Tour Coli-day Atras Alwafi

 In Wawancara

Tour Coli-day adalah projek inisiatif Atras “Trastrash” Alwafi berupa tur audio visual performance ke beberapa artspace di Jawa Tengah dan Timur, yaitu Impala Space (Semarang), Uwit Artspace (Salatiga), Ruang Atas (Solo), Duduk-Duduk Aja Creative Workshop (Surabaya) dan Kedai Kebun Forum (Jogjakarta). Tur ini diadakan pada 8 – 18 November 2017, dan menampilkan footage-footage yang dikumpulkan oleh Atras di Jakarta, baik footage-nya sendiri maupun hasil dari open submission. Kami berkesempatan untuk berbincang dengan Atras mengenai tur ini.

Bagaimana awal mula Atras menggagas tur ini?

Berawal ketika lulus sidang di kampus Institut Kesenian Jakarta Februari lalu. Gue menganggap diri gue gagal kuliah di IKJ dan tugas akhir gue enggak membawa ke depan untuk karir gue. Gue enggak bisa menceritakan apa yang gue mau ketika proposal tugas akhir gue serahkan pada waktu itu, dan beberapa judul proposal ditolak mentah-mentah, termasuk proposal animasi dalam audio performance dan projek gif Jakarta. Mungkin gue enggak bisa menceritakan maksud dari projek gue apa, dan projek ini enggak masuk dalam format kurikulum pendidikan formal. Ya, namanya juga orang, ada tau dan ada juga yang belum tau bagaimana menikmati audio perfomance.

Dan lebih rusaknya lagi, gue menjalani tugas akhir selama 2 semester (umumnya 1 semester). Pada semester pertama gue di-cut secara paksa oleh beberapa dosen. Gue kecewa, padahal mereka dosen muda. Ketika gue menjalani proses asistensi, beberapa malah main game di handphone. Lalu gue harus lebih ekstra cek email. Dan yang lebih anjing lagi, gue enggak dikasih kontak dosen pembimbing gue sendiri. Gue harap itu jadi bimbingan semacam ini jadi yang terakhir, jangan sampai adik kelas kena yang seperti itu juga.

Di semester kedua, gue berlanjut bertemu dengan dosen senior di IKJ. Proses kali ini berjalan dengan baik sampai gue sidang. Tapi, selama proses menuju sidang, gue hampir kandas lagi ketika konten gue dianggap kurang bagus. Dari situ gue pikir, “Seandainya gue lulus sampe sidang, gue bakalan tur audio visual performance ke beberapa kota dengan cara gue sendiri dan melibatkan teman-teman di kota-kota tersebut.” Alhasil, itu semua jadi wacana sampai akhir tahun ini. Gue  bersyukur langsung dapat kerjaan di Jakarta, gue tabung uang itu untuk kebutuhan tur selama 2 minggu berjalan.

Hal pertama yang gue lakukan waktu itu adalah mengontak temen-temen di Semarang, Solo, Jogja, Surabaya dan Salatiga. Mereka hanya bilang “Ya udah, kamu jalan ke sini, makan minum dan nginep di tempat anak-anak aja.” Mereka membuat jadwal sendiri untuk galeri, kosongnya kapan. H-seminggu gue masih bekerja di Darmawangsa, di Tamasia Global Syariah Indonesia,  salah satu e-commerce di Jakarta. Gue minta izin untuk cuti selama 2 minggu, dan teman-teman kantor mengiyakan. Semuanya berjalan atas nama pertemanan, dan liburan berkedok tur seni,  hahahahaha…

Apa konsep yang Atras usung di tur ini? Mengingat Atras juga mengumpulkan footage dari open submission.

Jadi konsepnya sederhana, yaitu liburan, bersilaturahmi dengan teman-teman lama, dan berkolaraborasi singkat di setiap kotanya. Intinya, untuk gue pribadi, gue membutuhkan liburan,  tapi bagaimana caranya liburan gue enggak cuma diisi dengan foto-foto leyeh-leyeh aja. Teman-teman pun merespon sangat baik. Jadi gue tinggal berliburan sambil maraton artwork. Menyenangkan, semoga bisa terulang lagi.

Kenapa gue mengumpulkan footage submission? Ini lebih ke arah persuasif ke teman-teman aja, dan hasilnya mereka mendukung. Dilihat dari jumlah karya yang terkirim, tercatat ada 21 artwork.

Atras berkolaborasi dengan seniman-seniman lokal di setiap kota, bagaimana awal berkenalan dengan mereka?

Perkenalannya terbentuk dengan enggak sengaja, dari awal kuliah di IKJ pada 2011 sampai sekarang. Pertemanan ini berjalan begitu aja, tanpa ada konsep, ibarat air mengalir, bertemu dengan siapa aja sewaktu pameran bersama di Jakarta atau di luar Jakarta. Berkenalan dan bertegursapa itu yang gue lakukan sampai hari ini, lalu berlanjut mengontak via media sosial.

Bagaimana antusiasme publik setiap kota terhadap audio visual performance?

Sebenarnya gue enggak menargetkan jumah audiens yang banyak, lebih kepengin bertemu teman-teman aja. Tapi, mereka nyatanya sangat antusias, dan di luar ekspetasi gue juga. Ketika gue perform di Semarang, tiba-tiba mereka merespon gue dengan rap battle di atas roof top Impala Space. Sampai yang enggak sengaja datang juga diajak rap. Bergeser ke Salatiga, ada seniman cukup tua di sana yang tiba-tiba membacakan puisi. Ada 5 puisi yang dibaca sampai setengah jam. Lalu, masuk ke wilayah Solo, gue langsung diajak panen jamur di area belakang kampus ISI Solo. Hasil panennya langsung dimakan, buanyak banget jamurnya, dan malamnya langsung perfomance, teman-teman di sana mengadakan party di Ruang Atas.

Pindah ke Surabaya, di Duduk-Duduk Aja Creative Workshop, gue digabungkan dengan seniman distorsi dan noise asal New York dan Los Angeles. Performance-nya sampai larut saking asyiknya. Besoknya, gue langsung ke Jogja. Di sini lebih mengejutkan lagi, gue berkolaborasi langsung dengan 2 visual jockey. Satu hall di Kedai Kebun Forum penuh, sampai mengantre masuk.

Setelah tur ini gue perform di Bekasi dan Bogor. Gue sangat berterimakasih pada yang telah bantu. Malik, Adit dan teman-teman Prigel di Semarang, Alodia di Salatiga, Krebonson dan Dika di Solo, Risya dan Komen di Serbuk Kayu, teman-teman video battle, dan semuanya yang bertugas malam itu. Terimakasih juga pada Tivitivian, sampai hari kita masih jalan.

Apa cerita-cerita menarik selama menjalani tur ini?

Buanyak banget kejutannya selama dua minggu. Dari mandi di kali yang bening, sarapan seharga dua ribu, tidur pakai kaos kaki, malam-malam merasa agak takut karena harus nimba air sumur, manen jamur, dan lebih gilanya lagi, gue sebangku sama cewek “open booking” asal Purworkerto, gue diajak makan malam sama di D’cost. Semuanya merupakan sebuah cerita yang enggak akan ada habisnya, dari semua aktivitas gue, gue bisa menyimpulkan, dan sudah terbukti juga, bahwa karakter sebuah kota ditandai dengan aktivitas anak muda di kota tersebut, dengan cara pribadi, mereka bisa membuat kota itu bersuara dan berwarna.

Recent Posts

Leave a Comment

Kontak Kami

Segera dibalas ya...

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

X