Program Tarkam: Sebuah Catatan

 In Ulasan

Festival Karya Mahasiswa Jakarta 32°C 2016 kemarin dapat menjadi hal yang menarik untuk diulas. Terlebih, melalui metode panjang yang dilakukan sebelum pameran berlangsung. Sebuah metode yang digagas itu sendiri yakni melalui program Tarkam (Tarung Kampus), sebuah forum terbuka antar mahasiswa untuk mempresentasikan karya di mana mereka dapat menanggapi dan mengkritik karya satu sama lain. Terdapat sembilan kampus yang berpartisipasi di program Tarkam,  yakni: Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Bina Nusantara (BINUS), Universitas Tarumanagara (Untar), Politeknik Media Kreatif Jakarta (Polimedia), Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Universitas Trisakti, Interstudi, Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), dan Universitas Bunda Mulia (UBM).

Proses mendatangi kampus-kampus tersebut dimulai bulan April hingga Agustus 2016. Diawali di UNJ dan berakhir di UBM. Kampus-kampus tersebut dipilih melalui kerja sama antara Komplotan Jakarta 32°C dan pihak kampus seperti Dekanat Kemahasiswaan, Dosen, BEM, HIMA, dan bahkan teman-teman tongkrongan. Menarik, karena relasi yang dibangun tidak semata-mata relasi informal seperti yang sebelumnya mungkin menjadi stereotipe Jakarta 32°C. Serta, metode ‘menjemput bola’ ini juga menjadi gebrakan besar, karena pemetaan iklim seni rupa mahasiswa di Jakarta dapat diperluas tak hanya dari karya, tetapi juga lingkup akademis dan non-akademisnya.

Salah satu tujuan terpenting dari adanya Jakarta 32°C beserta program-programnya adalah terbentuknya jaringan antar mahasiswa penggiat seni rupa dari kampus-kampus di Jakarta. Maka dari itu Komplotan Jakarta 32°C mencoba beberapa metode, salah satunya Tarkam. Menariknya, ekspektasi untuk membentuk jejaring tersebut dapat dikatakan ‘belum berhasil’ karena memang program ini masih belum dapat berjalan sesuai dengan rencana. Terdapat sebuah kekhawatiran akan tidak terbentuknya jaringan yang diharapkan dari adanya Tarkam ini. Hal ini terkait eksklusifitas dari masing-masing kampus yang bisa saja menjadi pembatas untuk saling berhubungan dan berkoneksi satu sama lain. Serta adanya rasa malu-malu yang sedikit banyak juga menghambat koneksi dari jaringan tersebut.

TARKAM2ulasan

Dari adanya kekhawatiran tersebut muncullah ide untuk mempertemukan beberapa mahasiswa yang terpilih dari Tarkam 1 dalam sebuah forum besar, yaitu Tarkam 2. Forum yang diadakan di Hall A1, Gudang Sarinah Ekosistem ini diharapkan menjadi pemecah kebuntuan mahasiswa antar kampus. Walaupun, dalam realita, yang terjadi pada setiap mahasiswa yang mengomentari atau dikomentari biasanya berada dalam sebuah lingkup pertemanannya, karena masih memiliki rasa gak enakan apabila mengomentari karya orang lain yang belum dikenal. Forum ini pun diharap menjadi pemecah ide-ide buntu para mahasiswa yang mungkin kehabisan ide di kampus dan teman tongkrongannya di Tarkam 1. Satu hal yang menjadi kekurangan adalah banyaknya jumlah mahasiswa yang di-‘Tarkam’. Forum ini menjadi kurang efisien secara waktu dan kondisi. Forum yang berdurasi terlalu lama membuat mahasiswa yang presentasi di akhir-akhir kurang terapresiasi karena audiens yang bosan dan jenuh. Bahkan beberapa sudah ada yang meninggalkan forum tersebut. Secara kondisi, karena memang awalnya forum ini sangat besar, riuh suara audiens tidak dapat terbendung dan sedikit banyak mempengaruhi presentasi mahasiswa yang di-‘Tarkam’.

TARKAM3ulasan

Kemudian, dari adanya forum tersebut muncullah forum terakhir sebagai penutup, yakni Tarkam 3. Forum ini diadakan setelah berjalannya pameran. Jika sebelumnya Tarkam 1 membahas konsep karya dan rancangan teknis, dan Tarkam 2 membahas tataran teknis dan eksekusi karya yang akan dihasilkan, Tarkam 3 adalah ajang untuk mengomentari dan mengkritik karya yang sudah jadi dan dipamerkan, juga menjadi sesi voting untuk 10 karya terbaik di pameran kali ini. Forum ini mungkin lebih ‘ramai’ karena memang membahas terkait teknis karya dan eksekusi karya yang sudah jadi. Forum ini juga sebenarnya memiliki kelemahan seperti Tarkam 2, yakni kondisi audiens yang cukup riuh dan manajemen waktu. Tarkam  3 juga tidak dihadiri seluruh peserta.

Perjalanan Tarkam ini memang menjadi hal yang belum dapat dilihat secara output. Tarkam bukanlah sebuah output atau tema, melainkan sebuah proses dalam bentuk metode. Metode ini berusaha menghubungkan jaringan atau ‘tongkrongan’ yang sebaiknya timbul secara organik melalui ide-ide yang dipikirkan oleh mahasiswa. Benih-benih dari adanya jaringan besar dalam kancah seni rupa ini pun sudah dapat terlihat. Dibuktikan dengan adanya beberapa peserta yang saling ingin tahu satu sama lain terkait karya yang ingin mereka buat. Mungkin saja, dalam penyelenggaraannya beberapa tahun lagi, Tarkam menjadi sebuah metode umum dalam penyelenggaraan pameran seni rupa yang besifat organik dan muncul dengan sendirinya.

Ahmad Fuadillah Sam

Ahmad Fuadillah Sam lahir di Jakarta 26 November 1994. Mahasiswa Sosiologi di Universitas Indonesia angkatan 2013. Tertarik untuk mendalami isu seputar perkotaan, kebudayaan, dan media dan berencana melanjutkan studi di bidang yang sama.  Saat ini sedang sibuk mencari kesibukan ditambah mempersiapkan diri meraih gelar sarjana sosial.

Foto: Abdussalam Dinillah

Ahmad Fuadillah
Lahir di Jakarta, 26 November 1994. Mahasiswa Sosiologi di Universitas Indonesia angkatan 2013. Tertarik untuk mendalami isu seputar perkotaan, kebudayaan, dan media. Berencana melanjutkan studi di bidang yang sama. Saat ini sedang sibuk mencari kesibukan ditambah mempersiapkan diri meraih gelar sarjana.
Recommended Posts

Leave a Comment

Kontak Kami

Segera dibalas ya...

Not readable? Change text.

Start typing and press Enter to search