Tercebur ke Dalam

 In Ulasan

Kalau dipikir-pikir, saya cukup beruntung bisa berkontribusi dalam acara ini. Berawal dari ketidaksengajaan, saya malah tercebur ke dalam kepanitiaan Jakarta Biennale tahun ini. Salah satu teman dari Komplotan Jakarta 32 °C, Gesyada Siregar, meminta saya untuk membantu sosialisasi Jakarta Biennale 2017 ke kampus-kampus seni rupa dan desain di Jakarta. Ada sepuluh kampus yang menjadi target tim komunikasi Jakarta Biennale 2017, yaitu Universitas Indonesia, Universitas Negeri Jakarta, Institut Kesenian Jakarta, Universitas Trisakti, Universitas Tarumanagara, Universitas Multimedia Nusantara, Universitas Pelita Harapan, Universitas Mercu Buana, Universitas Bunda Mulia, dan Universitas Bina Nusantara.

Namun pada akhirnya kunjungan tak sesuai ekspektasi. Kampus yang berhasil kami datangi adalah Universitas Tarumanagara, Universitas Negeri Jakarta, Institut Kesenian Jakarta, Universitas Trisakti, Politeknik Media Kreatif, dan yang terakhir Universitas Media Nusantara. Bersama tim komunikasi yaitu Indah Ariani, Johannes ‘JJ’ Adibrata, Jin Panji, dan Asep Topan, kami menyambangi kampus-kampus tersebut.

Saya kira, setelah selesai dari sosialisasi akan selesai pula kontribusi saya di Jakarta Biennale, namun tiba-tiba, muncul notifikasi di Whatsapp bahwa saya masuk dalam grup “Edukasi Publik JB.” Ya, ternyata saya benar-benar tercebur.

Dimulai dengan program lokakarya exhibition guide kepada beberapa siswa sekolah menengah dan mahasiswa yang nantinya akan ditugaskan menjadi exhibition guide Jakarta Biennale 2017. Kegiatan ini dilaksanakan pada akhir pekan yang menyenangkan karena diisi dengan diskusi tentang ketertarikan mereka terhadap seni rupa.

Ngomong-ngomong soal tema Jakarta Biennale tahun ini, saya cukup kebingungan tentang maknanya, yaitu “Jiwa.” Saya sendiri pun belum bisa memaknai apa “Jiwa” yang sesungguhnya ditampilkan. Padahal, saya sudah membaca sedikit di situs Jakarta Biennale, tapi ya tetap saja, agaknya otak saya enggak nyampe. Tema yang diangkat sangat jauh berbeda dari biennale sebelumnya yang lebih menceritakan keruwetan, kesengsaraan, hingga pemberontakan.

Begitu pula teman-teman mahasiswa yang saya sambangi satu per satu ke kampusnya. Banyak dari mereka yang kebingungan, bahkan banyak yang belum tahu Jakarta Biennale itu apa. Hal ini cukup membuat kaget teman-teman tim komunikasi yang sudah cukup kepedean dengan tenarnya Jakarta Biennale.

Dengan adanya kegiatan sosialisasi ini, ternyata mahasiswa memang berperan penting dalam suatu gelaran acara seni rupa besar macam Jakarta Biennale. Bukan hanya semata-mata jadi pengunjung atau penikmat karya saja, tapi mereka akan menjadi penggerak acara ini di masa depan. Semua pasti ada regenerasi.

Banyak teman mahasiswa yang terlibat dalam acara ini, dan berperan sebagai volunteer dan exhibition guide. Menjadi bagian dari acara sebesar ini mungkin akan sangat berkesan bagi mahasiswa yang haus akan pengalaman baru. Begitu pula saya yang pada kesempatan ini bisa bekerja, bertemu orang baru, serta berbagi pengalaman. Tentunya mengajarkan mahasiswa untuk bertanggung jawab atas tugas mereka, menangani pengunjung pameran yang tidak sedikit merusak karya, dan bekerja sama walaupun dengan kondisi serta orang baru yang belum mereka temui sebelumnya. Ini akan menjadi pengalaman terbaik di masa muda mereka, begitu pula saya. Harapan saya, mungkin dua tahun ke depan hingga seterusnya, biennale tetap mengikutsertakan para mahasiswa, karena campur tangan mereka yang berjiwa liar dan bertenaga besar ini menjadi penting untuk ikut menyukseskan biennale terlepas dari hebatnya seniman yang terlibat.

Malam itu, sebelum pembukaan, saya bersama teman-teman tim edukasi publik dan volunteer diajak berkeliling karya oleh Melati Suryodarmo, sang Direktur Artistik. Walau raut wajahnya sudah tak segar lagi, ia tetap semangat menjelaskan karya satu per satu, sungguh kehormatan bagi saya bisa dipandu melihat pameran sekelas Jakarta Biennale langsung oleh Direkturnya. Saat berkeliling dan melihat karya, saya merasakan hal berbeda dengan pameran gelaran dua tahun sebelumnya. Tahun ini lebih unik, yaitu adanya penghormatan bagi seniman-seniman senior dan yang sudah meninggal dunia, seperti Semsar Siahaan.

Satu per satu karya saya coba nikmati dan pahami. Salah satunya adalah karya “Memakai-dipakai” milik Abdi Karya, seorang seniman performans dari Makassar. Beliau mempertontonkan pertunjukan yang atraktif dan cukup unik dengan menggunakan media sarung. Kebetulan saya orang yang jarang menikmati karya seni performans, kecuali saat menonton beliau.

Terlepas dari pengalaman saya dengan karya-karya tersebut, saya sebagai mahasiswa yang sebetulnya baru lulus ini, beranggapan bahwa biennale dapat menjadi wadah yang seru untuk mendapat pengalaman baru. Mengapa mahasiswa harus terlibat dalam acara seperti ini? Karena mereka bisa mengetahui lebih dalam tentang Jakarta Biennale atau keorganisasian pameran pada umumnya. Pertanyaan seperti “Apa sih Jakarta Biennale?” “Kok, temanya kayak gini?” “Terus kenapa senimannya ini?” Terlebih bagi mahasiswa seni dan desain yang nantinya akan menyelenggarakan acara yang serupa dan justru menjadi pihak yang menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.Menurut saya, karya yang disajikan cukup relevan dengan keadaan yang kini terjadi. Dengan ditambah sentuhan emosi dari pengalaman pribadi seniman, membuat karya-karya ini lebih greget. Ini yang menjadi menarik dalam biennale, karena dapat menghadirkan ragam tema dengan perbedaan yang cukup drastis di setiap penyelenggaraannya. Selalu ditunggu-tunggu oleh para pemuda apa yang akan disajikan di biennale selanjutnya.

Tulisan ini merupakan bagian dari editorial Yang Muda Membaca Biennale.

Foto: www.jakartabiennale.net

Recommended Posts

Leave a Comment

Kontak Kami

Segera dibalas ya...

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

X