Ragam Perspektif Bandung Design Biennale

 In Ulasan

Bandung merupakan kota industri kreatif yang akan selalu lekat dengan kreativitas anak mudanya. Dua hal yang tidak akan pernah lepas dari lingkup anak muda Bandung adalah desain dan musik. Bandung sendiri merupakan kota kelahiran pendidikan formal desain, sehingga kota ini kerap dijadikan laboratorium gagasan kreatif serta kiblat perkembangan desain Indonesia. Adanya acara seperti pameran desain atau festival lantas menjadi daya tarik bagi generasi muda Bandung, salah satunya adalah Bandung Design Biennale 2017 (BDB).

BDB, yang diadakan pada 21-30 November lalu, merupakan event yang ditunggu-tunggu oleh berbagai kalangan aktor kreatif di Bandung, terutama desainer, penggiat, akademisi, maupun penikmat desain. Bisa dibilang, ini adalah pertama kalinya sebuah ‘biennale’ desain di Indonesia diadakan. Jelas banyak harapan yang diberikan kepada acara yang mengemban nama besar ini. Biennale sendiri, dengan persiapan setidaknya dua tahun, harusnya bisa membawakan satu isu yang dirasa baru atau segar di zamannya, itulah mengapa acara dengan embel-embel ‘biennale’ selalu terdengar sexy.

Namun, banyak berita miring yang kami dapatkan tentang BDB ini, seperti berpindahnya venue, hingga ketidaksesuaian ekspektasi pengunjung. Kami sebagai penulis tidak ingin mengkritik pelaksanaan BDB itu sendiri, tapi justru mencoba memahaminya. Tulisan ini merupakan hasil pencarian akan pemahaman dan harapan dari berbagai sudut pandang yang menurut kami memiliki andil dan dampak terhadap pelaksanaan BDB. Kami berbincang dengan beberapa orang yang kami rasa bisa memberikan insight. Berikut temuan menarik dari orang-orang yang kami temui:

Mahasiswa Desain

Beberapa mahasiswa desain di Bandung yang kami temui menjadikan pameran besar sebagai ajang untuk mencari referensi berkarya. Ketika ditanya tujuan mereka mengunjungi BDB, dengan gamblang mereka mengatakan “ingin melihat seperti apa pameran desain yang besar diadakan, buat referensi bikin pameran karya di kampus!” Tak hanya itu, mereka juga sebenarnya ingin melihat eksplorasi desain terbaru, khususnya karya dari desainer Bandung. Namun nyatanya kebaruan itu tidak terlihat, karena karya yang dipamerkan banyak yang sudah mereka lihat sebelumnya. Mereka juga tidak menemukan alur yang jelas pada variasi karyanya. Selain itu, terdapat beberapa karya yang tidak dikurasi dengan baik.

Dibalik branding BDB yang menurut mereka keren, banyak hal janggal menurut penglihatan mereka. Salah satunya adalah tema. Secara kasat mata, cukup sulit mendapatkan gambaran besar tentang tema yang diusung. Variasi karya yang ditampilkan pun tidak merekam jelas apa yang ingin dibawakan. Hal lain yang membingungkan adalah wayfinding, display dan layout pameran. Tidak sedikit dari pengunjung yang tersasar karena  lokasinya yang tersembunyi. Gudang Selatan 22 merupakan bangunan tua bekas gudang persenjataan militer, hal ini terasa lebih dominan ketimbang pamerannya sendiri, terlebih, lokasi ini sudah menjadi area studio dan kantor desain, sehingga dirasa terlalu segmented untuk beberapa kalangan.

BDB merupakan acara yang digelar oleh lima aliansi desain Indonesia. Namun sangat disayangkan karena aliansi-aliansi tersebut kurang memperkenalkan diri, padahal bisa menjadi penting karena aliansi tersebut mungkin akan menjadi basis bagi para calon-calon desainer ketika mereka berkarir nanti.

Desainer Muda

BDB menjadi daya tarik desainer muda yang baru saja lulus dan sedang mencari kesempatan untuk memamerkan karyanya kepada publik. Salah satu teman kami merupakan eksibitor di gelaran ini. Ialah Silmi Sabila, seorang desainer interior asal Depok yang baru saja menyelesaikan studinya beberapa bulan lalu, dan sedang bekerja di salah satu studio desain di Bandung. Silmi tidak hanya aktif di bidang desain, ia juga cukup lama aktif di dunia musik. Usai lulus ia berusaha untuk berkarir di bidang yang sesuai dengan studi yang diambilnya. Ia menjadikan BDB sebagai salah satu ajang yang menarik untuk berpameran.

Saat BDB membuka kesempatan open submission untuk karya desain interior, ia mencoba mendaftarkan karyanya, dan lalu karyanya terpilih. Namun pada saat H-2 pembukaan pameran, Silmi mendapat kontak dari pihak panitia untuk membayar biaya pameran sebesar 250.000 Rupiah; Jumlah yang tidak sedikit untuk seorang fresh graduate. Awalnya ia tidak merasa keberatan, namun ia kecewa ketika melihat karyanya yang dipajang kurang layak. Ia juga menceritakan adanya kekeliruan dalam pemberian nama pada karya rekannya.

