Ragam Perspektif Komunikasi

 In Ulasan

One cannot not communicate

-Watzlawick

Tugas Karya Akhir yang dibicarakan dalam BTA Semester 2.4 lalu mengangkat tema mengenai Masalah-masalah dalam Komunikasi. Empat penyaji hadir untuk berbagi hasil penelitian dan mempresentasikannya dengan apik. Masing-masing berasal dari universitas yang berlainan dan mengambil sudut pandang yang berbeda mengenai komunikasi. Mereka adalah Andrianto Suryagandi Efendi (Universitas Telkom Bandung), Emilia Tiurma Savira (Universitas Indonesia), Hendrico Prasetyo (Institut Kesenian Jakarta), dan Maria Cynthia (Universitas Multimedia Nusantara).

Sebagai gambaran, pemahaman sederhana mengenai komunikasi adalah pertukaran informasi dan makna, secara sengaja ataupun tidak sengaja, dalam lingkup interpersonal, kelompok kecil, atau publik melalui media tertentu. Komunikasi terjadi ketika pernyataan atau tindakan (disebut juga sebagai perilaku simbolik) diinterpretasikan dan dimaknai sebagai sebuah pesan (Ruben dan Stewart, 2006).

Penyaji pertama, Maria Cynthia, membahas perihal hate speech (ujaran kebencian) yang belakangan semakin ramai di media sosial. Latar belakang dari TKA Cynthia adalah kasus hate speech yang terjadi di Tanjungbalai pada tahun 2016. Ia merasa bahwa fenomena ujaran kebencian penting untuk diangkat. Batasan utama dari pemahaman ujaran kebencian yang diambil adalah permusuhan dan kebencian terhadap perbedaan SARA yang terdapat dalam Pasal 28 ayat (2) UU ITE.

Ia membuat karya berupa perancangan visual di media sosial berbentuk kampanye. Pemilihan medium media sosial ini didasari karena banyak pengguna internet di Indonesia yang berjumlah 88,1 juta orang atau 34% dari jumlah populasi masyarakat Indonesia. Selain itu, pengguna aktif media sosial sebanyak 79 juta orang atau 30% dari jumlah populasi masyarakat Indonesia. Dari tahun 2015 ke 2016, pengguna internet mengalami kenaikan sebesar 15%, sedangkan pengguna media sosial meningkat sebesar 10% (data diambil dari situs wearesocial.com).

Selain media sosial, kampanye ini juga dirancang dengan konsep yang dapat dipasang di KRL atau mall. Sebagai landasan rancangan visual tersebut, ia berpatokan pada data yang diambil dari hasil wawancara, focus group discussion kecil, pengisian kuesioner, dan observasi. Bahkan, untuk semakin memahami fenomena ujaran kebencian ini, ia mengunjungi divisi yang khusus menangani cyber crime di Markas Besar Polri.

Menggunakan tagar #KALEMISME, medium yang menjadi andalan kampanye adalah video, sebab berdasarkan kajian-kajian yang ia telusuri, video merupakan medium yang paling efektif untuk disebarkan melalui media sosial. Kampanye ini bertujuan untuk mengajak masyarakat agar memiliki sikap yang tenang, tidak emosional, dan kritis dalam menghadapi ujaran kebencian. Pemilihan kata KALEMISME sendiri memiliki dua arti, yaitu (1) KALEMISME adalah akronim dari beberapa cara untuk menghadapi ujaran kebencian dan (2) KALEMISME dapat dibaca sebagai “Kalem Is Me”.

Presentator kedua adalah Andrianto Suryagani Efendy dengan tugas akhir berjudul Kajian Fotografi Potret pada Iklan Kampanye Politik.  Ia melakukan analisis teks (atau tanda) dan teks yang dipilih adalah potret diri yang digunakan oleh calon kepala daerah dalam kampanye politik. Perlu dipahami bahwa bentuk yang dimiliki teks beragam seperti film, iklan, komik, foto, musik, fashion, lukisan, dan tanda nonverbal (suara, anggota tubuh, simbol kebudayaan). Penelitian ini menggunakan teori fotografi potret, semiotika Roland Barthes, dan interpretasi biografis, dengan metode kualitatif dan analisis deskriptif naratif.

Teori Semiotika Roland Barthes yang digunakan oleh Andrianto dibatasi sampai pada sistem makna denotasi dan konotasi. Ia tidak melakukan pembacaan teks pada tataran mitos. Denotasi adalah makna yang dapat dideskripsikan, bersifat langsung, dan dapat dilihat, dirasakan, atau didengar oleh anggota masyarakat. Konotasi merupakan makna yang dihasilkan dari proses pengasosiasian tanda dengan kode-kode atau sistem kebudayaan yang lebih besar. Makna konotasi bersifat tidak langsung dan tersembunyi. Sementara mitos adalah konotasi yang telah melembaga dan menjadi wajar dalam suatu masyarakat (Barthes, 1972).

Dari penelitiannya, ia mengambil kesimpulan bahwa visual yang ditampilkan dalam bentuk apapun akan memiliki pengaruh tertentu pada pembaca teks. Selain itu, ia tertarik mengangkat topik penelitian ini karena medium fotografi, khususnya potret diri, mampu merekam individu secara real –yang dimaksud sebagai real tampaknya merujuk pada makna denotasi dari teks dalam fotografi.

