Serba Serbi Seni

 In Ulasan

Salah satu pembeda mahasiswa seni & desain dari mahasiswa lainnya adalah tugas akhir. Jika mahasiswa pada umumnya menyusun skripsi, mahasiswa seni & desain menciptakan karya dan mencanangkan proyek seni, karena dari awal mereka dibimbing untuk menjadi praktisi seni dan pekerja kreatif. Tugas akhir merupakan tahap uji kemampuan dan kematangan mereka konsep dan teknik berkarya selama –umumnya 8 semester perkuliahan. Tugas Akhir tidak hanya dinilai oleh Penguji dan Pembimbing, tetapi juga publik ketika karya itu dipamerkan.

Bicara Tugas Akhir 2.6 (29/4) membahas penciptaan dan kajian seni. Secara tidak langsung, sesi kali ini tidak semata mendiskusikan latar belakang serta pengalaman tugas akhir para penyaji, tetapi juga karya seninya.  

Penyaji pertama adalah Munqis Fadhila dan Budi Intang dari Universitas Budi Luhur, Jakarta. Kedua mahasiswa jurusan penyiaran ini membuat film dokumenter berjudul Sebelum Usang yang menceritakan perkembangan wayang golek tradisional menjadi modern. Munqis selaku sutradara, dan Budi selaku produser, menelaah perkembangan wayang golek dari segi penokohan, cerita, dan pementasannya. Mereka menemukan wayang modern banyak menambahkan unsur-unsur budaya populer agar dapat menyentuh anak muda, pementasannya pun lebih meriah dan durasinya dipersingkat.

Temuan mereka nyatanya kurang lengkap. Bagus Purwoadi selaku penanggap diskusi, memberi tambahan pembahasan mengenai wayang hip-hop Yogyakarta yang perkembangannya sangat signifikan dari segi konten, durasi, sampai segi artistik. Wayang hip-hop mungkin tidak menjadi studi lapangan mereka, atau porsi penelitiannya dibatasi menjadi beberapa daerah saja.

Rizki Fariz Abdussamad, lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung dengan peminatan menggambar, mencoba menyalurkan rasa cemas dan pemikiran negatif yang berlebihan mengenai dirinya sendiri. Tugas akhir bertajuk ‘Ambang Batas Delusi Kecemasan’ merupakan seri karya mix media dengan teknik utama menggambar.

Karyanya tidak hanya menggambar dengan pensil di atas kertas saja, ia bermain dengan medium lain. Setiap gambar utama, yaitu di atas kertas, dilapisi dengan dua gambar lain di atas kertas kalkir, dan di belakangnya dipasang lampu neon, sehingga ketiga gambar potret tersebut muncul dan menciptakan efek bayang. Satu hal yang menarik, walaupun yang cemas adalah sang senimannya sendiri, namun tidak ada di karya tersebut yang menampilkan potret diri, melainkan potret-potret perempuan. Mungkin, ini personifikasi.

Tugas akhir juga menjadi tahap mahasiswa untuk melakukan eksperimen baru. Eksperimen ini dicoba oleh Luthfi Zulkifli dari Universitas Kristen Maranatha, dan Pandu Wicaksono dari Institut Kesenian Jakarta.

Bosan dengan lukisan yang melulu cat di atas kanvas, Luthfi Zulkifli mencoba medium lain, yaitu api. Di tugas akhirnya, ‘Kronos’, Luthfi menelaah konsep tentang waktu. Ia mencoba berbagai cara ‘bakar-bakaran’ yang disesuaikan dengan eksplorasinya tentang konsep waktu, sebagaimana api, dapat juga menyimbolkan waktu, yaitu awal dan akhir.

Tugas akhir ini juga akhirnya menyentuh seni rupa konseptual. Eksplorasi ide mengenai waktu pun bisa tiada habisnya. Terbukti, setiap karyanya memiliki pendekatan konsep yang berbeda-beda. Karya ini mampu melahirkan banyak interpretasi, karena persepsi manusia akan waktu pastinya beragam.

Berbeda dengan Pandu Wicaksono. Tugas akhirnya, ‘Found Object Memoar Ayah tentang Soekarno’, bermain dengan found object. Materi ini ia dapatkan ketika kerja praktik bersama Ade Darmawan, seniman yang kerap berkarya dengan found object. Nyatanya, medium ini menjadi permainan baru bagi Pandu yang sebelumnya berkutat dengan medium konvensional di perkuliahannya, yaitu seni lukis, cetak grafis, dan patung.

Pandu menelusuri memoir tentang ayahnya yang mengidolakan Soekarno, lantas, ia menelusuri ideologi-ideologi Soekarno dan Pancasila. Di satu sisi, Pandu mencoba memahami alasan ayahnya mengidolakan Soekarno, dan di sisi lain, ia akhirnya mampu mempelajari ideologi-ideologi Soekarno. Di karyanya, Pandu menampilkan objek-objek berupa buku sejarah, sosial, dan politik, yang berkaitan dengan Soekarno dan Pancasila.

Bicara Tugas Akhir selalu menarik jika tidak hanya mendiskusikan penciptaan karya, tetapi juga kajian atau skripsi. Fariza Dear Gharinda, lulusan Universitas Indonesia, mengkaji ilusi visual yang diciptakan oleh pameran Louis Vuitton Exhibition Series 3 di London.

Salah satu konsep kreatif penjualan produk di suatu pameran adalah dengan menaruh pencuri perhatian. Pameran Louis Vuitton Series 3 memanipulasi psikologis pengunjung dengan menciptakan serangkaian ilusi di lokasi pameran yang memberi pengalaman visual baru bagi pengunjung. Pengalaman visual ini menyebabkan suatu produk busana dapat mencuri perhatian pengunjung karena sifatnya yang kontras dengan ilusi yang dialami sebelumnya.

Diskusi berjalan menarik terutama jika membicarakan karya seni penyaji. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, diskusi ini tidak hanya membicarakan latar belakang atau pengalaman menarik para penyaji dalam proses penciptaan karyanya, tetapi juga karya itu sendiri. Jika kita menyimak, 4 dari 5 penyaji dapat dikelompokkan menjadi dua ‘kubu’: kubu Jakarta dan kubu Bandung. Budi & Munqis, dan Pandu berada di kubu Jakarta, dan Fariz dan Luthfi berada di kubu Bandung, sedangkan Fariza berada di posisi netral yang menengahkan diskusi melalui opininya. Diskusi berlanjut mengenai iklim seni rupa Jakarta dan Bandung, pada akhirnya kedua kubu tersebut melihat rumput seni rupa tetangganya lebih hijau daripada rumputnya sendiri.

Ibrahim Soetomo
Jika kamu membaca ini, ketahuilah bahwa tulisan ini milik Ibrahim Soetomo, seorang mahasiswa Seni Murni Institut Kesenian Jakarta. Menjuluki dirinya sendiri ‘seniman tekstuil’, ia gemar mengarungi keajaiban dunia penulisan: Fluxus event score, sajak dan baru-baru ini penulisan seni rupa. Jika kamu membaca ini, pastikan kamu menyimak akun instagramnya, @ibambaik.
Recommended Posts

Leave a Comment

Kontak Kami

Segera dibalas ya...

Not readable? Change text.

Start typing and press Enter to search