Ketika Silmi ditanya tentang respons pengunjung terhadap karyanya, ia mengatakan bahwa “orang-orang cuma selewat aja sih di depan karya gue,” padahal, Silmi berharap karyanya bisa memancing diskusi atau obrolan ringan. Karyanya berupa konsep perancangan Museum Musik Populer di Kota Bandung. Konsep ini diangkat karena Bandung disebut sebagai ‘Creative City’ dan pernah dicanangkan menjadi Kota Musik. Bandung juga banyak melahirkan musisi-musisi berpengaruh di Indonesia.

Desainer Senior

Selain desainer muda, kami mewawancarai seorang desainer senior mengenai pengaruh pameran desain bagi dirinya, terkhususnya BDB. Ia merupakan seorang desainer yang sudah banyak diundang untuk menghadiri konferensi dan pameran di dalam dan luar negeri. Ialah Harry A. Mawardi, seorang desainer produk yang sudah banyak berkolaborasi dengan perajin dari berbagai daerah di Indonesia. Karya-karyanya diakui baik di skena lokal maupun internasional.

Dalam kesempatan ini, ia menyatakan bahwa dirinya sudah mulai memilah mana pameran yang sekiranya bisa memberikan dampak terhadap karya maupun karirnya. Hal ini termasuk dalam banyaknya effort yang dia berikan dalam kontribusi sebuah pameran dan karena ia juga memiliki studio yang harus dikelola. Bagi orang yang sudah sering ikut pameran, pasti ia akan memikirkan apakah pameran yang dia ikuti layak atau tidak, karena menurutnya tidak semua pameran di Indonesia cukup waras, sering kali mengundang tapi hampir tidak pernah membiayai. Ia memberikan penjelasan contoh studi kasus, semisal acara kecil tapi produknya biasa aja. Eksibitor harus mulai memikirkan dampaknya, apakah untuk ditemukan dengan buyer, dijual secara langsung, atau berupa exposure.

Pihak penyelenggara pameran seharusnya bisa selalu memberikan tawaran yang menarik kepada eksibitor. Ia menceritakan pengalamannya mengikuti salah satu pameran desain paling bergengsi di dunia. Saat itu, karyanya yang dipamerkan tidak terlalu masif, hanya berupa vas kecil dan dipajang di pojokan ruang pamer, namun pengaruhnya ternyata cukup besar, ia dikontak oleh beberapa media dari berbagai belahan dunia. Hal ini menurutnya merupakan capaian yang baik, terlebih sudah banyak warga asing yang mengunjungi hingga magang di studio miliknya.

Ketika ditanya mengenai BDB, ia menyatakan bahwa dirinya diajak untuk ikut serta berkontribusi, tapi karena kondisi yang tidak memungkinkan karena harus melaksanakan dinas ke luar kota, ia tidak bisa berkontribusi banyak. “Mungkin yang lain ada yang lebih termotivasi daripada saya, kalo saya yang ikutan takutnya malah seadanya dan merusak flow dari tim penyelenggara,” ucapnya. Ketika disinggung soal seperti apa seharusnya biennale itu, Harry menyatakan bahwa gelaran ini selalu bisa memberikan sesuatu yang monumental.

Penggiat Desain

Setelah kami berusaha memahami sudut pandang secara eksternal, kami berusaha untuk memahami dari sudut penyelenggaranya. Kami menemui seorang penggiat desain yang terlibat dalam kepanitiaan, yaitu Kafin Noe’man. Meskipun latar belakangnya bukanlah seorang desainer, tapi ia memiliki darah keturunan desainer yang sangat kental, dan saat ini ia sedang mengelola bisnis keluarganya juga masih berkutat di bidang desain.

Kami mewawancarai Kafin karena ia cukup sering bepergian mengunjungi berbagai perhelatan desain besar di luar negeri. Ia menceritakan banyak hal mengenai biennale di sana, salah satu yang menurutnya menarik adalah biennale selalu berusaha menyajikan temuan-temuan baru di bidang desain, meskipun karya yang dipamerkan belum cocok secara pasar, namun pameran tersebut selalu menjadi tolak ukur perkembangan desain di negaranya masing-masing.

Biennale sejatinya adalah sebuah event yang dilakukan di satu kota di mana cakupannya termasuk ke dalam misi dan strategi pariwisata kota-kota besar di dunia. Biennale seharusnya tidak perlu terlalu menjadi acara yang berwujud besar; London Design Biennale sendiri hanya diselenggarakan di satu museum, yaitu Sommerset House. Namun biennale itu sendiri merupakan rangkaian acara besar London Design Festival yang diadakan di beberapa titik kota London.

