Remblong #2: Tabrak Lari

 In Ulasan

Kata “bebas” bisa dimaknai dengan cara berkesenian sebebas-bebasnya, beserta nalar dan pola pikir yang juga sama bebasnya. Kebebasan bisa dilihat dari cara masing-masing perupa dalam mengolah dan menyampaikan pesan melalui karya, juga cara mereka mengambil dan menyajikan isu yang mereka angkat. Ya, intinya bebas, dan dalam pameran Remblong #2 yang digelar pada 13 – 24 Januari lalu, semua hal yang beraroma bebas bisa terjadi.

Remblong merupakan sebuah pameran yang digagas oleh kolektif asal Bandung bernama Sarang Penyamun. Berisikan perupa dari berbagai kota, Remblong menjadi tempat yang tepat untuk berjejaring dan bersilaturahmi. Bertempat di sebuah galeri kecil di daerah Bandung Utara, yaitu Theehuis, Taman Budaya Jawa Barat, Remblong #2 mengambil tajuk “Tabrak Lari.” Tanpa disadari, pameran ini adalah wadah apik bagi perupa-perupa yang ingin bergerak bebas tanpa adanya rasa gengsi atau ketakutan terhadap berbagai macam stigma. Seolah-olah, mereka dapat melepas perkara tentang diterima atau tidaknya karya seni yang “bebas” ini.

Ya, pertanyaan seperti “Orang-orang terima enggak sih sama seni yang kayak ini? menurut saya hanya kekhawatiran saja, dan pada kenyataannya, kekhawatiran itu akhirnya terbungkam saat pembukaan pameran berlangsung. Takdir berkata lain dan pengunjung ramai berdatangan. Mereka tetap mengapresiasi berbagai karya dan kolaborasi seni yang dilangsungkan. Seperti halnya karya dari pameris asal Jakarta, Razip Falsyah, yang direspons oleh Saut Prayudha yang juga berasal dari Jakarta. Ya, Theehuis adalah saksi bisu dari semua kejadian “bebas” itu.

Walau banyak bermodalkan kata ‘“bebas,” pameran ini tidak melulu memberikan kesan yang urakan dan tidak serius. Di sisi lain, para perupa dapat memberikan pengalaman dan cita rasa yang berbeda dari pameran-pameran pada umumnya, terlihat dari karya-karyanya. Pun, saya rasa setiap pengunjung yang datang juga merasakan hal sama, (bahkan mungkin para perupa juga merasakannya.)

Di dalam pameran ini, ada satu karya yang mencuri perhatian saya, yaitu “Gusti Hayati” dari Shofa. Sebelum pameran dibuka, saya sudah memperhatikan sambil mencoba memahami apa makna dari karya itu. Karyanya merupakan mural di atas kaca yang melukiskan serangkaian dalil Al-Quran dalam bentuk tulisan Arab gundul beserta terjemahannya. Setelah berbincang dengannya, rupanya ia ingin menyampaikan bahwa kita harus mereproduksi karya dan pemikiran secara terus menerus. “Gusti Hayati” merupakan pancingan kepada perupa maupun penikmat seni untuk terus menyuarakan dan memvisualisasikan apa yang mereka yakini dalam kehidupannya.

Saya berterimakasih kepada Sarang Penyamun yang telah mempertemukan saya dengan orang-orang “bebas” yang memiliki jiwa besar dalam berkesenian. Sarang Penyamun sendiri merupakan kolektif yang mewadahi kegiatan berkesenian dan kebebasan berkarya.Tak lagi bicara soal pakem-pakem seni, namun tetap bisa serius dengan seni yang dimilikinya. Kolektif ini juga ahli dalam memberikan kesan ramah pada tamu dari luar, lengkap dengan jiwa kekeluargaan mereka yang sangat erat. Bagi saya, berkesenian adalah hal yang lumrah di kalangan kolektif seni, tapi berkesenian dengan mengedepankan jiwa persaudaraan dan kekeluargaan adalah nilai yang besar.

Foto: Arief Nurachman & grup Remblong #2

Recent Posts

Leave a Comment

Kontak Kami

Segera dibalas ya...

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

X