Presentasi berlanjut ke penyaji berikutnya, Hendrico Prasetyo yang tertarik pada internet art, khususnya Instagram Grid Art. Instragram Grid Art adalah sebuah metode/fenomena pemanfaatan user interface pada feed profile Instagram sebagai penerapan estetis dalam penyampaian komunikasi melalui visual. Rico sendiri merujuk pada beberapa akun yang menerapkan Instragram Grid Art, yaitu @drawdownbooks, @orhganic, dan @sambunghambar.

Ketertarikan Rico tersebut diejawantahkan dalam proyek yang dinamakan Graphic Exercise. TKA Rico memberikan gambaran proses produksi dari Graphic Exercise; mulai dari gagasan, pembuatan karya, produksi di Instagram, dan perancangan situs jejaring. Ia menjadikan Graphic Exercise sebagai sebuah medium bermain, eksperimen, kolaborasi, dan berjejaring dengan menggunakan Instagram Grid Art sebagai metode berkarya.

Rico mengundang enam orang untuk berkolaborasi. Proses produksi tersebut memunculkan beberapa karya seperti La Maison, Awatara of Wisnu, Bertahan dan Menyayang, Playground, dan Tembang Pesona. Oleh Rico dan kawan-kawan, akun instagram @graphicexercise dimanfaatkan sebagai ruang ekperimen dalam berkarya. Sementara situs Graphic Exercise berfungsi sebagai ruang pengarsipan aktivitas, data, dan hasil studi dari eksperimen karya. Memamerkan karya di ruang digital dianggap penting bagi Rico, sebab internet dapat dimanfaatkan dan dimaksimalkan sebagai media promosi portofolio.

Penyaji terakhir adalah Emilia Tiurma Savira yang meneliti tentang proses interaksi antara dokter dan pasien kanker, khususnya ketika dokter memberikan kabar bahwa pasien tersebut memiliki penyakit kanker. Dalam dunia kesehatan, hal ini dikenal sebagai Breaking Bad News. Emilia menggunakan Social Exchange Theory dengan metode observasi langsung dan wawancara. Ia mengambil data di rumah sakit dan komunitas atau support group kanker.

Dalam hal ini, Emilia tergerak untuk melihat cara dokter-dokter di Indonesia memperlakukan pasien. Selain itu, ia menyadari adanya kekosongan riset komunikasi kesehatan di kalangan mahasiswa S1 komunikasi. Literatur yang kerap ditemukan mengenai komunikasi dan kesehatan lebih banyak didapatkan dari sisi kedokteran.

Salah satu hasil penelitian Emilia adalah bahwa dokter dan pasien harus satu frekuensi. Dalam artian dokter dan pasien perlu mencapai kesepakatan bersama dalam proses penyembuhan. Jika frekuensi dan kesepakatan tersebut tidak sama, maka komunikasi keduanya tidak akan baik dan berdampak pada kemerosotan kesehatan pasien. Temuan lainnya adalah pada pentingnya pelatihan empati bagi dokter, melalui kegiatan kesenian atau sosial misalnya. Selain itu, dalam kasus penyakit kanker, peran komunitas sangat penting dan memiliki pengaruh yang signifikan bagi kesehatan pasien. Tingkat kesehatan pasien yang mendapat dukungan dari komunitas cenderung lebih baik dibandingkan dengan yang tidak bergabung dalam komunitas.

Melalui sudut pandang berbeda dari empat penyaji, komunikasi dibahas dengan menarik dan menyenangkan. Pun khalayak juga menyimak dan menanggapi presentasi-presentasi tersebut dengan antusias. Beragam pertanyaan muncul hingga memicu diskusi, seperti mengapa menggunakan –isme dalam #KALEMISME, seberapa pentingnya peran instagram dalam menampilkan karya, privasi di media sosial, seperti apa realitas yang ditampilkan medium fotografi, dan bagaimana relasi antara dokter dan pasien di Indonesia.

Meski demikian, ada beberapa hal yang perlu dicatat, yaitu pentingnya riset sebelum memulai proses perancangan dan produksi karya, baik visual ataupun teks tertulis. Lemahnya data dan kajian yang digunakan sebagai bahan rujukan akan berdampak pada tidak maksimalnya target kampanye, penciptaan produk, ataupun hasil penelitian. Catatan lain yang muncul dalam diskusi adalah seringnya mencampur-adukkan penggunaan bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia. Salah satu sebabnya adalah sulitnya mendapatkan padanan kata yang tepat bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Scholastica Gerintya

Scholastica Gerintya
Lulusan Kajian Media di Ilmu Komunikasi, FISIP UI. Kesenian dan jalan-jalan merupakan hal yang disenangi. Saat ini bekerja sebagai salah satu periset di tirto.id. Bisa ditemui di akun instagram @gerintya.
Recommended Posts

Leave a Comment

Kontak Kami

Segera dibalas ya...

Not readable? Change text.

Start typing and press Enter to search