Insight yang kami tangkap dari perbincangan dengan Kafin adalah gelaran biennale selalu membawa isu yang menantang para desainer dan seniman untuk menghasilkan karya yang baru. Kafin menceritakan istilah yang digunakan oleh almarhum ayahnya, Irvan Noe’man. Ia berkata bahwa dalam suatu pameran desain seharusnya bisa menampilkan 3 jenis pisang, yaitu pisang hijau, pisang matang, dan pisang busuk. Pisang hijau diibaratkan sebagai desain baru yang mungkin belum cocok secara pasar namun memiliki sisi inovatif atau kebaruan yang dapat diaplikasikan 2-3 tahun ke depan. Pisang matang adalah karya desain yang sudah cocok dengan tren pasar terkini. Sedangkan pisang busuk adalah karya desain yang sudah lama dan diobral. Dalam suatu pameran, 3 jenis pisang ini seharusnya memiliki porsinya masing masing. Dapat dikatakan bahwa pisang hijau adalah sesuatu yang harus dijual sebagai exposure utama pameran, seperti yang dikatakan oleh Harry Mawardi, dalam suatu gelaran pameran biennial harus ada hal yang monumental, bisa dikatakan pisang hijau ini termasuk di dalamnya.

Namun, ketika ditanya mengenai keberjalanan BDB, dia mengakui memang belum bisa sesuai dengan apa yang ditemukan di biennale lainnya. Banyak faktor urusan dapur yang tidak bisa diceritakan panjang lebar. Keuangan merupakan salah satunya. Namun setidaknya BDB sudah menjadi kickstart baik untuk gelaran selanjutnya. Akan tetapi Kafin belum bisa memberikan kepastian mengenai BDB yang akan kelak diadakan dua tahun lagi, “belum tahu ya, karena emang dari kami belum ada diskusi lagi,” katanya.

Di bagian penutup ini, kami mengumpulkan berbagai saran dari narasumber. Pertama-tama, BDB seharusnya bisa menawarkan sesuatu kepada eksibitor, semisal perihal penjualan karya. Biennale diharapkan dapat mempertemukan desainer dengan buyer atau produsen, atau seminimalnya bertindak sebagai lampu sorot karya desain terkini. Hal ini akan sangat membantu, terutama bagi calon desainer maupun desainer muda yang sedang berusaha memasuki jenjang profesional di karirnya. Sebuah gelaran biennale tidak mengharuskan sesuatu yang besar, tapi bisa dimulai dari sesuatu yang kecil namun memiliki konten yang sudah sekuat biennale pada umumnya. Penamaannya pun tak harus biennale, sehingga tidak terlalu berat untuk dibawa, bisa dimulai dari nama “Bandung Design Week,” atau sejenisnya.

Gelaran BDB pula seharusnya bisa memberkan after event atau rangkuman keseluruhan acara, sehingga orang yang tidak hadir bisa mengetahui hasil dari sharing session, diskusi, dan lainnya. Seperti halnya pameran di luar, yang mana selalu berusaha menghasilkan tulisan atau temuan baru yang dijadikan arsip mengenai perkembangan desain dan seni. Sebagai acara yang memegang nama biennale, BDB harus bisa memegang komitmen untuk diadakannya kembali dua tahun ke depan.

Sedangkan menurut kami, seharusnya BDB bisa memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk bisa memamerkan karya mereka, seperti halnya dalam gelaran biennale di luar, yang akhirnya selalu menjadi ajang desainer muda untuk mengekspos namanya, baik secara individu maupun kolektif, dan menurut kami BDB masih menutup diri dan tidak membuka kesempatan desainer muda untuk menunjukkan karyanya. Sebagai ajang koneksi jejaring desain dari berbagai belahan di nusantara, memang biennale selalu dikaitkan dengan turisme satu kota, namun hal ini seharusnya tidak menutup kemungkinan bisa mengundang desainer dari luar kota untuk berkolaborasi, seperti halnya Jakarta Ceramic Biennale yang mengundang seniman dari berbagai daerah dan luar negeri.

Sebagai acara desain, BDB juga seharusnya bisa membuka diri dan paham betul bahwa perkembangan desain sudah tidak lagi mengenai desain sebagai estetis saja, namun desain sebagai keilmuan yang holistik juga harusnya bisa dipamerkan agar pengunjung paham betul bahwa desain tidak seperti itu-itu saja, semisal hal yang dihasilkan dari suatu riset desain (design research), ar-vr design, algorithmic design, desain visualisasi data (data visualization design), dan sebagainya.

Eksibitor di BDB juga seharusnya bisa ditantang dengan menjawab suatu isu, sehingga kurator akan dapat mengkurasi karya dengan kesesuaian isu tersebut dan juga menantang desainer untuk lebih kompetitif dalam mengembangkan ide. Membahas mengenai kuratorial, helatan BDB kemarin juga masih kurang baik, tidak ada bagian di mana kurator menuliskan pengantar mengenai kuratorialnya pada pameran ini, sehingga banyak pengunjung yang tidak memahami BDB secara kontekstual.

Wigy Ramadhan – Fresh Grad within months, Currently spend his time as Design Researcher for Labtek Indie.

Nadia Maghfira – Just recently finished her studies in Design School, and waiting for graduate.

Tulisan ini merupakan bagian dari editorial Yang Muda Membaca Biennale.

Foto: www.antarafoto.com

Recent Posts

Leave a Comment

Kontak Kami

Segera dibalas ya...

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

X