Sinemakolekan Berkunjung ke Bandung

 In Ulasan

Siang itu agak sibuk dan membingungkan bagi kami berempat untuk memilih barang bawaan apa saja yang menunjang penampilan kami di Kota Kembang nanti. Saya pun hampir tiga kali bolak-balik untuk memutuskan membawa handycam atau tidak. Perjalanan ini merupakan kali pertama saya pergi ke Bandung bersama Sinemakolekan untuk memperkenalkan serta mempresentasikan proyek dari Sinemakolekan dan Komplotan Jakarta 32°C.

Sebelum saya cerita lebih jauh, ada baiknya kalau kita berkenalan dulu. Sinemakolekan adalah kolektif yang diisi empat mahasiswa, yaitu saya sendiri, Ario Fazrien, Haviz ‘Camay’ dan Muhammad Reza. Kami fokus pada produksi audio visual seperti film, video, atau apapun yang berkaitan dengan gambar gerak. Selain itu kami juga bertujuan untuk mengarsipkan karya audio visual mahasiswa.

Kenapa Bandung? Kenapa tidak? Jaraknya tidak terlalu jauh dan kebetulan kami diundang oleh Omni Space Bandung dalam program mingguannya. Selain presentasi dan ngolekin film, berkunjung ke kampus-kampus di Bandung sudah kami rencanakan dengan manis karena membayangkan ‘kamu-kamu’ di sana yang ‘manis-manis’.

Omni Space adalah ruang alternatif yang berada di lantai 3 sebuah ruko di depan Universitas Parahyangan (Unpar) di daerah Ciheumbelit. Omni Space adalah tempat pertama yang kami kunjungi untuk memulai invasi kami di Bandung. Kami agak terburu-buru karena jalur Cipularang yang ditutup, dan waktu yang kami janjikan juga cukup meleset, tetapi hal itu tidak mengubah apapun karena rencana kami tetap berjalan. Hari itu Omni Space memiliki program bernama ‘Sinema Paruh Pekan’. Pemutaran film dan diskusi berjalan lancar dan ditutup dengan ajang berbagi kontak dengan teman-teman mahasiswa yang berkesempatan hadir malam itu. Sekadar info, ‘Sinema Paruh Pekan’ adalah program Omni Space berbentuk bincang film di setiap hari Rabu.

Karena banyaknya janji dengan kawan-kawan mahasiswa yang sudah direncanakan sedari Jakarta, kami harus berbagi tugas. Saya dan Ario Fazrien berkunjung ke Universitas Padjadjaran (Unpad), sedangkan Haviz ‘Camay’ dan Muhammad Reza berkunjung ke Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Hari itu saya janjian dengan teman-teman Cinematography Club Fikom Unpad. Cinematography Club, disingkat CC, adalah salah satu UKM yang sudah cukup lama berdiri di Unpad. Walaupun ada beberapa kendala teknis, kami tetap mengadakan pemutaran film hari itu. Sesi diskusi masih berfokus pada apa yang kami kerjakan dan pengalaman teman-teman di CC Fikom Unpad lakukan selama ini, meskipun kami belum berhasil mengoleksi film-film mereka. Dari hasil obrolankemarin menggambarkan bagaimana susahnya menjadi mahasiswa non-film untuk membuat film. Keterbatasan waktu dan tugas yang menumpuk tidak mengendurkan gairah mereka untuk memproduksi film. Sekadar info lain, di tahun 2015 kemarin Unpad membuka fakultas Film dan Televisi.

Hari ke-3 merupakan hari pamungkas dan paling sibuk karena kami harus berkunjung ke tiga kampus sekaligus dalam waktu yang hampir bersamaan, yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Telkom, dan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI Bandung). Kampus pertama yang berhasil kami kunjungi adalah ITB dengan komunitas film bernama Liga Film Mahasiswa (LFM); UKM yang fokus pada fotografi dan film. Kami tidak mengadakan pemutaran, hanya diskusi sedikit tentang film-film yang mereka buat. Kami berhasil mendapatkan beberapa koleksi film dan video dari teman-teman FSRD. Karena UKM ini  tidak hanya berfokus dengan film, LFM agaknya memiliki kendala perihal produksi. Mereka memiliki dua fokus yang berbeda dalam satu badan. UKM –yang katanya– berdiri dari tahun 70an ini memiliki proyeksi seluloid, tapi, karena susahnya perawatan, proyeksi film-film lama para senior agak rusak.

Berlanjut. Lagi-lagi kami harus membelah badan. Kali ini saya dan Haviz ‘Camay’ berkunjung ke kampus ISBI yang berada di Buah Batu. Kami bertemu dengan teman-teman Cinescope yang kebetulan mahasiswa film di kampus ini. Kami pun berkesempatan menonton film dokumenter karya tugas akhir teman-teman ISBI dan dilanjutkan dengan pemutaran film koleksi Sinemakolekan. Karena terbatasnya waktu, diskusi dilanjutkan di kantin kampus sambil ngolekin film teman-teman ISBI. Berbeda dengan kampus-kampus sebelumnya, film dari teman-teman di ISBI lebih beragam jenisnya, mulai dari video dokumenter, film pendek, sampai video eksperimental sudah pernah mereka produksi. Obrolan seputar festival film mahasiswa yang kurang sehat menjadi topik hangat di tengah udara Buah Batu yang dingin. Cinescope juga memberi oleh-oleh berupa piagam untuk Sinemakolekan.

Perjalanan kali ini sangat menyenangkan, teman-teman mahasiswa yang kami kunjungi pun sangat membantu. Banyak pembicaraan yang kami lakukan mengenai film teman-teman di Bandung yang masih berkutat dengan film pendek fiksi. Sikap individualitas masing-masing personal, bahkan kampus yang kadang membuat jarak antar komunitas film mahasiswa yang ada di Bandung menjadi kendala besar. Seharusnya, dengan fasilitas umum seperti taman film bisa dimanfaatkan untuk berkumpul dan merayakan karya satu sama lain.

 

Terima kasih kami ucapkan pada Aumdayu dari Omni Space untuk tempat tinggalnya, Panji si supir serba bias yang membantu perjalanan, dan teman-teman mahasiswa dari Unpad, UPI, ITB, Telkom, dan ISBI yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Sampai bertemu di lain kesempatan.

Budi Setiawan

Foto: Sinemakolekan

Recommended Posts

Leave a Comment

Kontak Kami

Segera dibalas ya...

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

X