performans)

PADJAK (Performance Art di Jakarta) adalah sebuah inisiatif untuk mengembangkan seni performens, live art dan happenings di ibukota Indonesia, Jakarta dalam bentuk riset, praktek, tulisan dan dokumentasi.

8. Seni Rupa Ruang Publik

Membicarakan publik berarti akan bersinggungan dengan banyak hal dan kepentingan yang akan mempengaruhi orang banyak. Bagaimana kemudian kalian memahami konsep seni rupa di ruang publik? Bentuk seperti apa yang akan kamu ambil? Bagaimana konteks lingkungan turut berperan dalam mebangun konsep seni rupa ruang publik? Dalam lokakarya ini kamu akan didampingi untuk melakukan observasi atas situs-situs di sekitar Kota Tua. Mengamati, mencatat, serta kemudian mengembangkan konsep kerja yang akan disepakati bersama.

FASILITATOR

M.G. Pringgotono (Seniman, Serrum)

M.G. Pringgotono menempuh pendidikan seni rupa di Universitas Negeri Jakarta. Ia adalah salah seorang pendiri SERRUM, kelompok yang fokus pada pengkajian masalah-masalah sosial perkotaan melalui seni rupa berbasis pendidikan, di mana program mereka meliputi proyek dan pameran seni rupa, propaganda grafis, street art, mural, maupun penerbitan komik. Ia juga mendirikan Komunitas Airbrush Indonesi (2008) serta Dinas Artistik Kota (2010). Secara individu, MG telah berpartisipasi dalam banyak pameran serta proyek seni rupa, Ia juga dikenal sebagai kurator muda yang handal. Pada 2012, ia terlibat dalam Art project, OTW Galery at Kuala Lumpur, Malaysia serta menjadi kurator dalam Pameran Tunggal Saleh Husein “Riwayat Saudagar” di RURU Galeri.

9. Drawing

Apakah menggambar itu mudah? Bagi para pemula, mungkin menarik garis dengan pasti menjadi kendala tersendiri dan tak berbanding lurus dengan visual yang telah ada di kepala, sedangkan bagi mereka yang sudah khatam dengan teknis, terkadang sulit untuk menyatukan berbagai objek yang bisa digambar menjadi sebuah penyampaian ide. Lokakarya ini, difasilitasi oleh Saleh Husein, yang kerap menggunakan gambar sebagai pembacaan ulangnya pada kajian-kajian sejarah dengan pendekatan gaya yang realis, serta Dwi “Mas Ube” Wicaksono, salah satu inisiator dari Gambar Selaw, dengan gambar kekanak-kanakannya, peserta akan diajak untuk menjelajahi karakter personal yang dapat dihadirkan melalui tarikan garis yang unik pada setiap individu, dan juga memadukan kelincahan tangan dengan pemikiran kritis akan suatu gagasan

FASILITATOR

Saleh Husein (Seniman)

Saleh Husein menempuh pendidikan di jurusan Seni Lukis, Fakultas Seni Rupa, Institut Kesenian Jakarta. Selain dikenal sebagai gitaris grup musik White Shoes & The Couples Company dan The Adams, ia juga seorang seniman yang terlibat dalam berbagai perhelatan seni rupa, seperti “Jakarta Biennale XIII 2009:ARENA” di Jakarta; “Occupying Space: ASEAN Performance Art Event” di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Pameran “Riwayat Saudagar” di RURU Gallery ini adalah pameran tunggal pertamanya.

Dwi “Ube” Wicaksono (Seniman, Gambar Selaw)

Mas Ube adalah seorang pelukis, muralis, serta pecinta kopi. Ia merupakan lulusan dari jurusan seni lukis, Fakultas Seni Rupa, Institut Kesenian Jakarta pada 2010. Selain bekerja secara mandiri, Mas Ube juga tergabung dalam komunitas Gambar Selaw (Galaw). Ia dikenal dengan gaya mengambarnya yang berkarakter naif dengan menggunakan akrilik dan crayon sebagai medium drawing-nya. Selain membuat komik, ia juga aktif sebagai penabuh drum di grup musiknya, KTPS (Karang Taruna Pemuja Setan).  Mas Ube telah terlibat dalam banyak pameran serta proyek seni, yang termutakhir adalah pameran di Indonesia Contemporary Art and Design “Ayatana” (ICAD) 2014.

10. Art Merchandise

Bagaimana menjual karya seni?

FASILITATOR

Gardu House

Gardu House, didirikan secara kolektif oleh para street artist yang juga tergabung di Artcoholic merupakan sebuah workshop sekaligus galeri rumahan non-profite yang diperuntukan sebagai ruang alternatif bagi para street artist untuk memamerkan karya-karya mereka selain ditembok jalan. Gardu House juga sebagai wadah untuk para street artist untuk saling mengenal dan berkolaborasi dalam sebuah projek dan pameran bersama dengan semangat untuk semakin memajukan street art di Indonesia. Selain ruang pamer, Gardu House juga menyediakan merchandise shop dimana para street artist bisa menaruh merchandise, artwork atau apapun yang berhubungan dengan street art untuk dipasarkan ke publik.

Tim Kerja 2014

Penasihat
Ade DarmawanIndra Ameng

Direktur Festival
Andang Kelana

Manajer & Keuangan
Dian Lestari

Administrasi
Yunnita Setyahati

Database
Cindy Damayanty & Nissal Nur Afryansyah

Komunikasi & Program Acara
Leonhard Bartolomeus
Gesya Namora Siregar
Dalu Kusuma
Hanif Alghifary

Program Film
Alexander Matius

Dokumentasi
Nissal Nur Afryansyah
Panji Purnama Putra
Zainul Arifin
Arif
Rio

Artwork & Desain
Adit & Arvie Juvians

Website
Andang Kelana

Direktur Artistik
M. Sigit Budi Santoso

Tim Artistik
Saleh Husein
Syaiful Ardianto
M. Luthfi Nurseptian

Volunteer
Deni Darmawan

 

WORKSHOP

Tim Workshop
Angga Cipta
Yoyo Wardoyo
Angga Wijaya

Fasilitator/Mentor
1. Seni Video: Mahardika Yudha & Dibyokusumo
2. Arsitektur: Farid Rakun & Gita Hastarika
3. Fotografi: Anton Ismael (Kelas Pagi)
4. Seni Digital: Jakarta Wasted Artists
5. Found Object: Ade Darmawan
6. Komik: Reza Mustar (komikazer) & Ardi Yunanto
7. Seni Performans: Reza “Asung” Afisina & PADJAK
8. Seni Rupa Ruang Publik: M.G. Pringgotono (Serrum)
9. Drawing: Saleh Husein & Dwi “Ube” Wicaksono
10. Art Merchandise: Gardu House

Kontak Kami

Segera dibalas ya...

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

X